Cahaya biru dari layar ponsel memantul di pupil mataku, terasa perih dan menusuk. Di luar, hujan rintik-rintik mulai membasahi kaca jendela kamar kosku yang sempit, menciptakan irama monoton yang biasanya menenangkan, namun malam ini terdengar seperti hitungan mundur menuju penghakiman. Sudah tiga hari aku mengurung diri. Tiga hari aku membiarkan diriku tenggelam dalam lautan narasi yang disusun orang lain tentang siapa aku sebenarnya.
Tanganku gemetar saat jemariku melayang di atas papan ketik virtual. Aku melihat kembali foto itu—foto yang diambil secara ilegal melalui celah ventilasi kamarku. Di sana, aku sedang duduk di tepian tempat tidur, hanya mengenakan kaus tipis tanpa b**, mencoba menghirup oksigen sebanyak mungkin setelah seharian penuh membebat dadaku dengan ketat di balik hijab lebar dan gamis longgar. Dalam foto itu, aku tidak terlihat seperti 'Ameera si Mahasiswi Teladan'. Aku terlihat seperti perempuan yang sedang berjuang bernapas, namun di mata netizen, aku hanyalah seorang munafik yang menjual kesalehan di siang hari dan memamerkan aurat di malam hari.
"C**up," bisikku pada kesunyian kamar. Suaraku parau, hampir tidak kukenali.
Aku mulai mengetik. Bukan pembelaan diri yang cengeng, melainkan sebuah pernyataan. *Aku adalah Ameera. Dan tubuh ini adalah beban sekaligus anugerah yang tidak pernah kalian pahami.*
Aku menceritakan tentang rasa sesak yang menghimpit paru-paruku setiap kali aku harus tampil 'sempurna' sesuai ekspektasi masyarakat. Aku menjelaskan tentang nyeri punggung yang kronis dan bagaimana privasi kamarku adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa melepaskan jeratan kain yang menyiksa itu. Aku menulis tentang hak seorang manusia untuk merasa nyaman di ruang pribadinya sendiri tanpa harus takut diint**.
Setiap kata yang kuketik terasa seperti mencabut duri dari dalam daging. Menyakitkan, namun ada kelegaan yang mulai merayap. Setelah paragraf terakhir selesai, aku menarik napas panjang. Paru-paruku terasa penuh, seolah-olah beban yang selama ini kupikul sedikit terangkat hanya dengan mengakui kebenarannya.
Dengan satu ketukan mantap, aku menekan tombol *Post*.
Hening.
Satu detik, dua detik. Lalu, ledakan itu dimulai.
Ponselku bergetar hebat di telapak tangan, seolah benda itu tiba-tiba menjadi hidup dan marah. Notifikasi meluncur turun seperti air bah di bagian atas layar. Aku memejamkan mata sejenak, mengumpulkan keberanian sebelum mulai membaca.
*“Halah, alasan medis saja! Bilang saja memang dasarnya haus perhatian,”* tulis akun pertama yang muncul.
*“Kalau memang sesak, ya jangan pakai hijab lebar sekalian. Jangan mempermainkan agama buat menutupi ukuran tubuhmu!”* timpal yang lain.
Aku merasakan mual merambat ke hulu hati. Jemariku yang dingin terus menggulir layar. Komentar-komentar itu semakin liar. Ada yang menghujat dengan kata-kata kasar yang belum pernah kudengar sebelumnya, ada yang menggunakan dalil-dalil agama untuk memojokkan posisiku, seolah-olah mereka adalah hakim yang memegang kunci pintu surga.
*“Munafik kelas kakap. Di kampus akting jadi bidadari, di kosan jadi jalang.”*
Kalimat itu menghantamku tepat di dada. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya luruh juga, membasahi pipi dan jatuh ke layar ponsel, mengaburkan kata-kata keji yang terus berdatangan. Aku ingin melempar ponsel itu ke tembok, menghancurkannya hingga berkeping-keping agar suara-suara digital itu berhenti menusukku. Namun, aku teringat pada tujuanku. Jika aku lari sekarang, aku membenarkan semua fitnah mereka.
Aku berdiri, berjalan menuju cermin besar di sudut kamar. Aku menatap pantulan diriku. Mataku sembab, wajahku pucat, namun ada kilat yang berbeda di sana. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak melihat diriku melalui lensa ketakutan akan opini orang lain. Aku melihat seorang perempuan yang dikhianati, diint**, dan sekarang sedang dipermalukan di depan umum hanya karena ia memiliki tubuh yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
Ponselku berdering. Bukan notifikasi media sosial, melainkan sebuah pangg***n telepon. Nama yang muncul di layar membuat jantungku berhenti berdetak sesaat.
*Raka.*
Raka adalah ketua organisasi mahasiswa yang selama ini selalu berdiri paling depan untuk membelaku, atau setidaknya begitulah pikirku. Aku ragu-ragu sejenak, lalu menggeser ikon hijau.
"Halo?" suaraku bergetar.
"Ameera, apa yang kamu lakukan?" Suara Raka di ujung sana terdengar tajam, tidak ada lagi nada lembut yang biasanya ia gunakan. "Postingan itu... kamu hanya memperburuk keadaan. Kamu baru saja memberikan mereka bahan bakar lebih banyak untuk membakarmu hidup-hidup."
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Raka," sahutku, mencoba tetap tenang meski tanganku dingin seperti es.
"Kebenaran tidak penting bagi mereka, Ameera! Yang mereka butuhkan adalah target. Dan dengan mengakui bahwa itu memang fotomu, kamu secara sukarela naik ke atas panggung eksekusi." Raka menghela napas kasar. "Pihak kampus sudah melihat postinganmu. Dekanat memanggilmu besok pagi. Dan Ameera... mereka tidak berencana untuk sekadar mendengarkan penjelasanmu."
Aku terdiam, mematung di depan cermin. Suara Raka terus berdengung, namun perhatianku teralih pada sebuah notifikasi baru yang muncul di bagian atas layar. Bukan komentar publik, melainkan pesan pribadi dari sebuah akun anonim tanpa foto profil.
*“Penjelasan yang bagus, Ameera. Tapi kamu lupa satu hal: aku punya video yang lebih dari sekadar foto itu. Mau lihat apa yang terjadi kalau video 30 detik di bawah pancuran air itu tersebar?”*
Duniaku serasa berputar. Tubuhku lemas dan aku terduduk di lant** yang dingin. Ternyata, pengint**an itu jauh lebih dalam dari yang kubayangkan. Seseorang tidak hanya ingin menghancurkan reputasiku; mereka ingin menghancurkan seluruh hidupku tanpa menyisakan sepotong pun martabat.
Tirai kesabaran yang baru saja kucoba jahit kembali, kini robek lebih lebar, mengungkap lubang gelap yang tak berdasar. Siapa pun orang ini, dia ada di dekatku. Dia mengenalku. Dan dia belum selesai bermain.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!