Layar monitor ultrawide di hadapanku memancarkan cahaya biru yang menerangi ruangan remang-remang ini. Di atas meja jati yang harganya bisa membayar uang semesteran satu jurusan, tiga buah laptop terbuka, masing-masing menampilkan barisan kode, dokumen PDF jurnal internasional, dan—yang paling krusial saat ini—beranda media sosial milik Ny. Ratna.
Aku menyandarkan punggung ke kursi ergonomis, memutar pulpen mahal di sela jari. Di dunia gelap perjokian skripsi, aku bukan sekadar penulis. Aku adalah analis. Aku tidak hanya menjual kata-kata; aku menjual kepastian bahwa klienku akan lulus tanpa noda. Tapi ka**s Ny. Ratna berbeda. Ini bukan tentang mahasiswa malas yang lebih suka nongkrong di kafe daripada di perpustakaan. Ini tentang seorang wanita yang tas jinjingnya seharga mobil SUV, tiba-tiba butuh selembar ijazah manajemen dalam waktu enam bulan.
"Kenapa sekarang, Tante?" gumamku pelan, menatap foto profil Instagram-nya yang penuh filter dan kilauan perhiasan.
Jemariku menari di atas keyboard. Aku mulai ma**k ke dalam "mode detektif". Sebagai joki kelas kakap, aku punya akses ke berbagai database yang tidak seharusnya disentuh orang biasa. Aku mulai membedah riwayat hidup Ratna melalui jejak digitalnya. Arisan berlian, peresmian butik, liburan ke Paris—semuanya standar sosialita papan atas. Namun, ada satu pola yang menarik perhatianku dalam tiga bulan terakhir.
Ratna mulai sering mengunggah foto-foto kegiatan sosial. Memberi makan di panti a**han (dengan riasan penuh), membagikan sembako (sambil menenteng tas Hermes), dan yang paling sering: berpose di depan kantor Yayasan Kasih Abadi.
"Yayasan Kasih Abadi," aku mengeja nama itu. Aku segera membuka tab baru dan mencari informasi mengenai organisasi tersebut.
Mataku menyipit saat membaca tajuk berita di sebuah portal berita gaya hidup elit. *'Pemilihan Ketua Baru Yayasan Kasih Abadi: Persaingan Sengit Antara Ny. Ratna dan Ny. Melinda.'*
Aku menggali lebih dalam. Yayasan Kasih Abadi bukan sekadar tempat kumpul-kumpul ibu-ibu kaya yang bosan. Itu adalah institusi bergengsi yang mengelola dana hibah miliaran rupiah dari luar negeri dan memiliki prestise politik yang luar biasa. Menjadi ketuanya berarti memegang kunci ke lingkaran terdalam kekuasaan sosial di kota ini.
Lalu, aku menemukan dokumen internal yang bocor di sebuah forum komunitas. Syarat terbaru untuk mencalonkan diri sebagai ketua yayasan: *Minimal berpendidikan Sarjana (S1) di bidang sosial atau manajemen.*
Tawaku meledak secara spontan, bergema di ruangan yang sunyi ini. "Jadi ini alasannya. Gengsi di atas segalanya."
Ternyata, selama ini Ratna hanya memiliki ijazah SMA—sesuatu yang ia tutupi dengan sangat rapi di balik tumpukan kain sutra dan emas. Rivalnya, Ny. Melinda, adalah seorang lulusan luar negeri yang terus-menerus menyindir latar belakang pendidikan Ratna di setiap pertemuan arisan. Untuk memenangkan kursi ketua, Ratna butuh gelar itu segera. Bukan untuk ilmu, tapi untuk senjata.
Aku bersedekap, menatap layar dengan perasaan campur aduk. Ada rasa puas yang aneh melihat wanita yang dulu memandangku seperti kotoran di bawah sepatunya, kini justru menggantungkan nasib "kehormatannya" di tanganku. Dulu, saat aku masih menjadi mahasiswa miskin yang hanya bisa mengajak Nadia makan di warteg, Ratna pernah berkata dengan nada dingin bahwa 'cinta tidak bisa membeli kelas'.
