Klik terakhir itu terasa lebih berat daripada menekan tombol *submit* untuk skripsi setebal tiga ratus halaman. Di layar laptop lawasku yang sudah mulai mengelupas stikernya, sebuah jendela dialog kecil muncul: *“Are you sure you want to delete all files in ‘The Ghost’ folder?”*
Aku menarik napas panjang. Udara di desa ini tidak beraroma kopi instan basi atau debu CPU yang kepanasan, melainkan bau tanah basah dan puc** teh. Jari telunjukku menekan *Enter*. Jutaan kata, ribuan argumen palsu, dan ratusan gelar sarjana yang kususun lewat jalur belakang lenyap dalam hitungan detik. Ruang penyimpanan di laptopku kembali lega, seiring dengan dadaku yang mendadak terasa ringan.
"Pak Guru Andi? Ini kapurnya habis."
Suara cempreng itu membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan mendapati seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun, rambutnya berantakan dengan bekas kecap di sudut bibir, berdiri di ambang pintu kelas yang terbuat dari papan kayu. Namanya Rio. Dia tidak peduli aku punya simpanan miliaran di rekening rahasia hasil menjoki. Baginya, aku hanyalah pria kota yang aneh yang bisa menjelaskan kenapa pelangi berbentuk melengkung tanpa perlu melihat Google.
"Ambil di laci meja saya, Rio. Dan berhenti memanggilku Pak Guru. Panggil saja Kak Andi," kataku sambil menutup laptop.
"Tapi kata Ibu, orang pintar harus dihormati. Kak Andi kan pintar sekali, lebih pintar dari Pak Kades," balasnya polos sambil meraih sekotak kapur.
Aku tersenyum tipis, sebuah senyum yang jarang muncul selama bertahun-tahun aku bersembunyi di balik identitas 'The Ghost'. Di kota, kecerdasanku adalah komoditas. Aku menjualnya kepada orang-orang seperti Ny. Ratna yang haus akan status, atau kepada mahasiswa malas yang menganggap pendidikan hanyalah selembar kertas untuk dipamerkan di LinkedIn. Di sini, di sekolah kecil yang atapnya bocor setiap kali hujan deras mengguyur lereng bukit ini, kecerdasanku adalah alat bantu. Bukan barang dagangan.
Aku melangkah ke depan kelas. Di papan tulis hitam yang sudah mulai memutih karena sisa kapur yang tak bersih, aku menuliskan satu kalimat besar: *Logika dan Kejujuran.*
Selama sebulan terakhir, aku meninggalkan apartemen mewahku di Jakarta. Aku meninggalkan semua hiruk-pikuk drama Ny. Ratna yang mengamuk saat tahu skripsinya aku tulis dengan data yang sedikit 'dimodifikasi' sebagai bentuk balas dendam haluskul—meskipun pada akhirnya aku mengirimkan versi aslinya karena nuraniku mendadak rewel. Aku juga meninggalkan Nadia.
Nadia. Bayangan wajahnya saat menemukanku di kantor konsultan palsuku masih menghantui. Dia mengira aku telah berubah menjadi pria sukses yang bermartabat, tanpa tahu bahwa pondasi kekayaanku dibangun di atas kebohongan intelektual. Keputusanku untuk pergi ke daerah terpencil ini adalah bentuk pelarian, sekaligus penebusan dosa.
"Hari ini kita tidak akan menghitung rumus yang membosankan," kataku pada sepuluh murid di depanku. "Kita akan belajar bagaimana cara mendeteksi kebohongan dalam sebuah cerita."
"Seperti detektif, Kak?" tanya Siti, anak perempuan yang paling rajin.
"Lebih dari detektif. Seperti seseorang yang tidak ingin dibodohi oleh janji-janji manis," jawabku, sedikit menyindir diriku sendiri di masa lalu.
Mengajar mereka jauh lebih sulit daripada menyusun disertasi doktoral tentang ekonomi makro. Murid-murid ini tidak punya referensi jurnal internasional. Mereka punya realita. Jika aku menjelaskan teori terlalu tinggi, mereka akan menatapku seolah aku sedang merapal mantra bahasa asing. Aku harus membumi. Aku harus belajar bicara lagi sebagai manusia, bukan sebagai mesin pengolah kata.
Siang itu, setelah kelas usai, aku duduk di teras sekolah yang merangkap sebagai perpustakaan mini. Sambil menyesap teh tawar hangat, aku memandangi hamparan lembah di bawah sana. Tidak ada kebisingan klakson, tidak ada teror pesan WhatsApp dari klien yang meminta revisi di jam dua pagi. Hanya ada suara angin yang berdesir di antara pohon pinus.
Aku merasa damai. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak merasa perlu membuktikan apa pun pada dunia. Aku tidak perlu merasa rendah diri karena masa laluku yang miskin, dan aku tidak perlu sombong karena kekayaan yang kupunya sekarang. Aku hanyalah Andi. Tanpa gelar palsu, tanpa topeng joki.
Namun, kedamaian itu terusik ketika sebuah getaran terasa di saku celanaku. Aku merogoh ponsel—perangkat yang seharusnya jarang kugunakan di sini karena sinyal yang timbul tenggelam. Ada satu pesan ma**k yang berhasil menembus barisan sinyal lemah.
Bukan dari Ny. Ratna. Bukan dari asistenku.
Itu dari Nadia.
*“Aku tahu kamu di mana, Ndi. Kamu pikir dengan lari ke kaki gunung, semua masalah selesai? Ibuku ma**k rumah sakit karena stres gara-gara urusan kampus itu, dan dia terus memanggil namamu. Bukan sebagai joki, tapi sebagai satu-satunya orang yang dia percaya untuk membereskan kekacauan ini. Dan satu lagi... aku menemukan catatan lama di laptopmu yang tertinggal. Kamu benar-benar g***, ya?”*
Aku meletakkan ponsel itu di atas meja kayu yang kasar. Jantungku berdegup kencang secara tidak teratur. Pikiranku yang biasanya sistematis mendadak berantakan. Masalahnya bukan hanya soal Ny. Ratna yang sakit, tapi kalimat terakhir Nadia. Catatan lama? Apakah itu draf tentang rencanaku memalsukan datanya? Atau surat cinta yang tak pernah kukirimkan padanya tujuh tahun lalu?
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil terdengar dari kejauhan, membelah kesunyian desa yang biasanya hanya dilewati motor bebek tua. Sebuah mobil SUV hitam mengkilap, yang tampak sangat tidak pada tempatnya di jalanan berbatu ini, perlahan mendaki tanjakan menuju sekolah.
Aku berdiri, menyipitkan mata menghalau sinar matahari sore. Mobil itu berhenti tepat di depan gerbang kayu. Pintunya terbuka, dan sesosok wanita dengan kacamata hitam besar dan pakaian yang terlalu glamor untuk udara pegunungan melangkah keluar.
Bukan Nadia. Tapi seorang wanita yang sangat kukenal sebagai sekretaris pribadi Ny. Ratna, membawa sebuah koper perak yang tampak berat.
"Mas Andi," ucapnya dengan napas terengah karena oksigen tipis di sini. "Kami butuh bantuanmu. Ini bukan lagi soal skripsi. Ini soal nyawa perusahaan."
Aku menatap koper itu, lalu menatap anak-anak desa yang melambai padaku dari kejauhan saat mereka pulang sekolah. Dunia lamaku baru saja mengetuk pintu, dan kali ini, dia tidak membawa revisi, melainkan ancaman yang jauh lebih nyata.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!