Luruhnya Tirai Kesabaran

Bab 3: Bab 3 - Datang ke kampus dan merasakan atmosfer yang be...

Pengaturan Membaca

Khimar panjang berwarna khimar cokelat muda yang kukenakan pagi ini terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Mungkin hanya perasaanku, atau mungkin karena aku terlalu kencang melilitkan kain di bagian dada untuk menyamarkan siluet yang selalu membuatku merasa waswas. Setiap embusan napas yang kuambil terasa pendek dan tertahan, sebuah harga yang harus kubayar demi menjaga citra santun yang telah melekat padaku selama tiga tahun di kampus ini.

Aku melangkah melewati gerbang utama universitas dengan punggung tegak. Biasanya, Pak Satpam di gerbang depan akan menyapa dengan senyum ramah, "Pagi, Mbak Ameera. Rajin sekali." Namun hari ini, ketika aku mengangguk padanya, pria paruh baya itu justru memalingkan wajah dengan cepat setelah menatapku selama dua detik penuhβ€”tatapan yang terasa aneh, seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu yang kotor.

Aku mengernyit, mencoba mengabaikan denyut kecemasan yang mulai merayap di tengkukku. Mungkin dia hanya sedang kelelahan, pikirku menenangkan diri.

Namun, perasaan ganjil itu tidak berhenti di gerbang. Sepanjang jalan setapak menuju Fakultas Ekonomi, suasana terasa bergeser secara halus namun tajam. Aku berjalan melewati sekumpulan mahasiswa tingkat bawah yang sedang duduk di bangku taman. Biasanya, mereka akan menyapaku dengan hormat sebagai salah satu asisten dosen. Tapi pagi ini, saat aku melintas, tawa mereka mendadak terputus.

"Eh, itu dia kan?" bisik seorang gadis berambut pendek, suaranya c**up keras untuk tertangkap telingaku.

Temannya menyikut lengan gadis itu, matanya melirikku dengan binar yang sulit diartikanβ€”campuran antara jijik dan rasa ingin tahu yang besar. Mereka kemudian saling mendekatkan kepala, berbisik lebih intens sementara mataku lurus menatap ke depan, pura-pura tidak mendengar.

Jantungku mulai berdegup tidak beraturan. *Ada apa? Apa jilbabku berantakan? Atau ada noda di bajuku?* Aku meraba bagian depan gamisku, memastikan semuanya tertutup sempurna. Semuanya aman. Tidak ada yang salah dengan penampilanku.

Sesampainya di koridor menuju ruang kelas, atmosfer semakin menyesakkan. Orang-orang yang berpapasan denganku biasanya akan memberikan senyum tipis atau sekadar anggukan sopan. Hari ini, mereka seperti melihat hantuβ€”atau lebih buruk lagi, melihat sesuatu yang memalukan. Beberapa orang terang-terangan berhenti berjalan, menatap punggungku, lalu sibuk kembali dengan ponsel di tangan mereka.

Denting notifikasi pesan ma**k di ponselku terdengar berkali-kali di dalam tas. Aku sengaja tidak mengambilnya, mencoba mempertahankan ketenangan yang mulai retak.

Di depan pintu ruang kelas Makroekonomi, aku bertemu dengan Siska, teman satu kelompokku. Siska biasanya akan langsung menghampiriku untuk menanyakan progres tugas. Namun, saat dia melihatku mendekat, langkahnya tertahan. Wajahnya pucat, dan dia tampak bingung harus menaruh tangannya di mana.

"Siska, hai. Kamu sudah cek data untuk presentasi nanti?" tanyaku, mencoba bersuara senormal mungkin meski tanganku mulai terasa dingin.

Siska tidak menjawab secara langsung. Matanya bergerak gelisah, menghindari kontak mata denganku, lalu sedetik kemudian matanya turun, menatap bagian dadaku dengan tatapan yang sangat asingβ€”seolah dia sedang menembus lapisan kain lebar yang kukenakan.

"A-Ameera... kamu... kamu sudah buka grup angkatan?" tanya Siska dengan suara bergetar.