Sekarang, kelas yang dia dambakan sedang aku ketik di atas keyboard ini.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di sudut layar. Pesan dari Nadia. Jantungku berkhianat, berdegup lebih kencang dari yang seharusnya.
*Nadia: "Andi, Mama bilang kamu setuju bantu dia? Makasih banget ya. Aku nggak tahu harus minta tolong ke siapa lagi. Mama lagi stres banget gara-gara pemilihan yayasan itu. Boleh kita ketemu besok sore? Aku mau jelasin beberapa det**l yang mungkin Mama lupa kasih tahu."*
Aku menatap pesan itu c**up lama. Kalimatnya terasa manis, hampir sama seperti dulu saat dia masih memanggilku dengan sebutan 'Mas'. Tapi aku bukan Andi yang dulu. Andi yang dulu akan langsung melompat kegirangan. Andi yang sekarang tahu bahwa di balik kata-kata manis itu, ada kepentingan yang sedang diperjuangkan.
Risetku belum selesai. Aku beralih ke folder lain yang berisi data pribadi Ratna yang ia kirimkan sore tadi. Di sana ada transkrip nilai lama dari sebuah universitas swasta yang sudah tutup sepuluh tahun lalu. Dia pernah mencoba kuliah, tapi hanya bertahan satu semester dengan nilai yang lebih banyak huruf 'D' daripada 'B'.
"Manajemen Sumber Daya Manusia," aku membaca judul skripsi yang dia inginkan. "Ironis. Padahal dia sendiri tidak bisa mengelola harga dirinya tanpa bantuan joki."
Aku meraih ponsel, mengetik balasan singkat untuk Nadia. Aku harus menjaga profesionalisme—atau setidaknya, berpura-pura begitu.
*Andi: "Besok jam 4 sore di kafe tempat kita biasa bertemu dulu. Jangan terlambat. Waktuku mahal."*
Aku tahu menggunakan kata 'tempat biasa' adalah langkah yang berisiko. Itu memancing kenangan. Tapi aku ingin melihat reaksinya. Aku ingin tahu apakah dia masih Nadia yang dulu, atau dia sudah menjadi replika sempurna dari ibunya yang haus akan status.
Saat aku hendak mematikan komputer, sebuah email ma**k. Pengirimnya anonim, dengan subjek: *'Jangan bantu Ratna'.*
Alisku bertaut. Aku membuka email tersebut. Isinya hanya satu lampiran foto. Itu adalah foto Ratna yang sedang bersalaman dengan seorang pria di sebuah lorong gelap. Pria itu adalah dekan fakultas di universitas tempat Ratna "terdaftar" sekarang.
Di bawah foto itu ada tulisan: *'Dia bukan cuma butuh ijazah. Dia butuh kamu untuk menutupi skandal suap yang sudah dia mulai. Kalau kamu bantu dia, kamu ma**k ke lubang yang sama.'*
Aku terdiam, mematikan lampu meja. Kegelapan menyelimuti ruangan, menyisakan keremangan dari layar laptop yang masih menyala. Permainan ini ternyata jauh lebih kotor dari sekadar menyusun kata-kata di atas kertas. Ratna tidak hanya membeli gelar; dia sedang menjadikanku tameng untuk sebuah kejahatan yang lebih besar.
Satu sisi diriku berkata untuk mundur dan membatalkan semuanya. Tapi sisi lain—sisi yang penuh dendam dan haus akan drama—berbisik bahwa ini adalah kesempatan emas. Jika aku bisa menjatuhkan Ratna dari dalam, bukankah itu pembalasan yang paling manis?
Masalahnya, jika aku menghancurkan Ratna, aku juga akan menghancurkan Nadia. Dan saat aku melihat foto profil Nadia yang muncul di notifikasi ponselku sekali lagi, aku menyadari bahwa benteng sinisku mulai retak.
Apakah aku sedang melakukan riset untuk skripsi, atau aku sedang meriset cara untuk menghancurkan hidupku sendiri sekali lagi?
Aku menghela napas panjang, menutup laptop dengan satu gerakan tegas. Apapun itu, besok sore akan menjadi awal dari kekacauan yang sudah lama kunantikan. Atau mungkin, awal dari kehancuranku yang paling megah.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!