Layar laptop di hadapanku berpendar redup, memantulkan bayangan wajahku yang tampak pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata. Jari-jariku gemetar saat menggerakkan kursor, menelusuri setiap inci foto terkutuk yang telah menghancurkan hidupku dalam empat puluh delapan jam terakhir. Foto itu diambil dari sudut tinggi, menangkap momen ketika aku baru saja melepas jilbab dan mengenakan kaus tipis bertali duaβpakaian yang hanya berani kukenakan saat mengunci diri di kamar demi meredakan sesak di dadaku.
Aku memperbesar gambar itu hingga pecah menjadi kotak-kotak piksel. Mataku menyipit, mencari sesuatu yang terlewatkan oleh ribuan pasang mata netizen yang hanya fokus menghakimiku. Di pojok kiri bawah, pada pantulan cermin riasku, aku melihat sesuatu yang asing. Ada bintik cahaya kecil, sebuah pantulan lensa yang datang dari celah ventilasi di atas jendela kamarku.
Ventilasi itu tidak menghadap ke jalan raya, melainkan ke koridor sempit yang berbatasan langsung dengan balkon kos sebelah.
Jantungku berdegup kencang, menghantam dinding dada dengan ritme yang menyakitkan. Aku berdiri, menyambar kerudung instanku, dan melangkah keluar kamar. Udara di lorong kos terasa dingin dan menekan. Setiap pintu kamar yang kulewati seolah menyimpan bisikan sinis. Aku tahu, di balik kayu-kayu itu, penghuninya sedang membicarakanku. Si mahasiswa teladan yang ternyata 'jalang'.
Aku menuju area dapur bersama, tempat biasanya sampah-sampah besar dikumpulkan sebelum dibuang ke depan. Tanganku mengaduk-aduk tumpukan plastik hitam dengan perasaan jijik yang kalah oleh rasa penasaran yang membakar. Di sana, di dalam kantong plastik yang baru saja diletakkan, aku menemukan sesuatu yang membuat nafasku tertahan: sebuah bungkus kemasan lensa kamera *spy-point* dan struk pembelian atas nama yang sangat kukenal.
Sari. Penghuni kamar 2B, tepat di sebelah kamarku.
Belum sempat aku mencerna kenyataan itu, suara tawa kecil terdengar dari arah teras belakang. Aku bersembunyi di balik pilar beton, menahan napas hingga dadaku terasa perih.
"Sudah kubilang, kan? Dia itu cuma akting. Hijab lebar cuma buat nutupin aslinya," suara itu milik Sari. Nada bicaranya yang biasanya lembut dan malu-malu kini terdengar tajam dan penuh kemenangan.
"Tapi kau yakin ini c**up buat menggugurkan pencalonannya di pemilihan Mahasiswa Berprestasi?"
Suara kedua itu membuat darahku mendidih. Itu suara Yoga, rival terberatku di organisasi sekaligus kandidat utama yang selalu berada di bawah bayang-bayang nilaiku.
"Lebih dari c**up, Ga," Sari tertawa lagi, suara yang biasanya terdengar tulus kini terdengar seperti gesekan amplas di telingaku. "Dosen-dosen itu kolot. Begitu mereka lihat foto 'Ameera yang Suci' ini dalam kondisi seperti itu, beasiswa unggulannya bakal dicabut. Dan kau? Kau jadi satu-satunya pilihan yang tersisa. Jangan lupa janjimu, ya. Laptop baru setelah kau menang."
Aku melangkah keluar dari bayang-bayang pilar. Tanganku mengepal kuat hingga kuku-kukuku menancap di telapak tangan, menciptakan rasa perih yang nyata. Wajah mereka berdua memucat seketika saat melihatku berdiri di sana dengan struk pembelian di tangan kananku.
"Jadi, cuma ini?" suaraku keluar lebih rendah dan dingin dari yang kubayangkan. "Cuma karena posisi itu? Cuma karena laptop?"
Sari tergagap, mencoba menyembunyikan ponsel di balik punggungnya. "Ameera... aku... ini tidak seperti yang kau dengar."
"Aku mendengar semuanya, Sari. Setiap kata," aku melangkah maju, memangkas jarak. Rasa takut yang selama dua hari ini mengurungku mendadak luruh, digantikan oleh kemarahan murni yang terasa panas di tenggorokan. "Aku menganggapmu teman. Aku sering membagikan makananku padamu saat kau bilang kiriman orang tuamu terlambat. Dan kau? Kau mengintip ke dalam privasiku, ke dalam ruang paling aman yang kupunya, hanya untuk sebuah persaingan akademik?"
Yoga mencoba menengahi, wajahnya yang tampan kini tampak menjijikkan di mataku. "Meera, dengar dulu. Kita bisa bicarakan ini secara kekeluargaan. Jangan emosi."
"Kekeluargaan?" aku tertawa sumbang, sebuah suara yang terdengar asing bagi diriku sendiri. "Kalian menghancurkan reputasiku, membuatku dikuliti di media sosial, membuat orang tuaku malu, dan kau bicara soal kekeluargaan? Di mana nurani kalian saat menekan tombol *upload* itu?"
Aku menatap Sari yang kini mulai menangisβair mata buaya yang tidak lagi mempan bagiku. Mataku beralih ke Yoga, yang masih berusaha mempertahankan sisa-sisa wibawanya.
"Kau begitu takut kalah bersaing secara sehat sampai harus merangkak di lubang ventilasi seperti tikus, Yoga?" tanyaku dengan nada menghina. "Padahal aku selalu menghargaimu sebagai lawan yang cerdas. Ternyata aku salah. Kau cuma pecundang yang butuh bantuan pengint** untuk menang."
"Tutup mulutmu, Ameera! Kau tetap saja salah karena sudah berpenampilan seperti itu di belakang kamera!" Yoga membentak, mencoba menyerang balik. "Kau itu munafik!"
Kalimat itu bagai bensin yang disiram ke api. Aku maju selangkah lagi, menatapnya tepat di manik mata. "Apa yang kukenakan di dalam privasi kamarku bukan urusanmu, bukan urusan kampus, dan bukan urusan dunia. Itu hakku atas tubuhku sendiri. Tapi apa yang kalian lakukan? Itu tindakan kriminal. Itu pelanggaran privasi dan pencemaran nama baik."
Aku mengangkat struk pembelian itu tinggi-tinggi, lalu menunjukkan layar ponselku yang sudah dalam mode merekam sejak aku keluar dari balik pilar tadi. Wajah Yoga yang semula merah padam langsung berubah menjadi abu-abu.
"Aku punya bukti pembelian alat itu, dan aku punya rekaman pengakuan kalian baru saja," ucapku dengan suara bergetar karena menahan gejolak emosi. "Kalian pikir aku akan diam dan menangis di pojok kamar sampai kalian puas melihatku hancur?"
Aku memutar tubuh, berniat pergi dari tempat terkutuk itu. Namun, langkahku terhenti saat Sari tiba-tiba bersimpuh, memegang ujung gamisku dengan erat.
"Tolong, Ameera! Jangan lapor polisi! Kalau ini sampai ke telinga dekan, aku akan dikeluarkan! Aku beasiswa, Meera, tolong..."
Aku menatap tangannya yang gemetar di kain gamisku. Rasa iba yang biasanya muncul otomatis dalam diriku kini terasa tumpul. Aku menarik kainku dengan sentakan keras, membuat Sari terjerembap ke lant** semen.
"Kau tidak memikirkan masa depanku saat menyebarkan foto itu, Sari. Kenapa sekarang aku harus memikirkan masa depanmu?"
Aku melangkah pergi menuju gerbang kos, namun sebuah pikiran tiba-tiba menyergapku. Jika mereka bisa melakukan ini, siapa lagi yang terlibat? Dan apakah bukti ini c**up untuk membersihkan namaku di mata ribuan orang yang sudah terlanjur meludahi citraku?
Saat aku sampai di depan pintu gerbang, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depanku. Kaca jendelanya turun perlahan, menampakkan sosok yang paling tidak ingin kulihat dalam situasi seperti ini. Seseorang yang memegang kunci lain dari masa depanku di kampus ini.
"Ameera? Ma**klah. Kita perlu bicara sebelum pihak rektorat mengambil keputusan final besok pagi."
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!