Luruhnya Tirai Kesabaran

Bab 2: Bab 2 - Ameera menyadari ada keanehan di jendela kamarn...

Pengaturan Membaca

Udara malam di koridor lant** dua kos-kosan itu terasa pengap, seolah dinding-dinding semen yang mengapitnya ikut merasa gerah oleh kelembapan sisa hujan sore tadi. Ameera melangkah dengan bahu yang merosot, beban tas ranselnya yang penuh dengan diktat tebal terasa tiga kali lipat lebih berat dari biasanya. Namun, beban yang paling nyata bukanlah apa yang ada di punggungnya, melainkan apa yang tersembunyi di balik gamis longgar dan khimar lebarnya.

Begitu kunci berputar dan pintu kamarnya tertutup dengan denting pelan, Ameera menyandarkan keningnya di permukaan kayu pintu yang dingin. Ia memejamkan mata, membiarkan helaan napas panjang lolos dari bibirnya yang pucat. Tubuhnya gemetar kecilβ€”bukan karena takut, melainkan karena kelegaan yang luar biasa.

Dengan tangan yang sedikit tidak sabar, ia melepas peniti khimarnya. Kain pashmina instan itu meluncur jatuh ke lant**, membebaskan leher dan pundaknya yang selama berjam-jam tertutup rapat. Tangannya beralih ke kancing gamis, membukanya satu per satu hingga pakaian itu jatuh menumpuk di atas tumpukan kain lainnya.

"Akhirnya," bisiknya pada keheningan kamar.

Kini ia hanya mengenakan kaus dalam tipis bertali spageti. Di bawah pendar lampu neon yang sedikit berkedip, citra Ameera yang dikenal orang-orang sebagai 'ustazah kampus' atau 'mahasiswi teladan yang tertutup' seolah menguap. Tanpa lapisan kain yang berlapis-lapis, proporsi tubuhnya terlihat jelas. Sesuatu yang bagi banyak wanita dianggap sebagai anugerah, bagi Ameera adalah kutukan yang harus disembunyikan di balik 'tenda' kain. Ukuran dadanya yang tidak proporsional dengan tubuh kecilnya selalu memicu nyeri punggung kronis dan, yang lebih buruk lagi, pandangan-pandangan melecehkan yang pernah ia alami di masa remaja. Itulah alasan ia memilih hijab lebar; sebagai benteng, sebagai pelindung.

Ameera berjalan menuju cermin kecil di sudut kamar. Ia mengusap sisa keringat di lehernya. Punggungnya terasa kaku, otot-ototnya seolah memprotes jam-jam panjang yang ia habiskan dengan duduk tegak di perpustakaan. Ia meregangkan tangannya ke atas, menikmati setiap inci kebebasan yang hanya bisa ia rasakan di ruangan seluas 3x4 meter ini.

Tiba-tiba, sebuah suara gesekan halus memecah kesunyian.

Ameera membeku. Tangannya masih terangkat di udara. Matanya langsung beralih ke arah jendela yang tertutup gorden tipis berwarna krem. Kamarnya berada di lant** dua, namun posisi gedung sebelah yang sedang dalam renovasi membuat jarak antar bangunan terasa sangat dekat.

*Sret...*

Suara itu seperti gesekan kain atau plastik di atas permukaan besi pembatas balkon kecil di luar jendelanya. Ameera menahan napas, dadanya naik turun dengan cepat. Keheningan yang menyusul terasa mencekam, seolah-olah udara di dalam kamar mendadak tersedot keluar.

Ia melangkah perlahan, nyaris tanpa suara, mendekati jendela. Jantungnya berdentum keras di rongga dada, menciptakan denyut yang terasa hingga ke telinga. Apakah itu kucing? Atau mungkin dahan pohon mangga di bawah yang tertiup angin? Tapi malam ini tidak ada angin. Daun-daun yang terlihat dari balik kaca nampak diam mematung.