"Belum. Ponselku di tas dari tadi. Kenapa? Ada pengumuman penting dari dosen?"

Siska menelan ludah. Dia membuka mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu, namun kemudian dia menggeleng cepat. "Ehm, sebaiknya kamu cek sendiri. Aku... aku ma**k kelas duluan ya, Ra. Maaf."

Dia bergegas ma**k ke kelas, meninggalkanku yang mematung di ambang pintu. Perasaan sesak di dadaku bukan lagi sekadar karena kain yang melilit kencang, melainkan karena firasat buruk yang mulai mengkristal.

Aku melangkah ma**k ke kelas yang sudah terisi separuh. Seketika, keheningan yang janggal menyergap. Percakapan-percakapan riuh mendadak senyap. Puluhan pasang mata tertuju padaku. Beberapa orang berbisik di balik telapak tangan, sementara yang lain menatapku dengan tatapan sinis yang tidak disembunyikan sama sekali.

Aku berjalan menuju kursi biasaku di baris kedua. Setiap langkah kakiku terasa seperti dentuman di ruang kosong. Aku bisa merasakan tatapan mereka merayap di tubuhku, seolah-olah pakaian longgar yang kupakai ini tiba-tiba menjadi transparan di mata mereka.

"Wah, hebat ya. Ternyata 'bungkusnya' memang menipu," sebuah suara berat terdengar dari barisan belakang. Itu suara Rendy, mahasiswa yang memang sering berurusan denganku karena masalah kedisiplinan asisten dosen.

Tawa kecil yang merendahkan meledak di beberapa sudut kelas.

"Sst, diam. Orangnya dengar tuh," sahut yang lain, namun nada bicaranya justru terdengar seperti ejekan yang disengaja.

Tanganku gemetar saat aku meletakkan tas di atas meja. Aku tidak bisa lagi menahan rasa penasaran yang menyakitkan ini. Dengan jari yang terasa kaku, aku merogoh tas dan mengeluarkan ponsel. Layar menyala, menampilkan puluhan notifikasi yang belum terbaca. Sebagian besar berasal dari grup WhatsApp angkatan yang biasanya hanya berisi jadwal kuliah atau keluhan soal tugas.

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadaku, lalu menyentuh ikon aplikasi tersebut.

Pesan terakhir di grup itu dikirim oleh nomor yang tidak kukenal. Sebuah gambar yang dikirim beberapa jam lalu, tepat saat fajar menyingsing. Tanganku mendadak mati rasa saat gambar itu terbuka sepenuhnya di layarku.

Itu adalah aku.

Di dalam kamar kosku yang privat. Aku sedang berdiri di depan cermin, hanya mengenakan kaus dalam tipis yang melekat ketat di kulit, memperlihatkan bentuk tubuhku yang selama ini kusembunyikan dengan rapat di balik hijab lebar. Rambutku terurai, dan wajahku terlihat jelas saat aku sedang mengatur napas, tampak lelah dan rapuh.

Di bawah foto itu, ada sebuah narasi panjang yang ditulis dengan huruf kapital:

*"PENAMPILAN ALIM, TAPI ASLINYA HAUS PERHATIAN. BEGINILAH SOSOK ASLI SI MAHASISWI TELADAN KITA SAAT DI BALIK LAYAR. MASIH MAU PERCAYA SAMA HIJAB LEBARNYA?"*

Duniaku serasa berhenti berputar. Oksigen seolah menghilang dari ruangan itu. Aku merasa seluruh pakaian yang kukenakan saat ini luruh begitu saja, membiarkanku te******* di tengah penghakiman massa yang kejam. Aku mendongak, dan tepat saat itu, mataku bertemu dengan tatapan tajam dari hampir seluruh orang di kelas. Mereka tidak lagi berbisik. Mereka menatapku seolah aku adalah noda kotor yang harus segera disingkirkan.

Ponsel di tanganku terjatuh ke lant**, menimbulkan bunyi keras yang memecah keheningan kelas yang mencekam. Di tengah kehampaan yang menyerang kesadaranku, aku menyadari satu hal: hidupku yang tenang tidak akan pernah sama lagi setelah detik ini.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca