Lampu gantung kristal di restoran *rooftop* ini berdentang halus setiap kali angin malam Jakarta berembus melewati celah ventilasi. Cahaya lilin di tengah meja memantul di permukaan gelas wine kristal, menciptakan pendaran yang seharusnya romantis bagi siapa pun, kecuali aku. Di hadapanku, Nadia duduk dengan gaun satin berwarna *emerald* yang melekat sempurna di tubuhnya, memancarkan aura kemewahan yang dulu hanya bisa kubayangkan melalui layar ponsel bututku.
Aku membetulkan letak jam tangan *Patek Philippe* palsu—tapi dengan kualitas replika tingkat dewa—yang melingkar di pergelangan tanganku. Kerah kemeja sutra ini mulai terasa mencekik, bukan karena ukurannya yang salah, tapi karena beban kebohongan yang kupikul.
"Tempat ini mengingatkanku pada sesuatu," suara Nadia memecah keheningan, lembut namun tajam seperti denting sendok perak pada piring porselen. "Tapi tentu saja, versinya jauh lebih berkelas. Dulu, 'dia' hanya bisa membawaku makan martabak di pinggir jalan dengan asap knalpot sebagai aromaterapinya."
Aku tersenyum tipis, jenis senyum profesional yang kulatih di depan cermin agar terlihat seperti pria sukses yang penuh empati. "Terkadang, kenangan sederhana punya tempat tersendiri, bukan?"
Nadia tertawa kecil, suara yang dulu pernah menjadi musik favoritku, kini terdengar seperti gesekan biola yang salah nada. "Sederhana? Tidak, Adrian—bolehkah aku memanggilmu Adrian saja? Rasanya terlalu kaku jika terus memanggilmu 'Konsultan'."
"Tentu," jawabku singkat. Adrian adalah nama panggungku. Nama yang bersih, tanpa noda kemiskinan, dan tanpa sejarah sebagai tukang ketik skripsi bayaran di kosan sempit yang bau mi instan.
Nadia menopang dagunya, menatapku intens. "Kau tahu, Adrian, kau punya tatapan mata yang sama dengannya. Tapi perbedaannya sangat kontras. Kau bicara tentang investasi, tentang kurikulum internasional, tentang visi masa depan. Sementara dia... dia hanya bicara tentang bagaimana cara bertahan hidup sampai akhir bulan."
Aku menyesap wine-ku, merasakan cairan dingin itu melewati tenggorokan yang terasa kering. "Mungkin dia hanya sedang berjuang."
"Berjuang tanpa hasil itu melelahkan untuk ditonton," sahut Nadia cepat, ada nada meremehkan yang tidak disembunyikannya. "Namanya Andi. Seorang pria yang baik, sebenarnya. Tapi, kau tahu kan? Kebaikan tidak bisa membayar tagihan di butik. Dia terlalu terjebak dalam dunianya yang sempit. Dia tidak punya ambisi. Dia seperti... pecundang yang puas dengan remah-reman."
Aku merasakan rahangku mengeras. Kata 'pecundang' itu menghantam tepat di ulu hati. Aku ingin sekali berteriak bahwa 'remah-remah' yang dia maksud adalah hasil kerja kerasku begadang mengerjakan tugas-tugas kuliah teman-temannya agar aku bisa membelikannya kado ulang tahun.
"Lalu, kenapa kau mengajakku makan malam untuk membicarakan seorang 'pecundang'?" tanyaku, mencoba menyelipkan nada bercanda untuk menutupi rasa sakit yang tiba-tiba berdenyut kembali.
Nadia mencondongkan tubuhnya ke depan, jemarinya yang lentur dengan kuku merah darah merayap di atas meja, nyaris menyentuh tanganku. "Karena melihatmu membuatku sadar betapa jauhnya aku telah melangkah. Melihat kesuksesanmu, caramu berpakaian, caramu memesan makanan tanpa melihat harga... itu mengingatkanku pada apa yang seharusnya aku dapatkan sejak dulu. Kau adalah versi 'Andi' yang seharusnya. Andi yang sudah dipoles, yang punya harga diri, yang punya kelas."
Dia membandingkanku dengan diriku sendiri, dan ironisnya, dia menghina asliku untuk memuja palsuku.
"Kau tampak sangat membencinya," pancingku.
"Bukan benci," Nadia mengoreksi dengan senyum manis yang tidak sampai ke mata. "Hanya merasa kasihan. Terakhir kali aku dengar, dia menghilang entah ke mana. Mungkin masih menjadi buruh ketik atau semacamnya di gang sempit. Bayangkan, Adrian, jika aku masih bersamanya, aku mungkin sekarang sedang pusing memikirkan cicilan motor, bukan sedang menikmati *wagyu* bersamamu."
Aku memotong daging steak di piringku dengan tekanan yang sedikit lebih kuat dari biasanya. Pisau itu berdecit pelan di atas piring. Di kepalaku, aku sedang menghitung berapa banyak skripsi mahasiswa kedokteran yang harus kuselesaikan untuk membayar seluruh penampilan 'Adrian' malam ini.