Ameera menyibakkan sedikit celah di gordennya. Kegelapan di luar tampak pekat, hanya disinari lampu jalan yang remang-remang di kejauhan. Area konstruksi di gedung sebelah tampak seperti siluet raksasa yang mengancam. Tidak ada apa-apa di balkonnya yang sempit. Hanya ada jemuran kosong dan sepasang sandal jepit yang berdebu.

Namun, bulu kuduknya meremang. Ada perasaan aneh, semacam getaran di udara yang memberitahunya bahwa ia tidak sendirian. Seolah-olah ada sepasang mata yang sedang menguliti setiap gerak-geriknya dari balik kegelapan yang tidak bisa ia tembus.

"Halo?" suaranya keluar dalam bisikan gemetar.

Tentu saja tidak ada jawaban.

Ameera menunggu selama beberapa menit, tangannya masih memegang pinggiran gorden. Matanya menyapu setiap sudut bayangan di luar sana. Tepat ketika ia hendak melepaskan pegangannya, ia melihat sesuatu. Sebuah kilatan kecil, sangat singkat, seperti pantulan cahaya pada lensa kaca dari arah perancah bangunan sebelah.

Ia tersentak mundur, menab**k meja belajarnya hingga tumpukan buku di atasnya goyah.

"Astagfirullah," ia beristigfar berkali-kali, telapak tangannya menekan dada yang berdegup kencang.

Apakah itu benar-benar seseorang? Atau hanya halu-halusinasi akibat kurang tidur dan stres menghadapi ujian tengah semester? Ameera mencoba berpikir analitis, mencoba menenangkan dirinya sendiri. *Ameera, kau sudah bangun sejak jam lima pagi. Kau kelelahan. Otakmu sedang bermain-main dengan ketakutanmu sendiri.*

Ia memberanikan diri sekali lagi untuk mengintip. Kali ini, ia memastikan gordennya tertutup rapat tanpa celah sedikit pun. Ia bahkan mengambil selotip hitam dari laci meja dan merekatkan bagian tengah gorden ke bingkai jendela agar tidak ada celah udara yang bisa membukanya.

Ia duduk di tepi tempat tidur, memeluk lututnya. Tubuhnya yang tadi terasa ringan karena bebas dari hijab, kini justru terasa te******* dan rentan. Ia segera menyambar daster panjang dari gantungan dan memakainya dengan terburu-buru. Rasa aman yang tadi ia rasakan telah retak.

"Cuma halusinasi," gumamnya meyakinkan diri sendiri. "Gedung sebelah itu kosong. Tukang bangunan sudah pulang sejak sore."

Ia merebahkan tubuhnya, menarik selimut hingga ke dagu meski udara malam itu gerah. Ia mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur kecil yang temaram. Matanya tetap terpaku pada jendela, menunggu suara atau gerakan apa pun yang mungkin muncul lagi.

Lama ia menunggu hingga kelopak matanya mulai terasa berat. Kelelahan fisik akhirnya mengalahkan paranoia yang merayap di benaknya. Ameera mulai terbuai ke alam bawah sadar, menyimpulkan bahwa kegelisahannya hanyalah manifestasi dari rasa lelah yang ekstrem.

Namun, di luar sana, di balik gelapnya perancah besi yang dingin, sebuah benda persegi kecil berpindah posisi dari tangan seseorang ke dalam saku jaket. Seseorang yang telah melihat lebih dari sekadar bayangan di balik gorden. Seseorang yang kini memiliki sesuatu yang selama ini Ameera sembunyikan dengan sangat rapi di balik tirai kesopanannya.

Ameera jatuh terlelap, sama sekali tidak menyadari bahwa besok pagi, dunianya tidak akan pernah sama lagi. Di dalam saku jaket yang gelap itu, tersimpan foto-foto yang akan meruntuhkan setiap tembok perlindungan yang pernah ia bangun.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca