Peluh mulai merayap di sepanjang tengkukku, terjebak di balik lilitan kain khimar yang menjunt** hingga ke pinggang. Di bawah sinar matahari sore yang masih menyengat, kain ceruti ini terasa seperti ribuan jarum kecil yang menusuk pori-pori. Aku membetulkan letak tas bahuku, berusaha tidak meringis saat tali tas itu menekan pundakku yang sudah pegal luar biasa.
"Ameera! Tunggu sebentar!"
Aku menghentikan langkah di selasar fakultas, memaksakan seulas senyum tipis yang selalu dianggap orang sebagai bentuk kesantunan. Sarah berlari kecil menghampiriku dengan napas terengah.
"Ya Allah, Ra, kamu kok nggak capek-capek, sih? Masih kelihatan segar dan rapi begini padahal kita habis kuis dua jam," ujar Sarah sambil mengipasi wajahnya dengan buku catatan. Ia menatapku dengan binar kagum yang sudah biasa kuterima, namun selalu membuat dadaku sedikit berdenyut perih. "Aku rasanya mau copot saja jilbab ini kalau lagi panas begini. Tapi kamu... benar-benar definisi muslimah tangguh ya."
Aku hanya terkekeh rendah, sebuah respon otomatis yang sudah terlatih. "Hanya kebiasaan saja, Sar. Lagipula, kalau hati tenang, badannya jadi ikut adem, kan?"
Kebohongan itu meluncur begitu lancar dari bibirku. Padahal, di balik gamis longgar yang menyamarkan lekuk tubuh ini, aku merasa seolah sedang dipa**ng. B** berkawat yang sengaja kupilih dengan ukuran satu nomor lebih kecil—untuk menekan dan menyembunyikan volume dadaku agar tidak menonjol—terasa mencekik. Besinya seolah menggali ma**k ke tulang rusukku, dan keringat yang terjebak di sana mulai menimbulkan rasa gatal yang tak tertahankan.
"Besok jangan lupa ya, rapat LDK jam sembilan," Sarah mengingatkan sebelum kami berpisah di persimpangan menuju gerbang kampus. "Tanpa kamu, diskusi kita nggak akan berbobot, Ra."
"Insya Allah, Sar. Aku usahakan datang tepat waktu."
Aku melambaikan tangan, lalu mempercepat langkah. Setiap ayunan kakiku adalah perjuangan melawan gravitasi dan rasa sesak yang kian memuncak. Begitu mencapai gerbang kosan, aku mengangguk sopan pada penjaga gerbang, mempertahankan citra Ameera yang anggun dan santun. Namun, begitu kakiku menapak di anak tangga menuju lant** dua, topeng itu mulai retak.
Tanganku merogoh kunci kamar dengan gemetar. Begitu pintu kayu itu tertutup dan kunci kuputar dua kali, aku menyandarkan punggung ke pintu. Sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding dan dengung kipas angin kecil di sudut ruangan.
Aku tidak langsung menyalakan lampu. Dalam remang sore yang menyelinap dari celah gorden, aku mulai menanggalkan satu per satu 'perisai' yang kupakai seharian.
Lilitan khimar itu kulepas, membiarkan rambut hitamku yang lembap oleh keringat jatuh terurai. Rasanya seperti baru saja melepas beban sepuluh kilogram dari kepalaku. Kemudian, kancing-kancing gamisku kubuka dengan tergesa. Kain berat itu jatuh ke lant**, meninggalkanku hanya dengan pakaian dalam yang menyiksa itu.
Aku menarik napas panjang, lalu perlahan membuka pengait di belakang punggungku.
*Klik.*
"Hah..."
