Cermin di sudut kamar kos itu biasanya adalah benda yang paling Ameera hindari. Selama berhari-hari, benda itu hanya memantulkan bayangan seorang wanita yang hancur, dengan mata sembab dan bahu yang merosot karena beban yang tidak terlihat. Namun pagi ini, Ameera berdiri tegak di depannya. Ia merapikan khimar berwarna moka yang menjunt** menutupi dadanya—bagian tubuh yang selama ini ia anggap sebagai kutukan, sebagai titik lemah yang membuatnya merasa kotor di balik kain-kain longgar.
Jari-jarinya sedikit bergetar saat menyematkan jarum pentul di bawah dagu, tapi tatapannya tidak beralih. Ia melihat dirinya sendiri. Bukan Ameera si 'Ikon Kesantunan' yang dipuja-puji, bukan pula Ameera si 'Wanita Munafik' yang dihujat di media sosial kampus. Ia hanya melihat Ameera. Seorang manusia yang memiliki tubuh, memiliki privasi, dan memiliki hak untuk bernapas tanpa harus meminta maaf atas keberadaannya.
"C**up," bisiknya pada sunyi.
Langkah kakinya terasa berat saat melewati gerbang kampus. Suasana yang biasanya akrab kini terasa seperti medan perang yang dingin. Begitu ia melewati koridor Fakultas Ekonomi, denting notifikasi dari ponsel-ponsel di sekitar seolah menjadi musik latar yang mengerikan. Ameera tahu apa yang sedang mereka lihat. Foto-foto itu—yang diambil secara ilegal di ruang pribadinya, menunjukkan dirinya dengan pakaian minim demi meredakan sesak fisik yang menyiksa—masih beredar liar dengan narasi-narasi penuh kebencian.
"Lihat, dia berani muncul juga," bisik sebuah suara dari arah bangku taman. Ameera tidak menoleh, tapi telinganya menangkap setiap desis sinis itu. "Tebal sekali mukanya. Masih pakai hijab lebar setelah foto-foto vulgar itu tersebar?"
Ameera menghentikan langkahnya sebentar. Paru-parunya terasa menyempit, sebuah reaksi otomatis saat kecemasan menyerang. Dulu, ia akan menunduk dalam-dalam, mempercepat langkah, dan mungkin mencari toilet untuk menangis. Namun hari ini, ia memaksa jemarinya untuk tetap rileks. Ia menghirup oksigen dalam-dalam, merasakan udara mengisi rongga dadanya, lalu mengembuskannya perlahan.
Ia melanjutkan langkah menuju ruang kuliah utama. Di depan pintu kelas, sekelompok mahasiswa yang dipimpin oleh Farah—seseorang yang selama ini selalu bersikap manis di depan Ameera namun menjadi yang paling vokal di grup chat—berdiri menghalangi jalan.
"Ameera," ujar Farah dengan nada yang dibuat-buat prihatin, meski matanya berkilat penuh kemenangan. "Kami kira kamu bakal mengundurkan diri. Maksudku, setelah skandal memalukan itu... tidakkah kamu merasa... yah, mengotori citra mahasiswi Muslimah di sini?"
Beberapa orang di belakang Farah terkekeh. Ameera menatap Farah tepat di matanya. Ia tidak melihat kemarahan di sana, melainkan sebuah kehampaan yang membuatnya merasa kasihan.
"Memalukan karena apa, Farah?" suara Ameera keluar dengan tenang, jauh lebih stabil dari yang ia duga. "Karena aku memiliki tubuh? Atau karena seseorang melanggar privasiku, mencuri fotoku di kamarku sendiri, dan menyebarkannya untuk menghancurkan hidupku?"
Farah tampak tersentak, tidak menyangka akan mendapat perlawanan langsung. "Maksudku, kamu kan dicitrakan suci. Tapi ternyata di belakang... kamu suka berpakaian seperti itu. Itu namanya pembohongan publik, Ameera. Munafik."
Ameera maju satu langkah. Ia tidak lagi mencoba menyembunyikan postur tubuhnya yang tinggi. "Aku tidak pernah meminta siapa pun untuk menganggapku suci. Aku hanya berusaha menjalankan kewajibanku sebagai Muslimah dengan pakaian ini di ruang publik. Apa yang aku kenakan di dalam privasi kamarku, demi kenyamanan fisikku sendiri, bukan urusanmu. Dan itu tidak memberi hak bagi siapa pun untuk melecehkanku."
"Tapi foto itu bukti kalau kamu—"
"Foto itu adalah bukti kejahatan seseorang, bukan buktiku sebagai pendosa," potong Ameera tegas. Suaranya tidak keras, tapi memiliki bobot yang membuat koridor itu mendadak sunyi. "Jika kamu lebih terganggu oleh pakaian pribadiku daripada oleh tindakan kriminal orang yang menyebarkannya, mungkin kamu perlu memeriksa kembali standar moralmu."
Ameera melewati kerumunan itu. Ia bisa merasakan tatapan mereka menusuk punggungnya, tapi ia tidak lagi merasa punggung itu rapuh. Ia duduk di barisan tengah kelas, tempat biasanya ia berada. Ia mengeluarkan laptop dan buku catatannya, mengabaikan bisik-bisik yang masih merayap di sekelilingnya seperti asap hitam.
Di tengah keheningan yang tegang sebelum dosen ma**k, sebuah pesan ma**k ke ponselnya. Bukan dari nomor asing yang menghujat, melainkan sebuah notifikasi dari akun anonim yang selama ini ia curigai sebagai pengint**nya.
*“Kau pikir pidato kecilmu tadi mengubah segalanya? Ini baru permulaan, Ameera. Aku masih punya video yang lebih 'menarik' dari sekadar foto di kamar kosmu. Mari kita lihat seberapa tegak kepalamu setelah ini.”*
Darah Ameera berdesir dingin. Jantungnya berdegup kencang, menghantam dinding dadanya dengan liar. Ia menatap layar ponselnya dengan tangan yang kembali bergetar. Si pengint** tidak hanya mengambil foto. Si pengint** telah menanam sesuatu yang lebih jauh ke dalam privasinya.
Ameera memejamkan mata sejenak, meremas pinggiran mejanya. Ia baru saja mulai berdiri, tapi badai yang lebih besar tampaknya baru saja akan menerjang. Ia menarik napas panjang, menatap lurus ke depan ke arah papan tulis yang masih kosong, menyadari bahwa perjuangannya untuk mendapatkan kembali kehormatannya bukan lagi sekadar soal menghadapi tatapan sinis, melainkan perburuan berbahaya melawan seseorang yang bersembunyi di balik kegelapan.
Pintu kelas terbuka, dan dosen ma**k. Namun bagi Ameera, kuliah hari ini hanyalah awal dari perang yang sesungguhnya. Ia tidak akan lari lagi, meski ia tahu, rahasia berikutnya mungkin akan benar-benar meruntuhkan segala yang tersisa darinya.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!