Lampu meja kerja saya berpendar redup, melemparkan bayangan panjang di atas tumpukan jurnal sosiologi yang sebenarnya terlalu berat untuk kapasitas otak Ny. Ratna. Di hadapan saya, dua monitor melengkung menampilkan draf Bab 3 skripsi berjudul *“Analisis Stratifikasi Sosial dan Pengaruh Konsumsi Barang Mewah terhadap Validasi Diri Masyarakat Urban.”* Judul yang sangat mentereng, sangat 'Ratna banget'.
Saya menyandarkan punggung ke kursi ergonomis seharga motor bekas, memutar pulpen di antara jemari dengan ritme yang gelisah. Di luar, hujan rintik membungkus Jakarta, tapi di dalam ruangan ini, suasananya jauh lebih dingin.
"Gelar gengsi, ya?" gumam saya sinis.
Tangan saya mulai menari di atas keyboard. Namun, kali ini bukan logika metodologi yang saya ketikkan. Saya mulai mema**kkan data-data yang, jika dibaca oleh akademisi waras mana pun, akan dianggap sebagai lelucon paling brutal abad ini.
Saya menciptakan sebuah koefisien baru: *The Arisan Coefficient*. Saya mengetik dengan penuh konsentrasi, menciptakan korelasi palsu antara jumlah tas Hermes yang dimiliki dengan tingkat kecerdasan emosional yang berbanding terbalik. Saya mema**kkan grafik-grafik indah—hasil manipulasi mentah—yang menunjukkan bahwa semakin sering seseorang melakukan 'Instastory' di restoran bintang lima, semakin tinggi risiko degradasi sel otak dalam memahami empati sosial.
Ini adalah bentuk balas dendam yang puitis. Saya membayangkan Ratna berdiri di depan dewan penguji, membusungkan dada dengan perhiasan berliannya, lalu mempresentasikan data sampah ini dengan penuh percaya diri. Dia akan menjadi bahan tertawaan di lingkaran akademis, meskipun mungkin teman-teman sosialitanya akan menganggap itu sebagai penemuan revolusioner.
Namun, saat jari saya akan menekan tombol *save*, sebuah sensasi dingin merayap di tengkuk saya.
Saya adalah Andi. 'Sang Joki' dengan rekam jejak tanpa cela. Saya telah meluluskan ratusan mahasiswa, mulai dari yang malas sampai yang benar-benar tidak punya otak, dengan nilai A yang berkilau. Nama saya—atau setidaknya reputasi bayangan saya—adalah jaminan mutu. Jika data palsu ini bocor, jika ada penguji yang c**up jeli untuk menelusuri sumber data ini dan entah bagaimana benang merahnya ditarik ke 'Konsultan Pendidikan' sukses bernama Andi, semuanya akan tamat.
"Sial," umpat saya pelan, menyugar rambut dengan frustrasi.
Saya menatap layar. Ego saya berteriak untuk menghancurkan Ratna. Wanita itu dulu memandang saya seolah saya adalah kuman di sepatunya saat saya mendekati Nadia. Dia adalah alasan utama Nadia—dengan segala keraguannya waktu itu—akhirnya memilih untuk melepaskan tangan saya demi pria yang 'lebih menjanjikan'.
Sekarang, si 'pria menjanjikan' itu entah ke mana, dan Ratna datang menyembah-nyembah pada saya, tidak menyadari bahwa joki mahal yang ia sewa adalah pemuda miskin yang dulu ia usir dari teras rumahnya.
Tiba-tiba, ponsel saya bergetar di atas meja. Sebuah pesan WhatsApp ma**k.
*Nadia: "Andi, kamu sibuk? Mama bilang drafnya mau selesai ya? Makasih banyak ya udah bantu Mama. Aku nggak tahu lagi harus minta tolong ke siapa yang seprofesional kamu."*
Saya menatap pesan itu lama. "Profesional," kata itu berdenyut menyakitkan di kepala saya. Nadia menganggap saya profesional. Dia melihat saya sebagai pria yang telah 'jadi', seseorang yang mampu ia banggakan sekarang. Jika saya mema**kkan data palsu ini, saya bukan lagi profesional. Saya hanya seorang mantan yang sakit hati dan picik.
Tapi, rasa perih di dada saya saat mengingat kata-kata Ratna enam tahun lalu kembali membuncah. *“Kamu mau kasih makan apa anak saya? Kertas skripsi?”*
Gigi saya bergemeletuk. Saya menghapus paragraf tentang koefisien arisan, tapi tidak menggantinya dengan data asli. Saya justru mema**kkan data yang jauh lebih halus, namun fatal. Saya menyisipkan referensi dari jurnal-jurnal fiktif yang saya buat namanya agar terdengar sangat ilmiah namun sebenarnya tidak ada di database mana pun. Saya mengubah angka responden dari 100 orang menjadi 1.000 orang dengan deviasi standar yang secara matematis tidak mungkin terjadi, namun terlihat sangat meyakinkan bagi mata orang awam.
Ini adalah bom waktu yang tersembunyi di balik kata-kata akademis yang elegan.
"Oke, Ny. Ratna. Mari kita lihat seberapa tinggi gengsimu bisa terbang sebelum mesinnya meledak," bisik saya.
Tangan saya gemetar sedikit saat mengklik ikon amplop untuk mengirimkan draf itu ke email Ratna. Setiap detak jantung saya terasa seperti ketukan palu hakim. Sebagian dari diri saya ingin menarik kembali draf itu, berteriak bahwa ini akan menghancurkan reputasi yang saya bangun dengan cucuran keringat dan tipu muslihat yang cerdik selama bertahun-tahun. Jika satu saja profesor teliti menemukan kejanggalan ini, mereka akan mulai menggali. Dan jika mereka menggali terlalu dalam, mereka akan menemukan liang lahat karier saya.
*Klik.*
*Sent.*
Saya menyandarkan kepala ke sandaran kursi, memejamkan mata rapat-rapat. Ruangan terasa mendadak sempit. Oksigen seolah menipis. Saya baru saja mempertaruhkan seluruh kerajaan bayangan saya demi sebuah kepuasan dendam yang mungkin akan terasa hambar.
Tiba-tiba, ponsel saya berbunyi lagi. Bukan pesan teks, tapi pangg***n telepon. Nama yang muncul di layar membuat jantung saya seolah berhenti berdetak.
*Ny. Ratna.*
Saya menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suara. "Halo, Ibu Ratna?"
"Andi! Saya baru saja terima notifikasinya di HP," suara Ratna terdengar melengking, penuh kegembiraan yang dibuat-buat. "Luar biasa cepat ya! Nadia nggak salah puji kamu. Katanya kamu itu jaminan mutu. Eh, besok siang kita makan siang bareng ya? Saya mau ajak Nadia juga. Kita bahas draf ini sekalian merayakan 'hampir sarjana'-nya saya. Kamu harus datang, ya! Di restoran Perancis biasa, jam satu."
Saya terdiam. Keringat dingin mulai membasahi kening. Makan siang? Membahas draf yang baru saja saya racuni?
"Andi? Kamu masih di sana, kan?"
"I-iya, Bu. Saya... saya usahakan hadir," jawab saya terbata.
Begitu telepon ditutup, saya melempar ponsel ke atas meja. Si****. Jika mereka ingin membahas draf itu secara mendalam besok, dan Ratna mulai menanyakan det**l data yang saya buat-buat, saya harus berbohong di depan Nadia. Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika Nadia, yang sebenarnya c**up pintar, mulai menyadari ada yang tidak beres dengan logika penelitian ibunya?
Saya menatap layar monitor yang masih menampilkan draf Bab 3 tersebut. Tulisan itu sekarang tampak seperti surat kematian bagi saya sendiri. Saya harus memilih: ma**k ke sarang singa besok dan berpura-pura semuanya normal, atau mencari cara untuk menarik kembali email itu sebelum Ratna sempat membacanya lebih jauh.
Namun, sebuah notifikasi baru muncul di pojok kanan bawah layar komputer saya. *Email Read Receipt: Ratna_Sosialita@yahoo.com has read your message.*
Darah saya terasa berdesir dingin. Dia sudah membacanya. Permainan ini sudah dimulai, dan tidak ada tombol *undo* untuk kehancuran yang mungkin baru saja saya undang ke depan pintu rumah saya sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!