Bunyi stempel yang menghantam kertas di atas meja kayu jati itu terdengar seperti dentuman palu hakim di telingaku. Berat, final, dan tak tertembus. Aku menatap tinta merah yang masih basah di sanaβsebuah keputusan resmi dari Senat Universitas yang menyatakan pencabutan status kemahasiswaan Dinda secara tidak hormat.
Di seberang meja, Dinda duduk merosot. Tidak ada lagi sorot mata tajam yang biasanya ia lemparkan padaku di koridor kelas. Wajahnya yang biasanya dipoles riasan tebal kini pucat pasi, matanya sembap, dan jemarinya terus meremas ujung blusnya yang kusut. Di sampingnya, seorang pria paruh baya yang kukenali sebagai pengacaranya hanya bisa menghela napas panjang, menyadari bahwa bukti digital yang kami ajukan terlalu telak untuk dibantah.
"Keputusan ini bersifat mutlak, Saudari Dinda," suara Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan memecah keheningan yang menyesakkan. "Pelanggaran kode etik, pencemaran nama baik, dan penyebaran konten pribadi tanpa izin adalah tindakan kriminal yang tidak memiliki tempat di institusi ini. Untuk proses pidananya, kami menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian dan kuasa hukum Saudari Ameera."
Aku menarik napas dalam-dalam. Oksigen yang ma**k ke paru-paru terasa lebih murni, seolah-olah beban beton yang selama berminggu-minggu menghimpit dadaku perlahan-lahan retak. Namun, anehnya, tidak ada sorak-sorai di kepalaku. Yang ada hanyalah rasa hampa yang dingin.
"Ameera," panggil Pak Hendra, pengacaraku, lembut. Ia menyentuh lenganku pelan, memintaku untuk berdiri. "Kita sudah selesai di sini. Pihak kepolisian sudah menunggu di luar untuk menjemput Dinda demi pemeriksaan lanjutan."
Saat aku berbalik menuju pintu, suara parau Dinda menghentikanku.
"Ra..."
Aku berhenti, namun tidak menoleh.
"Kenapa kamu harus sejauh ini?" suaranya bergetar, antara marah dan putus asa. "Itu cuma foto, Ra. Semua orang juga tahu itu memang tubuhmu. Aku cuma menunjukkan siapa kamu sebenarnya di balik jilbab lebar itu!"
Aku memejamkan mata sejenak, merasakan denyut di pelipisku. Aku berbalik perlahan, menatapnya dengan tatapan yang sudah kukosongkan dari amarah. "Ini bukan soal tubuhku, Dinda. Ini soal hak asasi yang kamu injak-injak. Kamu bukan sedang mengungkap kebenaran, kamu sedang berusaha menghancurkan hidup seseorang karena rasa irimu sendiri. Dan jilbab ini? Ini bukan tameng kemunafikan. Ini adalah pilihanku, sebagaimana privasiku adalah hakku yang mutlak."
Aku melangkah keluar dari ruangan itu tanpa menunggu jawabannya. Di koridor, beberapa petugas keamanan kampus mengiringi Dinda yang kemudian digiring menuju mobil polisi yang sudah menunggu di lobi bawah. Beberapa mahasiswa yang kebetulan lewat berhenti, mengeluarkan ponsel mereka, memotret momen kejatuhan sang 'ratu kampus' yang selama ini mereka puja.
Aku berjalan menuruni tangga dengan punggung tegak. Namun, saat aku melewati kerumunan mahasiswa di selasar, bisikan-bisikan itu belum hilang. Mereka hanya berganti nada.
"Lihat, itu Ameera. Dia menang, ya?"
"Tapi tetap saja, foto-fotonya sudah telanjur tersebar. Aku masih punya filenya di grup WhatsApp."
"Ngeri juga ya, kalau pendiam ternyata kalau di kamar begitu..."
Langkahku goyah sejenak. Kemenangan hukum ternyata tidak otomatis menghapus memori digital di kepala orang-orang. Aku merapatkan luaran panjangku, merasakan kain jilbab lebarku bergeser menyentuh bahu. Rasa sesak fisik karena ukuran dadaku yang selama ini kusembunyikan di balik pakaian longgar masih ada di sana, nyata dan melelahkan. Bedanya, sekarang aku tahu bahwa dunia telah melihat apa yang paling ingin kurahasiakan dengan cara yang paling keji.
"Ameera!"
Zulfa berlari menghampiriku, wajahnya penuh keringat namun matanya berbinar haru. Ia langsung memelukku erat. "Ra, aku dengar semuanya. Dia dikeluarkan! Keadilan akhirnya datang, Ra!"
Aku membalas pelukannya, mencoba mencari kekuatan dari sahabat satu-satunya yang tidak berpaling dariku. "Iya, Fa. Secara administratif, semuanya selesai."
Zulfa melepaskan pelukannya, menatapku dengan kening berkerut. "Kamu nggak kelihatan senang? Kita harus merayakan ini. Kita bisa makan enak, atau ke toko buku favoritmu."
Aku mencoba tersenyum, namun senyum itu terasa kaku di wajahku. "Aku butuh waktu, Fa. Menang di atas kertas itu satu hal, tapi menghadapi tatapan mereka setiap hari... itu perang yang berbeda."
Kami berjalan menuju gerbang kampus. Sinar matahari sore yang jingga menyiram aspal, memberikan bayangan panjang di depan kami. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa bisa berjalan tanpa harus menunduk terlalu dalam, meski aku tahu setiap pasang mata masih mencoba menembus kain pakaianku, membayangkan apa yang mereka lihat di layar ponsel mereka.
Saat kami mencapai halte, ponsel di saku gamisku bergetar. Sebuah notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal muncul di layar.
Aku membukanya dengan perasaan tidak enak yang mendadak menyerang.
*Jangan pikir ini berakhir hanya karena Dinda yang ma**k penjara, Ameera. Dia hanya pion yang ceroboh. Kamu pikir siapa yang pertama kali mengirimkan foto-foto itu ke ponselnya? Selamat atas 'kemenangan' sementaramu.*
Tanganku mendadak dingin. Jantungku berpacu dua kali lebih cepat. Aku menoleh ke sekeliling, menatap wajah-wajah orang di halte, setiap orang yang lewat, setiap pengendara motor yang berhenti di lampu merah. Semuanya tampak mencurigakan. Semuanya tampak seperti ancaman yang tersembunyi di balik senyum ramah.
"Ra? Ada apa? Wajahmu pucat sekali," suara Zulfa terdengar jauh di telingaku.
Aku meremas ponselku kuat-kuat hingga buku-buku jariku memutih. Tirai kesabaran itu memang sudah luruh, tapi di baliknya, ternyata ada kegelapan lain yang jauh lebih besar dan lebih terorganisir dari sekadar kecemburuan seorang rekan kuliah. Seseorang masih mengawasiku, dan mereka belum selesai bermain.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!