Udara di dalam ruang rapat senat terasa lima derajat lebih dingin dari biasanya. Aroma kayu jati tua dan pengharum ruangan jeruk nipis yang tajam menusuk indra penciuman Ameera, menciptakan sensasi mual yang tertahan di pangkal kerongkongan. Ia duduk di kursi kayu berlapis beludru merah, sementara di depannya, lima orang anggota dewan etik kampus menatapnya seolah ia adalah sebuah spesimen rusak yang perlu dibuang.
Profesor Burhan, pria paruh baya dengan kacamata bertengger di ujung hidung, berdeham pelat. Suaranya menggema, berat oleh beban otoritas. "Saudari Ameera, kami sudah melihat berkas-berkas digital yang tersebar luas itu. Fokus kami hari ini bukan pada siapa yang menyebarkannya terlebih dahulu, melainkan pada perilaku yang tertangkap di dalam foto tersebut. Sebagai mahasiswi yang memegang beasiswa prestasi dan dikenal sebagai figur religius, bagaimana Anda menjelaskan... ketidaksesuaian ini?"
Ameera merasakan ujung jemarinya mendingin. Ia meremas kain khimar panjangnya di bawah meja, mencari sisa-sisa kekuatan dari serat kain tersebut. Ia tidak menunduk. Kali ini, ia memaksa matanya untuk menatap langsung ke arah Profesor Burhan.
"Ketidaksesuaian apa yang Anda maksud, Prof?" tanya Ameera, suaranya stabil meski ada getaran tipis yang sulit disembunyikan.
"Norma moralitas, Ameera," sahut Ibu Risma, dekan kemahasiswaan yang dikenal konservatif. Ia meletakkan hasil cetakan foto-foto Ameera di atas mejaβfoto-foto yang diambil secara diam-diam melalui celah ventilasi kamar kosnya, menunjukkan Ameera hanya mengenakan tank top ketat, memperlihatkan lekuk tubuh yang selama ini ia sembunyikan demi kenyamanan dan kesantunan. "Mahasiswi Universitas ini diharapkan mencerminkan nilai-nilai luhur, baik di dalam maupun di luar kampus. Foto ini... tidak menunjukkan hal itu."
"Foto itu diambil di dalam kamar pribadi saya, Ibu Risma," Ameera menyela dengan nada tenang yang mematikan. "Di sebuah ruang privasi yang saya bayar dengan uang keringat saya sendiri. Sebuah ruang di mana seharusnya tidak ada satu pun mata yang boleh mengintip. Jadi, yang ingin saya tanyakan adalah: sejak kapan standar moralitas kampus melampaui batas dinding kamar tidur mahasiswa?"
Suasana mendadak tegang. Salah satu dosen laki-laki berdeham tidak nyaman.
"Ini masalah citra, Ameera!" Profesor Burhan mengetuk meja. "Publik tidak peduli di mana itu diambil. Yang mereka lihat adalah mahasiswi berhijab lebar ternyata memiliki... sisi lain yang vulgar. Ini merusak reputasi institusi."
"Lalu bagaimana dengan reputasi saya sebagai manusia yang hak privasinya dilanggar?" Ameera berdiri perlahan. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah laptop, lalu mengkoneksikannya ke proyektor ruangan yang biasanya digunakan untuk presentasi akademik.
Layar putih besar di belakangnya menyala. Bukan lagi foto-foto pribadinya yang muncul, melainkan sebuah analisis metadata file dan tangkapan layar log aktivitas jaringan.
"Selama seminggu terakhir, saya tidak hanya menangis di pojok kamar," ujar Ameera sambil mengklik satu folder. "Saya melacak asal-usul unggahan pertama. Foto-foto itu tidak bocor karena kesalahan saya. Mereka diambil menggunakan kamera pengint** tersembunyi yang dipasang secara ilegal di ventilasi kamar saya. Dan saya tahu persis siapa yang melakukannya."
