Debu-debu halus menari di bawah berkas cahaya matahari yang memaksa ma**k melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat. Aku memerhatikannya dari balik selimut, mengikuti gerak acak partikel itu dengan mata yang perih dan sembab. Sudah tiga hari aku tidak keluar kamar. Kamar kos yang biasanya menjadi tempatku beristirahat dengan damai, kini menjelma menjadi sel isolasi yang menyesakkan.
Di atas meja belajar, ponselku tergeletak dalam keadaan mati. Aku sengaja memutus akses ke dunia luar sejak notifikasi itu berubah menjadi air bah yang menenggelamkanku. Aku tidak sanggup lagi melihat unt**an kata "munafik", "pe***** berkedok alim", atau "sampah masyarakat" yang memenuhi kolom komentar dan pesan pribadi di media sosialku. Foto itu—foto yang seharusnya menjadi privasi mutlak di dalam kamarku sendiri—telah menjadi senjata yang menguliti harga diriku di depan ribuan orang yang bahkan tidak mengenalku.
Aku mencoba bangkit, tapi dadaku terasa luar biasa berat. Bukan hanya karena beban emosional, tapi juga karena sesak fisik yang selalu menghantuiku. Di balik kaus longgar yang kukenakan tanpa b** ini, aku merasa tubuhku adalah pengkhianat. Karena bentuk tubuh inilah aku dicerca. Karena keinginan sesaat untuk bernapas lega tanpa kaitan kain yang menyesakkan di kamarku sendiri, aku kini dianggap sebagai noda.
Langkahku gont** menuju cermin panjang di sudut ruangan. Aku menatap pantulan diriku. Mataku cekung, kulitku pucat, dan hijab yang biasanya tersampir rapi kini entah di mana. Aku terlihat seperti orang asing.
"Apa gunanya semua nilai A itu sekarang, Ameera?" bisikku pada bayangan di cermin. Suaraku parau, hampir tidak terdengar. "Apa gunanya menjadi mahasiswi teladan jika di mata mereka kamu hanya seonggok daging yang pantas dihina?"
Aku berjalan menuju lemari, menarik koper kain tua dari bagian atas. Tanganku gemetar saat mulai melipat satu per satu pakaianku. Aku ingin pergi. Aku ingin menghilang ke tempat di mana tidak ada yang mengenalku, di mana tidak ada yang tahu bagaimana bentuk tubuhku di balik kain lebar yang selama ini kukenakan. Mungkin pulang ke rumah adalah pilihan, tapi membayangkan kekecewaan di mata Ibu membuat lambungku bergejolak mual.
Tiba-tiba, suara ketukan di pintu memecah kesunyian. Aku membeku, menahan napas.
"Ameera? Ini aku, Sarah."
Itu suara teman satu organisasiku. Aku tidak menjawab. Aku meringkuk di lant**, memeluk lututku erat-erat. Aku bisa membayangkan wajah Sarah—apakah ia datang untuk menghibur, atau ia datang untuk memintaku mengundurkan diri dari jabatan sekretaris himpunan agar nama baik organisasi tidak semakin tercoreng?
"Ameer, aku tahu kamu di dalam. Aku membawakan nasi goreng," suara Sarah terdengar lagi, kali ini lebih lembut, namun bagiku itu terdengar seperti lonceng kematian. "Tolong buka pintunya. Kita perlu bicara soal... surat dari dekanat."
Dekanat. Kata itu menghantamku seperti godam. Harapan kecil yang tersisa bahwa pihak kampus akan tetap objektif seketika sirna. Jika dekanat sudah turun tangan, artinya karir akademisku sedang berada di ujung tanduk. Skandal ini bukan lagi sekadar gosip warung kopi, tapi sudah menjadi urusan administratif yang serius.
Aku masih diam, membiarkan Sarah terus memanggil di luar sana sampai akhirnya suaranya menghilang, digantikan oleh suara langkah kaki yang menjauh. Keheningan kembali merajai, namun kali ini terasa lebih menindas.
Aku beralih ke meja belajar, meraih laptop yang sudah berdebu. Dengan tangan yang masih gemetar, aku membuka sebuah dokumen baru. Jariku ragu-ragu di atas tuts kibor, sebelum akhirnya mulai mengetik sebuah surat.
*Kepada Yth. Dekan Fakultas Psikologi...*
*Saya yang bertanda tangan di bawah ini, Ameera Humaira, bermaksud mengajukan permohonan pengunduran diri sebagai mahasiswa...*
Setiap kata yang kuketik terasa seperti mengiris kulitku sendiri. Semua kerja keras, malam-malam tanpa tidur untuk belajar, dan impian untuk menjadi psikolog klinis yang bisa membantu orang lain, semuanya runtuh. Aku merasa kalah. Aku merasa bahwa bersembunyi adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup.
Aku menutup laptop dengan kasar sebelum menyelesaikan surat itu. Aku butuh udara, tapi aku takut keluar. Aku butuh perlindungan, tapi pakaian tertutupku sekarang terasa seperti kostum penipuan yang tidak lagi berguna.
Aku kembali ke koper, mema**kkan tumpukan buku referensi kuliah ke dalamnya dengan serampangan. Aku tidak peduli lagi. Aku akan pergi malam ini, saat semua orang sudah tidur, saat kegelapan bisa menyembunyikan wajahku yang penuh aib ini.
Namun, perhatianku teralihkan oleh sebuah amplop cokelat yang terselip di bawah pintu, mungkin diselipkan oleh Sarah tadi tanpa aku sadari. Dengan ragu, aku merangkak mendekat dan mengambilnya. Tidak ada nama pengirim, hanya namaku yang tertulis dengan huruf kapital yang kaku.
Aku merobek amplop itu. Di dalamnya bukan surat pemangg***n dari dekanat, melainkan selembar foto cetak. Jantungku seolah berhenti berdetak. Itu adalah foto yang sama yang viral—fotoku di kamar tanpa hijab—tapi ada sesuatu yang berbeda. Di bagian belakang foto itu, tertulis sebuah pesan dengan tinta merah yang tajam:
*“Ini baru permulaan, Ameera. Kamu pikir dengan pergi, semuanya akan selesai? Aku punya video yang lebih bagus dari sekadar foto ini.”*
Darahku mendesir dingin. Rasa putus asa yang tadinya membuatku ingin menyerah, tiba-tiba berganti dengan rasa mual yang disert** amarah yang asing. Ini bukan sekadar kecelakaan. Ini adalah perburuan. Seseorang tidak hanya ingin aku malu; seseorang ingin menghancurkanku sampai ke akar-akarnya.
Aku meremas foto itu hingga remuk di genggamanku. Jika aku pergi sekarang, aku hanya akan menyerahkan leherku pada pisau yang sudah mereka asah. Tapi jika aku tinggal, sanggupkah aku menghadapi badai yang lebih besar yang sedang disiapkan untukku?
Ketukan di pintu kembali terdengar. Kali ini bukan ketukan ragu-ragu seperti Sarah. Ini adalah ketukan yang keras, menuntut, dan penuh otoritas.
"Ameera Humaira! Buka pintunya! Ini pihak keamanan kos dan perwakilan pengurus lingkungan!"
Suara bising dari luar koridor mulai terdengar. Bisikan-bisikan tetangga kos yang penasaran mulai merayap ma**k ke celah pintu. Aku berdiri, menatap pintu kayu yang menjadi satu-satunya penghalang antara aku dan penghakiman massa. Pilihanku kini hanya dua: tetap mengunci pintu dan membiarkan mereka mendob**knya, atau membukanya dan menghadapi kiamat kecilku sendiri dengan kepala tegak.
Tanganku meraih gagang pintu, dingin dan keras. Aku menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-paruku yang sesak untuk terakhir kalinya sebelum tirai kesabaranku benar-benar luruh sepenuhnya.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!