Luruhnya Tirai Kesabaran

Bab 4: Bab 4 - Melihat foto dirinya tanpa hijab di dalam kamar...

Pengaturan Membaca

Suara riuh rendah di koridor Fakultas Hukum biasanya menjadi latar belakang musik yang menenangkan bagi Ameera. Bunyi gesekan sepatu di atas lant** granit, tawa tertahan dari meja-meja diskusi, dan gumam mahasiswa yang menghafal pasal-pasal adalah ritme hidupnya. Namun pagi ini, udara mendadak terasa statis. Oksigen seolah menghilang, menyisakan kekosongan yang menyesakkan paru-paru.

Ameera baru saja akan melangkah ma**k ke ruang kelas Hukum Perdata saat ponsel di saku gamisnya bergetar tanpa henti. Satu getaran panjang, disusul rentetan getaran pendek yang agresif. *Bzzzt. Bzzzt. Bzzzt.*

Jantungnya mencelos. Ia menepi ke dinding, mencoba mengatur napasnya yang tiba-tiba memberat. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia merogoh saku dan menyalakan layar ponselnya. Notifikasi grup WhatsApp angkatan "Hukum '21" meledak. Angka merah di sudut aplikasi menunjukkan ratusan pesan baru dalam hitungan menit.

Ujung jarinya terasa dingin saat ia menekan ikon hijau itu.

Dunia Ameera seolah runtuh tepat saat layar itu menampilkan sebuah gambar. Butuh beberapa detik bagi otaknya untuk memproses apa yang ia lihat, karena akal sehatnya mati-matian menolak kenyataan. Itu adalah sebuah foto. Diambil dari sudut rendah, mungkin dari celah jendela yang tidak ia sadari terbuka sedikit malam itu.

Dalam foto itu, Ameera tidak mengenakan khimar lebarnya. Ia juga tidak mengenakan gamis longgar yang selama ini menjadi perisainya. Ia hanya mengenakan kaus dalam tanpa lengan berbahan tipis yang membalut tubuhnya dengan sangat ketat—pakaian yang hanya ia kenakan di balik pintu kamar kos yang terkunci demi meredakan rasa sesak dan gerah luar biasa yang menyiksa fisiknya. Pencahayaan lampu kamar yang kuning membuat lekuk dadanya yang besar terlihat sangat kontras, sesuatu yang selama ini ia sembunyikan di balik lipatan kain panjang agar tidak mengundang pandangan liar.

Di bawah foto itu, sebuah teks menyert**nya: *“Siapa sangka 'Ustadzah' kita punya sisi liar di kamar? Hijab cuma kedok, aslinya haus perhatian. Munafik level dewa.”*

Ponsel itu hampir saja terlepas dari genggamannya. Ameera merasa seolah-olah seluruh pakaian yang ia kenakan saat ini mendadak hilang, membuatnya te******* di tengah koridor yang ramai. Rasa malu yang begitu pekat membakar wajahnya, sementara perutnya melilit hebat, memicu rasa mual yang mendesak naik ke tenggorokan.

Ia mendongak sebentar, dan saat itulah ia menyadarinya. Mahasiswa yang berdiri di dekat mading sedang memegang ponsel, lalu melirik ke arahnya. Dua mahasiswi di ujung koridor berbisik sambil menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara jijik dan kepuasan melihat seseorang yang dianggap "suci" jatuh ke dalam lumpur kehinaan.

Ameera berbalik arah. Ia tidak peduli lagi pada kelas Profesor Salim. Ia harus pergi. Ia harus bersembunyi.

Langkahnya setengah berlari, tersaruk-saruk oleh panjang roknya sendiri yang mendadak terasa seperti beban ribuan ton. Ia menuju toilet di lant** dua, area yang biasanya lebih sepi. Begitu ma**k, ia segera mengunci pintu bilik paling ujung dan menyandarkan punggungnya pada pintu plastik yang dingin.

Di sinilah serangan itu datang.

Napas Ameera menjadi pendek dan cepat. Paru-parunya seolah mengecil, menolak aliran udara. Pandangannya mulai mengabur, bintik-bintik hitam menari di depan matanya. Ia mencoba mencengkeram tepi wastafel imajiner di depannya, namun tangannya hanya menyentuh udara. Ia merosot jatuh ke lant** toilet yang lembap, lututnya membentur ubin dengan keras, tapi ia tidak merasakan sakitnya.

"Astaghfirullah... Astaghfirullah..." bisiknya parau, mencoba mencari pegangan pada zikir yang biasanya menenangkan. Namun kali ini, kata-kata itu terasa hambar di lidahnya yang kelu. Pikiran-pikiran buruk mulai menyerang seperti ribuan lebah: *Bagaimana jika dosen melihatnya? Bagaimana jika orang tuanya tahu? Siapa yang tega melakukan ini?*

Ia merasa tercekik. Jemarinya menarik-narik bagian leher hijabnya, mencoba melonggarkan kain yang terasa seperti jerat tali gantung. Ia merasa seolah-olah dinding toilet itu perlahan-lahan bergerak maju, menghimpitnya dalam ruang sempit yang tak menyisakan celah untuk bernapas.

Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia memeluk lututnya sendiri, menggigil hebat meski udara di luar c**up gerah. Bayangan dirinya di foto itu terus berputar-putar di benaknya. Di mata mereka, ia bukan lagi Ameera yang cerdas atau Ameera yang santun. Ia hanyalah sebuah objek, sebuah skandal, seorang pembohong yang menggunakan agama untuk menutupi "keliarannya".

Tiba-tiba, suara pintu toilet utama terbuka. Langkah sepatu hak tinggi terdengar beradu dengan lant**, diikuti oleh suara tawa yang sangat ia kenali.

"G***, ya? Gue sih sudah curiga dari lama. Mana ada cewek yang seleranya 'jadul' banget kalau nggak ada yang ditutup-tumpin," suara itu milik Sarah, salah satu mahasiswi yang sering bersaing dengannya di kelas.

"Iya, bener. Padahal dia selalu pasang muka paling alim. Ternyata di kamar... wah, gue rasa dia sengaja biar cowok-cowok makin penasaran," sahut temannya, terdengar suara gemericik air wastafel.

Ameera membeku di lant**. Ia menahan napas, menekan telapak tangannya ke mulut agar isaknya tidak lolos. Setiap kata yang mereka ucapkan seperti sembilu yang menyayat harga dirinya yang paling dalam.

"Eh, denger-denger foto itu nggak cuma satu," Sarah berbisik lagi, nadanya penuh dengan kegembiraan yang jahat. "Ada video juga katanya. Kalau itu sampai keluar, mending dia cabut dari kampus ini deh daripada malu-maluin."

Suara tawa mereka menjauh seiring tertutupnya pintu toilet.

Ameera masih terduduk di lant**, dunia di sekitarnya terasa sunyi sekaligus bising oleh detak jantungnya sendiri. Video? Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah, membasahi kain khimarnya yang lebar. Rasa sesak di dadanya bukan lagi karena ukuran fisiknya, melainkan karena luka yang dipaksakan ma**k ke jiwanya.

Ia meraih ponselnya yang masih tergeletak di lant**. Layarnya kembali menyala. Sebuah pesan ma**k dari nomor yang tidak dikenal, berisi satu kalimat singkat yang membuat seluruh bulu kuduknya berdiri:

*“Suka dengan kejutan paginya, Ameera? Itu baru pemanasan. Aku tahu apa yang kamu sembunyikan di balik kain tebal itu.”*

Ameera menatap layar itu dengan mata membelalak. Teror ini baru saja dimulai, dan ia menyadari bahwa musuhnya bukan hanya satu orang yang memegang kamera, melainkan seluruh persepsi orang-orang yang kini menatapnya dengan penuh penghakiman. Dengan tangan gemetar, ia mencoba berdiri, menatap bayangannya di pintu toilet yang kusam, bertanya-tanya apakah ia akan pernah bisa keluar dari sana sebagai orang yang sama lagi.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca