Luruhnya Tirai Kesabaran

Bab 5: Bab 5 - Menghadapi konfrontasi langsung dari teman deka...

Pengaturan Membaca

Lant** marmer koridor gedung fakultas yang biasanya terasa dingin, kini seolah memancarkan panas yang merambat naik melalui sol sepatu kets Ameera. Ia menunduk, fokus pada ujung khimar lebarnya yang sedikit bergoyang seiring langkah kakinya yang tergesa. Ameera merasa seolah-olah ada ribuan mata mikroskopis yang tertanam di dinding-dinding beton, menguliti setiap jengkal pakaian longgarnya, mencari-cari celah untuk membuktikan bahwa apa yang tersebar di grup WhatsApp kampus itu adalah kebenaran yang kotor.

Ia hanya ingin mencapai loker, mengambil buku referensi, lalu segera menghilang ke perpustakaan pusat yang lebih sunyi. Namun, langkahnya terhenti kaku ketika sesosok perempuan berdiri bersandar pada deretan loker logam abu-abu itu.

Dira. Sahabatnya sejak semester pertama. Orang yang biasanya menyambut Ameera dengan pelukan hangat atau sekadar guyonan tentang dosen killer. Namun hari ini, Dira berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya yang biasanya ceria tampak mengeras seperti pahatan batu.

"Ra," sapa Dira. Suaranya datar, tanpa nada akrab yang biasa Ameera dengar.

Ameera memaksakan sebuah senyum kecil yang terasa janggal di bibirnya yang kering. "Hai, Dir. Kamu sudah ambil modul untuk kelas jam sepuluh?"

Dira tidak menjawab. Ia justru menegakkan tubuh, menatap Ameera dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang membuat Ameera merasa seolah-olah ia sedang te******* di tengah keramaian. Dira kemudian mengeluarkan ponselnya, menggeser layar beberapa kali, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Ameera.

Foto itu. Foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi melalui celah jendela kamar kosnya. Ameera mengenakan tank top ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh yang selama ini ia sembunyikan di balik pakaian berlapis-lapis. Di foto itu, Ameera tampak sedang menghela napas panjang, membiarkan tubuhnya bebas dari tekanan kain yang menyesakkan. Narasi di bawah foto itu jauh lebih kejam: *“Si Suci yang Ternyata Haus Perhatian. Hijab Lebar Cuma Kedok?”*

Jantung Ameera berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. "Dir, aku bisa jelaskan. Itu di dalam kamarku sendiri. Aku tidak pernah bermaksud—"

"Tidak bermaksud apa, Ra?" potong Dira tajam. Suaranya mulai meninggi, menarik perhatian beberapa mahasiswa yang lewat. "Tidak bermaksud membohongi kami semua? Selama ini aku mengagumimu. Aku menganggapmu standar moral di lingkaran pertemanan kita. Tapi melihat ini..." Dira tertawa sumbang, sebuah tawa yang penuh kekecewaan. "Rasanya seperti dikhianati. Kamu memakai kain lebar ini seolah-olah kamu paling menjaga diri, tapi di belakang, kamu... seperti ini?"

Ameera merasakan matanya mulai memanas. "Seperti apa, Dir? Aku hanya manusia yang butuh bernapas. Kamu tahu betapa sesaknya memakai pakaian berlapis setiap hari di bawah terik matahari? Aku hanya ingin merasa nyaman di ruang pribadiku sendiri!"

"Nyaman atau ingin memamerkan apa yang kamu punya?" Dira melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. Matanya menyipit penuh prasangka. "Kalau kamu memang jujur dengan dirimu sendiri, kenapa harus disembunyikan sedemikian rupa? Orang-orang bilang kamu munafik, Ra. Dan sekarang, aku mulai percaya pada mereka. Semua kesantunanmu, cara bicaramu yang lembut... itu semua cuma akting supaya kamu dapat predikat mahasiswi teladan, kan?"

Kata-kata itu menghantam Ameera lebih keras daripada cacian anonim di internet. Ini Dira. Seseorang yang pernah berbagi bekal dengannya, seseorang yang menangis di bahunya saat gagal ujian. Bagaimana bisa orang sedekat ini bahkan tidak memberinya ruang untuk membela diri?

"Kamu pikir aku menikmati ini?" suara Ameera bergetar, kini serak karena menahan tangis. "Kamu pikir aku suka difitnah seperti ini? Aku korban, Dira. Seseorang ma**k ke ranah pribadiku, mengambil fotoku tanpa izin, dan menyebarkannya. Kenapa kamu justru fokus pada apa yang aku pakai di kamarku, bukan pada fakta bahwa privasiku telah dirampok?"

Dira menggeleng perlahan, wajahnya menunjukkan rasa muak yang tak ditutup-tutupi. "Karena kamu membangun citra yang terlalu tinggi, Ameera. Semakin tinggi kamu terbang sebagai 'malaikat', semakin sakit saat orang tahu kamu punya sisi gelap. Aku malu, Ra. Aku malu pernah membelamu saat orang-orang bilang kamu terlalu tertutup. Ternyata, ada alasan kenapa kamu menutupi segalanya rapat-rapat."

Dira memutar tubuhnya, hendak pergi. Namun, ia berhenti sejenak dan menoleh tanpa ekspresi. "Jangan duduk di sampingku di kelas nanti. Aku tidak mau ikut terseret dalam drama 'kemunafikan' ini."

Ameera terpaku di tempatnya. Ia ingin berteriak, ingin menjelaskan bahwa ukuran tubuhnya bukanlah sebuah dosa, dan melepaskan pakaian luar di dalam kamar bukanlah sebuah kejahatan moral. Namun, tenggorokannya seolah tersumbat oleh bongkahan es yang membeku.

Dira melangkah menjauh, meninggalkan Ameera yang kini menjadi pusat perhatian bisik-bisik di koridor. Saat itulah, ponsel di saku Ameera bergetar. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal ma**k.

*“Baru sahabatmu yang pergi, Ameera. Tunggu sampai orang tuamu melihat versi video yang lebih panjang. Masih mau tetap berpura-pura suci?”*

Darah di sekujur tubuh Ameera mendadak terasa dingin. Video? Ia mencengkeram pinggiran loker hingga buku jarinya memutih. Dunia yang ia bangun dengan penuh kehati-hatian kini benar-benar runtuh, dan ia bahkan tidak tahu siapa yang memegang kendali atas kehancurannya. Di ujung koridor, ia melihat ketua BEM fakultas bersama seorang dosen bimbingan akademik sedang berjalan menuju ke arahnya dengan wajah yang sangat serius. Ameera tahu, konfrontasi dengan Dira hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca