Lant** ubin lorong gedung fakultas yang biasanya terasa dingin, kini seolah memancarkan panas yang merambat naik ke telapak kakiku. Setiap pasang mata yang berpaspasan denganku terasa seperti silet, menyayat harga diri yang susah payah kurajut kembali pagi ini. Aku mengeratkan pegangan pada tali tas selempangku, memastikan kain khimar lebarku menutupi dada dengan sempurna. Namun, ironisnya, semakin tertutup tubuhku, semakin aku merasa te******* di mata mereka.
Ponsel di saku gamisku bergetar. Satu notifikasi ma**k. Aku tidak perlu membukanya untuk tahu itu pasti komentar pedas lainnya di grup angkatan atau pesan anonim yang memakiku "munafik". Aku menarik napas panjang, namun dadaku terasa sesak. Bukan hanya karena kecemasan yang menghimpit, tapi juga karena lilitan korset yang kupakai terlalu kencang hari iniβsebuah usaha sia-sia untuk meminimalkan lekuk tubuh yang telah menjadi konsumsi publik tanpa seizinku.
"Ameera?"
Suara itu rendah dan tenang, memecah lamunan pahitku. Aku tersentak, nyaris menjatuhkan buku tebal yang kupeluk. Di ambang pintu ruang dosen yang sedikit terbuka, berdiri Pak Elang. Ia adalah dosen mata kuliah Komunikasi Digital yang masih muda, mungkin belum genap tiga puluh tahun. Kemeja birunya yang digulung hingga siku dan kacamata berbingkai tipis memberinya kesan modern dan tidak kaku.
"Iya, Pak?" suaraku mencicit, nyaris hilang tertelan bisingnya suara pendingin ruangan di lorong.
"Bisa bicara sebentar di dalam? Ada hal penting terkait tugas akhirmu... dan hal lain yang mungkin perlu kita diskusikan secara privat," ujarnya. Kalimat terakhirnya diucapkan dengan penekanan yang halus, namun c**up untuk membuat jantungku berdegup kencang.
Aku ragu. Apakah dia juga akan menceramahiku tentang moralitas? Apakah dia akan menatapku dengan tatapan mesum yang disamarkan dengan nasihat agama, seperti yang dilakukan beberapa orang di kolom komentar? Tanganku mulai berkeringat. Aku ingin lari, namun kakiku justru melangkah ma**k, didorong oleh sisa-sisa keberanian yang entah datang dari mana.
Ruangan Pak Elang beraroma kopi dan kertas lama. Ia mempersilakanku duduk di kursi kayu di depan mejanya. Ia tidak langsung bicara. Tangannya bergerak lincah di atas keyboard laptop, lalu ia memutar layarnya ke arahku.
Aku memejamkan mata rapat-rapat. Aku sudah siap melihat foto itu lagiβfoto diriku di dalam kamar, dengan kaos tipis tanpa lengan, memperlihatkan beban fisik yang selama ini kusembunyikan di balik kain-kain longgar. Foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari celah gorden yang tidak tertutup rapat.
"Buka matamu, Ameera. Aku tidak akan memperlihatkan apa yang sudah kau tahu," kata Pak Elang pelan.
Saat aku memberanikan diri mengintip, layar itu bukan menampilkan foto a**sila yang tersebar. Layar itu penuh dengan barisan kode, diagram jaringan, dan beberapa tangkapan layar akun bot di media sosial.
"Ini adalah analisis jejak digital dari penyebaran pertamamu," Pak Elang menjelaskan, suaranya kini terdengar sangat profesional, tanpa nada menghakimi sedikit pun. "Foto itu tidak disebarkan oleh satu orang yang sakit hati. Ini menggunakan sistem *bot* untuk memastikan kontennya *trending* di lingkungan kampus dalam waktu singkat. Seseorang merencanakan ini dengan sangat rapi untuk menghancurkan reputasimu secara sistematis."
Aku terpaku. Tenggorokanku terasa kering. "Kenapa... kenapa Bapak membantu saya? Semua orang menganggap saya pembohong. Mereka bilang saya menjual citra saleha padahal aslinya... aslinya..." Kalimatku menggantung. Air mata yang sejak tadi kutahan mulai mendesak keluar.
Pak Elang menyandarkan punggungnya ke kursi, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikanβbukan kasihan, tapi pemahaman. "Ameera, apa yang kau kenakan atau tidak kau kenakan di ruang pribadimu adalah hakmu sepenuhnya. Itu privasi. Yang menjadi masalah di sini bukan ukuran tubuhmu atau apa yang kau pakai di balik pintu kamar, melainkan pelanggaran privasi dan eksploitasi tanpa izin."
Ia menjeda sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih tegas. "Saya tidak melihat seorang munafik. Saya melihat seorang korban kejahatan siber. Dan sebagai dosen komunikasi digital, saya merasa bertanggung jawab jika ada mahasiswa saya yang diperlakukan seperti ini tanpa ada yang membela dari sisi teknis dan hukum."
Untuk pertama kalinya dalam seminggu ini, oksigen seolah kembali ma**k ke paru-paruku. Ada seseorang yang melihat masalah ini bukan sebagai skandal moral, melainkan sebagai sebuah ketidakadilan. Namun, rasa trauma itu masih ada. Aku teringat bagaimana teman baikku sendiri, yang tahu betapa tidak nyamannya aku dengan perhatian orang pada fisikku, justru ikut menjauh setelah foto itu viral.
"Bagaimana saya bisa tahu Bapak tidak punya niat lain?" tanyaku spontan, menyesali kelancanganku sedetik kemudian.
Pak Elang tidak tersinggung. Ia justru tersenyum tipis. "Pertanyaan yang bagus. Jangan mudah percaya pada siapa pun saat ini, bahkan saya. Tapi, saya punya satu data yang mungkin bisa membuatmu mempertimbangkan kerja sama ini."
Ia mengklik sebuah folder di laptopnya. Muncul sebuah nama pengguna yang sering kulihat mengirimkan komentar-komentar paling jahat di akun Instagram-ku.
"Akun 'ShadowSeeker' ini adalah akun utama yang pertama kali mengunggah fotomu ke forum kampus. Saya berhasil melacak alamat IP-nya. Alamat itu merujuk pada sebuah koneksi Wi-Fi yang sangat familiar bagimu."
Jantungku seolah berhenti berdetak saat Pak Elang menyebutkan lokasi yang tertera di layarnya. Itu bukan sembarang tempat. Itu adalah alamat yang sangat dekat denganku, tempat yang seharusnya menjadi zona amanku selama ini.
"Itu... itu mustahil," bisikku, tubuhku mulai bergetar hebat.
"Kau tahu siapa yang memiliki akses ke jaringan itu, Ameera?" tanya Pak Elang, suaranya kini selembut bisikan namun tajam seperti sembilu.
Baru saja aku hendak menjawab, pintu ruangan Pak Elang digedor dengan keras dari luar. Suara teriakan massa terdengar sayup-sayup dari arah gerbang fakultas, menyebut namaku dengan kata-kata yang membuat nyaliku menciut seketika. Sepertinya, penghakiman massa yang lebih besar telah tiba di depan pintu sebelum aku sempat mencerna pengkhianatan yang baru saja terungkap.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!