Ameera menggeser kursor ke sebuah video. Rekaman itu menunjukkan sesosok pria yang mengendap-endap di koridor kos putri pada jam dua pagi, membawa tangga lipat dan peralatan elektronik. Wajahnya tertangkap jelas saat ia menoleh ke arah kamera CCTV yang sengaja dipasang Ameera secara mandiri setelah kejadian foto-foto itu viral.
Desahan kaget terdengar dari para anggota dewan. Ibu Risma menutup mulutnya dengan tangan.
"Pria ini adalah Farhan," Ameera menyebutkan nama itu dengan penekanan yang tajam. Farhan adalah ketua organisasi mahasiswa yang paling vokal meneriakkan pemecatan Ameera sejak skandal ini mencuat. "Dia menggunakan akses kunci cadangan karena dia adalah keponakan dari pemilik kos saya. Dia bukan hanya melanggar privasi saya, tapi dia melakukan tindak pidana voyeurisme dan penyebaran konten tanpa izin."
"Ameera, ini... ini tuduhan serius," gumam Profesor Burhan, wajahnya kini memucat.
"Tuduhan?" Ameera terkekeh hambar, matanya berkaca-kaca namun bukan karena lemah. "Yang Anda lihat di layar adalah bukti. Jika kampus lebih peduli pada 'pakaian' yang saya kenakan di ruang pribadi daripada tindakan kriminal yang dilakukan oleh mahasiswa teladan Anda terhadap teman sebayanya, maka saya rasa yang bermasalah bukan moralitas saya, melainkan kompas keadilan di institusi ini."
Ameera menekan tombol *play* pada rekaman audio berikutnya. Suara Farhan terdengar jelas, sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
*"Tenang saja, setelah foto-foto ini keluar, dia nggak akan punya muka lagi di kampus. Cewek suci kayak dia harus tahu tempatnya. Dia nggak boleh lebih hebat dari kita."*
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Debat moral yang tadinya menyudutkan Ameera kini berbalik menjadi sebuah pengadilan bisu bagi sistem yang hampir saja menghancurkan korban.
"Saya datang ke sini bukan untuk meminta maaf atas apa yang saya kenakan di kamar saya sendiri," tegas Ameera sambil merapikan tasnya. "Saya datang untuk memberikan kesempatan bagi kampus ini untuk berada di sisi yang benar. Farhan sudah saya laporkan ke pihak kepolisian pagi ini."
Ia berjalan menuju pintu, namun berhenti sejenak sebelum memutar knop kayu tersebut. Ia menoleh kembali ke arah dewan etik yang masih terpaku.
"Oh, satu lagi," suara Ameera merendah, "Jika sidang ini tetap memutuskan untuk mencabut beasiswa saya berdasarkan foto-foto privasi tersebut, saya pastikan seluruh media nasional akan tahu bahwa universitas ini lebih membela pengintip daripada melindungi mahasiswinya dari pelecehan."
Ameera melangkah keluar, menutup pintu dengan dentuman pelan namun tegas. Jantungnya berpacu hebat, tangannya masih gemetar. Namun, saat ia menyusuri koridor, ia melihat Farhan berdiri di ujung jalan bersama beberapa rekannya, menatapnya dengan seringai meremehkan yang belum tahu bahwa dunianya baru saja runtuh.
Ameera meraba ponsel di saku gamisnya. Sebuah pesan ma**k dari nomor tidak dikenal.
*βKau pikir video itu c**up untuk menjatuhkanku? Lihat ke belakangmu, Ameera.β*
Ameera membeku. Ia menoleh, namun koridor itu kosong. Hanya ada bayangannya sendiri yang memanjang di bawah lampu neon yang berkedip. Detik berikutnya, ponselnya bergetar lagi, kali ini sebuah pangg***n video ma**k dari akun yang sama. Ameera mengangkatnya dengan ragu.
Layar ponselnya menampilkan gambar *real-time*... dirinya sendiri yang sedang berdiri di koridor tersebut, diambil dari sudut tinggi yang tidak terlihat.
Seseorang masih mengawasinya, bahkan di dalam gedung rektorat yang seharusnya aman. Dan orang itu bukan hanya Farhan.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!