Ujung jemariku terasa dingin, hampir membeku, saat aku melangkah menyusuri lorong temaram menuju ruang administrasi kos. Setiap kali langkahku bergema di atas lant** ubin, aku merasa seolah-olah dinding-dinding ini punya mata. Rasanya baru kemarin tempat ini adalah benteng perlindunganku, satu-satunya ruang di mana aku bisa melepas beban kain yang menyesakkan dada dan menjadi diriku sendiri. Kini, privasi itu telah berubah menjadi penjara transparan.
"Ameera, kamu yakin dengan ini?"
Suara itu milik Reza, kakak tingkatku dari jurusan Teknik Informatika yang kukenal melalui organisasi kampus. Dia berdiri di sampingku, menyandang tas ransel berisi perangkat yang kuharap bisa menjadi kunci kebebasanku. Wajahnya serius, tanpa jejak penghakiman yang biasanya kulihat di mata orang lain belakangan ini.
Aku mengangguk pelan, meremas ujung khimar lebarku yang berwarna abu-abu. "Aku tidak punya pilihan lain, Kak. Fitnah itu tidak akan berhenti kalau aku hanya diam di kamar dan menangis."
Ibu Ratna, pemilik kos, sudah menunggu kami di depan pintu ruang server kecil di sudut lant** satu. Wajahnya nampak masygul. "Ibu sebenarnya tidak ingin masalah ini makin besar, Meera. Nama baik kos ini taruhannya. Tapi, setelah melihat apa yang mereka lakukan padamu... Ibu rasa ini memang perlu."
Kunci berputar dengan bunyi klik yang tajam. Aroma debu dan hawa panas dari mesin komputer langsung menyambut kami. Reza segera mengambil posisi di depan monitor induk yang memantau enam titik kamera CCTV di area kos.
"Kapan tepatnya foto-foto itu diperkirakan diambil?" tanya Reza, jemarinya mulai menari di atas keyboard dengan kecepatan yang mengagumkan.
"Sekitar tiga hari yang lalu, saat sore hari. Jendela kamarku sedikit terbuka karena ventilasi rusak," jawabku lirih. Mengingat det**l itu membuat perutku mual. Seseorang telah mengintip ke dalam ruang paling pribadiku, memotret saat aku hanya mengenakan kaus tipis untuk meredakan sesak di dadaku, lalu membingkainya seolah-olah aku sedang memamerkan diri.
Reza terdiam, matanya menyipit menatap barisan kode dan log aktivitas di layar. "Aneh," gumamnya. "Ada jejak akses ilegal ke sistem penyimpanan awan CCTV ini kemarin malam. Seseorang mencoba ma**k secara remote."
Jantungku berdegup kencang. "Maksudnya, pelakunya mencoba menghapus rekaman itu?"
"Sepertinya begitu. Tapi mereka amatir. Mereka hanya menghapus index-nya, bukan file mentahnya," Reza memberikan senyum tipis yang sedikit menenangkan. "Beri aku waktu sepuluh menit."
Suasana ruangan itu menjadi sunyi, hanya menyisakan suara putaran kipas CPU. Aku berdiri di pojok ruangan, memeluk diriku sendiri. Tiba-tiba, ponsel di saku gamisku bergetar. Sebuah notifikasi pesan ma**k dari nomor yang tidak kukenal.
*Jangan diteruskan, Ameera. Kamu hanya akan membuat dirimu lebih malu. Kamu pikir orang akan percaya kalau kamu itu korban? Lihat dirimu di foto itu, kamu menikmatinya, kan? Berhenti sekarang, atau video durasi panjangnya akan naik ke grup angkatan malam ini.*
Darahku serasa tersirap. Napasku menderu pendek-pendek, rasa sesak yang familiar itu kembali menghantam dadaku. Bukan karena ukuran fisikku, tapi karena rasa takut yang mencekik leher. Aku menatap layar ponsel dengan tangan gemetar. Dia mengawasiku. Pelaku itu tahu aku sedang berusaha melawan.
"Ketemu!" seru Reza tiba-tiba.
Aku tersentak dan hampir menjatuhkan ponselku. Aku mendekat ke arah monitor. Layar itu menampilkan rekaman hitam putih dari koridor lant** tiga, tepat di depan kamarku. Waktunya menunjukkan pukul lima sore, tiga hari yang lalu.
Di sana, nampak sesosok bayangan yang menggunakan hoodie gelap. Orang itu berdiri c**up lama di sudut buta dekat tangga, memegang ponsel dengan posisi horizontal, mengarah tepat ke celah jendela kamarku. Dia sangat berhati-hati, memanfaatkan bayangan pilar untuk bersembunyi.
"Bisa kamu perjelas wajahnya, Rez?" tanya Ibu Ratna yang ikut mencondongkan tubuh.
"Aku akan mencoba melakukan peningkatan resolusi pada frame saat dia berbalik," sahut Reza. Namun, tepat saat Reza hendak menekan tombol eksekusi, layar monitor itu tiba-tiba berkedip. Garis-garis statis menutupi gambar, lalu berubah menjadi biru total.
*System Failure. Hard Drive Not Found.*
"Apa yang terjadi?" tanyaku panik.
Reza memaki pelan, sesuatu yang jarang ia lakukan. "Seseorang baru saja menyuntikkan virus *wiper*. Mereka menghapus seluruh isi hard disk server ini secara paksa dari jarak jauh. Sial, mereka memasang *backdoor* di sistem keamanan Ibu!"
Lampu di ruang server mendadak padam. Dalam kegelapan yang tiba-tiba itu, ponselku kembali bergetar. Sebuah pesan baru muncul, cahayanya menyilaukan mataku yang mulai berkaca-kaca.
*Sudah kubilang, jangan main-main denganku. Checkmate, Ameera.*
Aku menatap layar biru di monitor dan kegelapan di sekelilingku. Harapan yang baru saja tumbuh itu hancur berkeping-keping. Namun, di tengah kepanikan itu, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan lagi sekadar rasa takut, melainkan amarah yang mulai membakar rasa maluku.
"Kak Reza," suaraku bergetar, tapi tajam. "Apa ada cara untuk melacak dari mana virus itu dikirim? Aku tidak peduli seberapa sulitnya. Aku tidak akan membiarkan orang ini menang."
Reza menoleh ke arahku, menggunakan cahaya ponselnya untuk melihat wajahku. Dia tampak terkejut melihat binar di mataku yang biasanya redup. "Ada satu cara, tapi kita butuh akses ke pusat data provider internet kos ini. Dan itu ilegal kalau tanpa surat polisi."
"Kalau begitu," kataku sambil menggenggam ponselku erat-erat, mengabaikan getaran pesan ancaman yang terus ma**k, "kita bawa ini ke jalur hukum sekarang juga. Aku tidak akan bersembunyi lagi."
Tepat saat itu, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru di lorong luar. Seseorang mencoba membuka pintu ruang server yang terkunci dari luar. Gagang pintu bergerak kasar, naik turun dengan paksa, seolah ada yang sangat ingin ma**k ke dalam sebelum kami sempat menyelamatkan apa pun yang tersisa.
Aku menahan napas, menatap pintu kayu yang tampak rapuh itu, menyadari bahwa sang pemburu kini merasa terpojok dan mulai bertindak nekat. Namun, kali ini, aku tidak akan lari.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!