Aroma biji kopi Arabika premium memenuhi ruangan *lounge* hotel bintang lima ini, namun bagiku, bau itu kalah tajam dengan wangi parfum Chanel No. 5 yang menguar dari sosok di hadapanku. Nadia bersandar di kursi beludru, menyesap *iced latte*-nya dengan gerakan yang sangat terukur—seolah setiap gerak-geriknya adalah bagian dari audisi film romantis.
Aku menyesuaikan letak kacamata *frame* hitamku, sebuah properti yang kusadari memberiku aura intelektual sekaligus mapan. Di atas meja, sebuah jam tangan Tag Heuer—hasil dari mengerjakan tiga disertasi kedokteran dalam sebulan—melingkar sombong di pergelangan tanganku.
"Jadi, Andi..." Nadia meletakkan gelasnya. Matanya yang dulu selalu menatapku dengan sorot 'kapan-kamu-punya-motor-bagus' kini berbinar dengan rasa ingin tahu yang sangat transparan. "Mama bilang kamu sekarang sukses banget di bidang konsultan pendidikan. Aku bener-bener nggak nyangka."
Aku tersenyum tipis, jenis senyum yang kupelajari dari tokoh-tokoh antagonis di drama Korea. Dingin, misterius, dan mahal. "Dunia berputar, Nad. Kadang lebih cepat dari yang kita duga."
Nadia tertawa kecil, suara yang dulu sangat kusukai tapi sekarang terdengar seperti gesekan sterofom di telingaku. Ia memajukan tubuhnya, membiarkan rambut gelombangnya jatuh di bahu dengan sempurna. "Dulu kamu... yah, kamu tahu sendiri. Kamu terlalu idealis. Aku senang akhirnya kamu sadar kalau uang itu penting."
Tanganku yang berada di bawah meja mengepal sejenak. *Idealis?* Aku ingin tertawa keras. Dulu dia memutuskanku di depan warteg karena aku tidak mampu membelikannya tiket konser Taylor Swift, dan sekarang dia menyebut kemiskinanku sebagai 'idealisme'.
"Aku hanya menemukan celah pasar yang tepat," jawabku singkat. Aku sengaja tidak memberikan det**l. Di dunia joki, semakin sedikit yang kau katakan, semakin aman posisimu. Tapi bagi orang seperti Nadia, keiritan bicaraku dianggap sebagai tanda bahwa bisnisku sudah terlalu besar untuk dijelaskan pada orang awam.
"Mama antusias banget sama skripsinya. Kamu bimbing dia secara... privat?" Nadia menggigit bibir bawahnya, sebuah gerakan yang dulu selalu sukses membuat jantungku maraton. Sekarang, aku hanya merasa geli melihat usahanya yang begitu keras untuk memikatku kembali.
"Ibu Ratna klien yang sangat kooperatif," kataku formal. "Dia tahu apa yang dia mau: gelar sarjana secepat mungkin tanpa harus pusing dengan urusan metodologi penelitian."
"Dan kamu solusinya," Nadia menimpali dengan cepat. "Hebat ya. Dari jaman kuliah kamu memang paling jago kalau urusan nulis-nulis gitu. Tapi nggak nyangka bisa jadi perusahaan konsultan sebesar ini. Kantor kamu di mana?"
Aku menyesap espresso pahitku perlahan. "Aku lebih suka *remote*. Lebih fleksibel. Kantor pusat hanya untuk administrasi." Tentu saja, kantor pusatnya adalah kamar kos eksklusifku yang dipenuhi tiga monitor dan bungkus mi instan tersembunyi di balik lemari.
Nadia mengangguk-angguk, matanya tak lepas dari jam tanganku. Aku bisa melihat otaknya sedang bekerja, menghitung berapa nilai asetku saat ini. "Sebenarnya, Andi... aku minta ketemu hari ini bukan cuma mau bahas skripsi Mama."
Aku menaikkan sebelah alis. "Oh?"
"Aku lagi coba buka usaha *event organizer* kecil-kecilan untuk kalangan elit. Tapi aku butuh koneksi ke akademisi dan orang-orang berpendidikan tinggi untuk seminar-seminar eksklusif. Aku pikir... mungkin kita bisa kerja sama?"
Dia menyentuh punggung tanganku secara 'tidak sengaja'. Kulitnya dingin, tapi sentuhannya mengirimkan gelombang kejijikan yang aneh ke tulang belakangku. Ini adalah wanita yang sama yang tiga tahun lalu memblokir nomor teleponku hanya karena aku tidak punya mobil untuk menjemputnya saat hujan deras. Kini, dia duduk di sini, mencoba menjual pesonanya demi 'koneksi'.
"Aku sangat selektif soal rekan bisnis, Nad," kataku, menarik tanganku dengan halus untuk mengambil ponsel di meja. "Tapi, kita lihat saja nanti."
Nadia tidak menyerah. Ia memperbaiki posisi duduknya, sedikit lebih dekat. "Kamu berubah banyak ya, Andi. Kamu kelihatan lebih... berwibawa. Lebih laki-laki. Dulu kamu terlalu lembek, terlalu nurut sama aku."
"Benarkah? Mungkin karena dulu aku pikir kamu layak untuk dituruti," balasku tajam.
Suasana sempat membeku selama beberapa detik. Nadia tampak tersentak, wajahnya sedikit memucat di balik riasan *flawless*-nya. Namun, dasar sosialita yang terlatih, dia segera mengubah ekspresinya kembali manis.
"Aku tahu aku banyak salah dulu. Aku masih muda, masih impulsif," katanya dengan nada suara yang dibuat serak, seolah penuh penyesalan. "Tapi melihat kamu sekarang... aku merasa bangga. Setidaknya pilihanku untuk 'memotivasi' kamu dengan cara keras dulu berhasil, kan?"
Aku hampir tersedak espresso. Memotivasi? Dia menyebut pengkhianatan dan penghinaan sebagai motivasi? Kecerdasan joki skripsiku tiba-tiba membayangkan sebuah skenario balas dendam yang manis. Aku bisa saja memberinya harapan, membuatnya jatuh cinta lagi pada versiku yang kaya raya ini, lalu meninggalkannya tepat saat dia merasa sudah di puncak.
Tapi di sisi lain, ada kepuasan aneh melihatnya mengemis perhatian seperti ini.
"Ngomong-ngomong," Nadia merogoh tas tangan bermereknya. "Mama minta aku kasih ini ke kamu. Data tambahan untuk bab empat skripsinya. Dia bilang kamu butuh daftar riwayat hidup organisasi sosialnya untuk dima**kkan ke bagian lampiran."
Dia menyerahkan sebuah map kulit. Saat aku membukanya, sebuah foto terjatuh dari selipan dokumen. Itu foto Ny. Ratna bersama anggota geng arisannya di sebuah kapal pesiar. Semuanya memakai pakaian putih-putih, terlihat sangat angkuh dan berkelas.
"Mama ingin terlihat sangat intelektual di skripsinya, Andi. Tolong buatkan kata-kata yang sangat cerdas di bagian kesimpulan nanti, ya? Biar teman-temannya di foto itu merasa bodoh," Nadia terkekeh.
Aku menatap foto itu, lalu menatap Nadia. "Jangan khawatir. Aku akan membuat ibumu terlihat seperti peraih Nobel."
Nadia tersenyum lebar, merasa misinya berhasil. "Makasih ya, Andi. Kamu baik banget. Gimana kalau besok malam kita makan malam? Aku yang traktir. Sebagai tanda terima kasih awal."
Aku menutup map kulit itu perlahan. Di dalam kepalaku, suara pragmatis Andi yang lama berbisik: *Jangan terlibat lebih jauh, ini akan menghancurkan penyamaranmu.* Tapi sisi sinisku yang haus dendam berteriak lebih keras: *Mainkan saja, Andi. Lihat seberapa jauh dia akan merangkak.*
"Makan malam?" aku mengulang kalimatnya, memberikan jeda yang c**up lama untuk membuatnya gelisah. "Boleh. Tapi aku yang pilih tempatnya. Aku kurang suka tempat yang terlalu... biasa."
"Tentu! Apa pun buat kamu," jawabnya cepat, matanya berbinar menang.
Saat Nadia pamit dengan lambaian tangan manja dan berjalan menjauh dengan langkah yang dibuat melenggak-lenggok, aku bersandar di kursi. Aku mengeluarkan ponsel, membuka grup WhatsApp khusus para joki skripsi elit.
*Andi: "Gays, gue butuh data palsu tentang indeks kepuasan sosialita terhadap filantropi. Buatkan yang paling kelihatan ilmiah tapi isinya sampah total."*
Aku menyeringai. Nadia ingin aku menjadi sukses, dan aku akan memberikan 'kesuksesan' itu padanya. Namun, saat aku hendak menyesap kembali kopiku, ponselku bergetar. Sebuah pesan ma**k dari nomor tidak dikenal.
*“Konsultan Pendidikan, ya? Nama yang bagus untuk seorang joki yang pernah hampir dikeluarkan dari kampus karena ketahuan ngerjain tugas dosennya sendiri. Berapa harga yang pantas supaya rahasia ini nggak sampai ke telinga Ny. Ratna?”*
Darahku mendesir dingin. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru *lounge*, namun hanya ada wajah-wajah asing yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Seseorang di ruangan ini, atau mungkin seseorang yang memantauku sejak tadi, tahu persis siapa aku sebenarnya. Dan saat mataku kembali tertuju pada map kulit pemberian Nadia, aku menyadari satu hal: permainan ini baru saja berubah dari sekadar ajang balas dendam menjadi pertaruhan nyawa karierku.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!