Gelar Gengsi dan Mantan Kembali: Rahasia Sang Joki

Bab 2: Bab 2 - Bertemu dengan klien barunya, Ny

Pengaturan Membaca

Sepasang sepatu kulit Oxford-ku yang baru saja disemir mengkilap memantulkan cahaya lampu gantung kristal di lobi *The Gilded Bean*. Kafe ini bukan sekadar tempat minum kopi; ini adalah ekosistem bagi mereka yang memiliki saldo rekening dengan digit tak terhingga dan waktu luang yang terlalu banyak. Wangi aroma kopi Arabika mahal bercampur dengan parfum desainer yang menyesakkan dada.

Aku merapikan kerah kemeja linenku di depan cermin besar dekat pintu ma**k. Sosok yang terpantul di sana bukan lagi Andi si mahasiswa kurus dengan tas punggung kusam dan bau matahari. Di cermin itu berdiri seorang pria berusia 26 tahun yang tampak mapan, dengan jam tangan Tag Heuer melingkar di pergelangan tangan—aset penting untuk meyakinkan klien bahwa aku tidak butuh uang mereka, padahal sebenarnya aku sangat menyukainya.

"Meja nomor dua belas atas nama Ibu Ratna," ucapku pada pelayan yang membungkuk sopan.

Ia mengantarkanku ke sudut paling privat di kafe tersebut. Dari kejauhan, aku melihat seorang wanita paruh baya yang punggungnya tegak kaku, mengenakan syal sutra Hermes yang dililitkan di leher dengan gaya yang seolah berteriak: *Aku lebih kaya darimu.*

Aku menarik napas panjang, memasang senyum profesional paling meyakinkan yang pernah kupelajari dari video tutorial kepemimpinan di YouTube.

"Selamat sore, Ibu Ratna? Saya Andi, konsultan pendidikan yang kita bicarakan di telepon," sapaku sembari mengulurkan tangan.

Wanita itu berbalik. Begitu mata kami bertemu, jantungku mendadak berhenti berdetak selama satu detik yang terasa seperti satu milenium. Pupil mataku melebar, dan aku hampir saja tersedak udara sendiri. Wajah itu. Garis rahang yang tajam, tatapan mata yang selalu merendahkan, dan tahi lalat kecil di sudut mata kanannya.

Dunia mendadak terasa lambat. Ingatanku terseret paksa ke enam tahun lalu. Ke sebuah ruang tamu megah di mana wanita ini melemparkan amplop berisi uang ke atas meja dan memintaku menjauhi putrinya karena aku 'hanya remah rengginang di toples kristal'.

Dia adalah Ratna Sugondo. Ibunya Nadia. Ibu dari mantan terindah—dan tersakit—dalam sejarah hidupku.

"Oh, Mas Andi. Silakan duduk," ucapnya dengan nada suara yang masih sama; serak-serak basah penuh wibawa, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah titah raja. Untungnya, dia tidak mengenaliku. Tentu saja tidak. Baginya, aku hanyalah sampah yang dulu pernah mencoba mendekati permata keluarganya. Siapa yang ingat wajah sampah dari enam tahun lalu saat sampah itu kini sudah dibungkus jas mahal?

Aku duduk dengan lutut yang sedikit gemetar di bawah meja marmer. Aku harus tenang. Profesionalisme adalah segalanya.

"Terima kasih, Bu Ratna. Jadi, apa yang bisa saya bantu terkait rencana studi akhir Anda?" tanyaku, berusaha menjaga suara agar tidak cempreng karena gugup.

Ratna menyesap *espresso*-nya perlahan, lalu meletakkan cangkir porselen itu dengan denting halus yang terdengar seperti lonceng kematian bagiku. "Begini, Mas Andi. Saya ini sibuk. Yayasan sosial saya sedang berkembang, dan saya sering diundang jadi pembicara. Masalahnya, lingkaran pertemanan saya di komunitas *high-society* mulai membicarakan latar belakang pendidikan saya. Mereka semua lulusan luar negeri, minimal S2. Sedangkan saya... yah, kuliah saya dulu terbengkalai karena mengurus bisnis suami."

Ia mencondongkan tubuh, aroma parfumnya yang berat menusuk hidungku. "Saya butuh gelar sarjana itu sekarang. Skripsi yang berbobot, judul yang terdengar intelek, tapi saya tidak punya waktu untuk riset tentang... apa itu namanya? Metodologi penelitian? Saya ingin semuanya beres. Dana bukan masalah."

Aku berpura-pura mencatat di tablet-ku, padahal jemariku hanya menggambar garis-garis abstrak tak beraturan. "Tentu, Bu. Kami fokus pada pendampingan intensif. Kami akan memastikan substansi penelitian Anda sesuai dengan standar akademis tertinggi. Topik apa yang Ibu minati?"