Sebuah desah lega yang panjang lolos dari tenggorokanku. Begitu kain ketat itu terlepas, sensasi aliran darah yang kembali lancar terasa seperti sengatan listrik yang menyenangkan. Aku memijat lembut pundakku yang meninggalkan bekas merah keunguan akibat tali b** yang terlalu kencang. Dada yang selama ini kupaksa untuk tampak 'rata' atau setidaknya 'biasa saja' di hadapan publik, kini membusung bebas tanpa tekanan.
Aku berjalan menuju cermin besar di sudut kamar, satu-satunya saksi bisu atas kenyataan yang kusembunyikan rapat-rapat. Aku menyalakan lampu meja yang temaram. Di sana, terpantul sosok yang sangat berbeda dengan Ameera yang tadi disapa Sarah di kampus.
Aku hanya mengenakan tank top sutra tipis yang longgar. Kainnya yang dingin membelai kulitku yang panas. Aku melihat ke dalam cermin; ke arah bahu yang lelah, ke arah lekuk tubuh yang secara genetis memang lebih menonjol daripada rata-rata perempuan seusiaku. Bagi orang lain, mungkin ini adalah anugerah. Bagiku, ini adalah beban yang harus kusembunyikan di bawah lapisan-lapisan kain lebar demi menjaga standar moralitas yang diletakkan masyarakat di pundakku.
Di kamar ini, aku bukan lagi mahasiswi teladan. Aku bukan lagi aktivis dakwah yang suci. Aku hanya Ameera, seorang perempuan dua puluh satu tahun yang hanya ingin bernapas tanpa merasa sesak.
Aku merebahkan tubuh di atas ranjang yang spreinya terasa sejuk. Tanganku merentang lebar. Di sinilah satu-satunya tempat aku merasa aman. Di sini, tidak ada yang akan menghakimiku jika aku memakai pakaian yang menonjolkan bentuk tubuhku. Di sini, aku tidak perlu takut dianggap 'mengundang syahwat' hanya karena anatomi tubuh yang tidak bisa kupilih.
Aku memejamkan mata, membiarkan rasa kantuk mulai merayap akibat kelelahan fisik dan mental yang terkuras habis. Pikiranku mulai melayang pada jadwal rapat besok, pada tumpukan tugas analisis data yang belum selesai, dan pada senyum Sarah.
Tiba-tiba, suara notifikasi ponsel di atas nakas memecah keheningan. Aku meraba-raba benda pipih itu tanpa membuka mata sepenuhnya. Mungkin Sarah mengirimkan pesan tambahan tentang rapat besok.
Namun, saat layar menyala, kantukku hilang seketika. Jantungku seperti berhenti berdetak selama satu detik yang sangat panjang.
Bukan pesan dari Sarah. Melainkan sebuah notifikasi dari akun anonim di platform media sosial kampus yang terkenal sering menyebarkan gosip dan pengakuan rahasia.
Judul unggahannya singkat, namun c**up untuk membuat seluruh duniaku terasa runtuh: *“Dibalik Hijab Lebar Sang Panutan: Siapa Sangka Ameera Suka Pamer di Balik Pintu?”*
Tanganku gemetar hebat saat aku menyentuh notifikasi itu. Layar memuat sebuah gambar. Gambar yang diambil dari sudut yang sangat kukenali. Dari arah jendela kamarku yang gordennya—ya Tuhan, aku baru sadar—sedikit terbuka di bagian sudut bawah karena tertiup angin kipas.
Di foto itu, aku sedang berdiri di depan cermin. Tanpa hijab. Tanpa gamis. Hanya dengan pakaian dalam yang baru saja kulepas setengah, memperlihatkan separuh punggung dan sisi dadaku yang selama ini kusembunyikan dengan penuh penderitaan.
Darahku terasa membeku. Ruangan yang tadinya terasa seperti surga, mendadak berubah menjadi penjara yang sangat sempit. Aku menoleh perlahan ke arah jendela. Di luar sana, kegelapan malam mulai turun, dan aku merasa seolah ada ribuan mata yang kini sedang menatapku dari balik bayang-bayang.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!