"Dunia bisa berubah, Nadia," kataku pelan. "Orang yang kau sebut pecundang itu mungkin saja sedang membangun kerajaan yang tidak bisa kau lihat."
Nadia tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat merendahkan. "Oh, Adrian. Kau terlalu puitis. Orang seperti Andi tidak punya kapasitas untuk itu. DNA-nya adalah DNA orang susah. Dia tidak punya 'api' yang kau miliki. Kau punya aura pemenang, sementara dia... dia punya aura beban."
Aku meletakkan pisau dan garpuku. Nafsu makanku hilang seketika, menguap bersama asap dari steak yang mulai mendingin. Rasa ingin balas dendam yang tadinya hanya sebatas rencana di atas kertas skripsi ibunya, kini mulai berdenyut menjadi sesuatu yang lebih nyata dan personal.
"Kau tahu apa yang menarik dari orang yang tidak punya apa-apa?" tanyaku, menatap matanya dalam-dalam.
Nadia menaikkan sebelah alisnya, tampak tertarik. "Apa?"
"Mereka tidak punya ketakutan untuk kehilangan apa pun. Dan itu membuat mereka menjadi orang yang paling berbahaya di dunia."
Nadia tampak tertegun sejenak, mungkin bingung dengan perubahan nada suaraku yang tiba-tiba menjadi dingin dan tajam. Namun, sedetik kemudian, dia kembali ke mode menggoda. Dia meraih tanganku, kali ini benar-benar menggenggamnya. Kulitnya dingin, kontras dengan emosiku yang mendidih.
"Mungkin itu sebabnya aku sangat tertarik padamu sejak awal pertemuan kita di rumah Mama," bisiknya. "Kau punya sisi misterius itu. Sesuatu yang membuatku ingin tahu lebih dalam... apa yang sebenarnya kau sembunyikan di balik jas mahal ini."
Tepat saat itu, ponselku yang terletak di atas meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar. Aku meliriknya sekilas. Pesan itu dari Ny. Ratna, ibu Nadia.
*“Andi, saya sudah transfer uang muka untuk bab kedua. Tapi saya punya permintaan khusus. Bisakah kita bertemu tanpa sepengetahuan Nadia? Ada sesuatu tentang masa lalu keluarga kami yang tidak boleh dia ketahui, tapi harus ada dalam skripsi ini sebagai bagian dari 'studi ka**s' terselubung saya.”*
Aku menarik tanganku dari genggaman Nadia, sebuah senyum sinis yang sebenarnya mulai tersungging di sudut bibirku. Permainan ini menjadi jauh lebih menarik dari yang kubayangkan.
"Ada apa? Dari siapa?" tanya Nadia, matanya mencoba mengintip layar ponselku.
Aku membalikkan ponselku dengan tenang. "Hanya klien yang tidak sabaran. Biasalah, orang-orang kaya selalu ingin semuanya selesai kemarin."
Nadia mendengus pelan, kembali menyandarkan tubuhnya di kursi. "Jangan biarkan mereka merusak malam kita. Jadi, setelah ini... kau mau ke mana? Aku tahu sebuah bar yang sangat privat. Tidak akan ada 'Andi-Andi' lain di sana yang akan merusak pemandangan."
Aku menatapnya, menyadari bahwa wanita di depanku ini tidak pernah benar-benar mencint**ku, baik dulu maupun sekarang. Dia hanya mencint** bayangan kesuksesan yang bisa dipamerkannya pada dunia.
"Tentu," jawabku dengan suara yang paling meyakinkan. "Tapi sebelumnya, aku harus ke toilet sebentar."
Aku berdiri, meninggalkan Nadia yang sibuk memoles lipstiknya di meja. Begitu aku ma**k ke dalam toilet yang berlapis marmer itu, aku mencuci mukaku dengan air dingin. Aku menatap pantulan diriku di cermin. Adrian yang sukses, atau Andi si joki?
Aku mengambil ponselku, dan mengetik balasan untuk Ny. Ratna: *“Tentu, Ny. Ratna. Kita bertemu besok siang. Saya punya beberapa ide 'studi ka**s' yang akan membuat skripsi Anda—dan gengsi keluarga Anda—menjadi pembicaraan seluruh kota.”*
Aku mematikan layar ponsel, merapikan jas, dan melangkah keluar dengan senyum yang jauh lebih lebar. Jika Nadia ingin melihat versi 'Andi' yang paling berbahaya, maka aku akan memberikannya sebuah pertunjukan yang tidak akan pernah dia lupakan. Pertunjukan di mana dia bukan lagi penonton, melainkan bidak yang akan kujatuhkan.
Namun, saat aku kembali ke meja, aku melihat Nadia sedang memegang kartu identitasku yang terjatuh dari saku jasku di bawah meja. Wajahnya memucat, dan matanya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Andi...?" gumamnya, suaranya bergetar saat dia membaca nama asli yang tertera di sana.
Jantungku berdegup kencang. Sial. Penyamaranku terancam berakhir lebih cepat dari rencana.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!