"Sesuatu yang berhubungan dengan pemberdayaan wanita sosialita dalam pengabdian masyarakat. Biar terlihat relevan dengan posisi saya sekarang," jawabnya bangga.

Aku hampir saja tertawa sinis. Pemberdayaan sosialita? Itu hanya istilah keren untuk arisan sambil pamer tas baru. Namun, otak joki-ku langsung bekerja. Aku bisa saja menuliskan sampah paling tidak ma**k akal, menyelipkan data-data palsu yang jika diuji akan membuatnya malu di depan penguji. Ini adalah kesempatan balas dendam yang sempurna.

"Ide yang luar biasa, Bu. Saya bisa menyusun kerangkanya dalam tiga hari," ucapku, memaksakan senyum ramah.

"Bagus. Saya suka kerja cepat," Ratna membuka tas kulit buayanya, mengambil sebuah ponsel lipat terbaru. "Oh, sebentar. Putri saya baru saja sampai di parkiran. Dia yang akan membantu saya mengurus teknis pertemuan kita ke depannya, karena dia lebih paham soal urusan kampus. Dia juga lulusan terbaik dari universitas itu dulu."

Darahku mendadak surut dari wajah. Paru-paruku mendadak seperti kekurangan oksigen.

"Putri... Ibu?" tanyaku dengan suara parau.

"Iya, Nadia. Kamu mungkin pernah dengar namanya? Dia sempat jadi model majalah *lifestyle* beberapa tahun lalu. Ah, itu dia!" Ratna melambai ke arah pintu ma**k.

Aku menoleh perlahan, seperti adegan *slow-motion* dalam film horor. Di sana, berjalan mendekat dengan langkah anggun yang sangat kukenali, adalah Nadia. Dia mengenakan *dress* selutut berwarna krem yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. Rambut panjangnya yang dulu sering kuelus saat kami belajar di perpustakaan kampus kini dipotong bob pendek yang modern.

Nadia berhenti tepat di samping meja. Matanya beralih dari ibunya ke arahku. Untuk sesaat, ekspresi tenangnya pecah. Tas tangan kecil yang dipegangnya hampir saja terlepas.

"Andi?" bisiknya. Suaranya masih sama. Lembut, namun kali ini mengandung getaran keterkejutan yang nyata.

Ratna mengerutkan kening, menatap kami bergantian. "Kalian sudah saling kenal?"

Aku terdiam, mematung di kursiku. Sementara itu, Nadia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—antara rasa bersalah, tidak percaya, dan sesuatu yang tampak seperti... kekaguman? Dia memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki, menyadari bahwa pria di depannya bukan lagi mahasiswa miskin yang dulu dia tinggalkan di bawah guyuran hujan.

"Kami... dulu satu kampus, Ma," jawab Nadia cepat, suaranya berusaha kembali tenang meski matanya tetap terkunci pada mataku.

Ratna tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan amplas di telingaku. "Wah, dunia sempit sekali! Berarti ini takdir. Kalau begitu, Nadia, kamu yang akan sering berhubungan dengan Mas Andi untuk urusan skripsi Mama, ya? Mas Andi ini konsultan sukses, lho. Mama beruntung bisa dapat jadwalnya."

Nadia menarik kursi di sebelah ibunya, tepat di hadapanku. Dia menatapku tajam, lalu sebuah senyum tipis—senyum yang dulu selalu berhasil membuatku melakukan apa saja untuknya—muncul di bibirnya.

"Tentu, Ma. Aku akan pastikan bekerja sama dengan sangat... *intens* dengan Andi," ucap Nadia. Ia kemudian mengulurkan tangannya di atas meja, menungguku menyambutnya. "Lama tidak bertemu, Andi. Kamu terlihat... jauh lebih sukses dari terakhir kali kita bicara di depan kosan sempitmu dulu."

Aku menelan ludah. Ini bukan lagi sekadar urusan joki skripsi. Ini adalah jebakan maut yang dibungkus dengan aroma kopi mahal. Aku harus memutuskan: melarikan diri sekarang juga, atau ma**k ke dalam permainan yang kemungkinan besar akan menghancurkan hatiku untuk kedua kalinya.

Tanganku terulur, menjabat tangan Nadia. Kulitnya masih sehalus dulu, dan sentuhan itu mengirimkan sengatan listrik yang membuat seluruh rencanaku untuk membalas dendam mendadak terasa goyah.

"Pekerjaan tetaplah pekerjaan, Nadia," sahutku dengan suara yang sengaja kubuat sedingin es. "Dan saya sangat profesional."

Nadia tidak melepaskan tangannya. Ia justru menggenggam jemariku sedikit lebih erat, sambil matanya melirik ke arah jam tangan mahalku. "Kita lihat saja nanti seberapa profesional kamu saat hanya ada kita berdua, Andi."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca