Layar laptop itu seolah memancarkan radiasi yang membakar kornea mata Ameera, namun ia menolak untuk berpaling. Di sana, di sebuah forum diskusi kampus yang moderatnya entah sengaja memejamkan mata, foto itu terpampang nyata. Sosok dalam foto itu adalah dirinya—Ameera yang tanpa jilbab lebar, tanpa tunik longgar, hanya mengenakan kaus tipis yang pas di badan karena ia butuh bernapas sejenak dari rasa sesak yang menghimpit dadanya setiap hari.
Tangannya gemetar, jemarinya terasa dingin seperti es saat menyentuh *touchpad*. Ia melakukan hal yang paling menyakitkan bagi harga dirinya: memperbesar foto itu berkali-kali lipat. Ia bukan sedang meratapi nasib, melainkan sedang mencari titik koordinat kehancurannya.
"Pikir, Ameera. Gunakan otakmu, bukan air matamu," bisiknya pada diri sendiri, suaranya serak akibat terlalu banyak diam sejak berita itu meledak dua hari lalu.
Ia memperhatikan latar belakang foto tersebut. Terlihat sudut lemari bukunya yang berwarna putih dan sebagian kecil dari gantungan jilbabnya. Sudut pengambilan gambarnya sedikit miring ke atas. Ameera bangkit dari kursi, kakinya terasa lemas saat melangkah menuju jendela kamarnya yang kini tertutup rapat dengan gorden berlapis ganda yang ia selotip di bagian pinggirnya.
Ia berdiri di titik tempat ia biasanya melepaskan beban—di depan cermin riasnya. Ia memutar tubuh, memposisikan dirinya persis seperti dalam foto tersebut. Kemudian, ia menoleh ke arah jendela.
Jantungnya berdegup kencang, dentumannya terasa hingga ke pangkal tenggorokan. Gorden itu. Jika ada celah sekecil apa pun, maka sang pengint** berada di luar sana. Namun, kamar kosnya berada di lant** dua. Di luar jendela itu hanya ada gang sempit yang memisahkan bangunannya dengan gedung kos putra yang terletak tepat di seberangnya.
Ameera mendekat ke jendela, tangannya perlahan menyibak sedikit saja kain gorden. Sinar matahari siang menyelinap ma**k, menusuk matanya yang sembab. Ia menghitung jarak. Antara jendelanya dan jendela gedung seberang hanya terpaut sekitar tiga atau empat meter. Sangat mungkin bagi seseorang dengan lensa tele atau bahkan ponsel pintar model terbaru untuk menangkap gambar dari sana.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal.
Ia kembali menatap foto di layar laptop. Pencahayaan dalam foto itu terlalu terang untuk diambil dari jarak jauh melalui kaca jendela yang biasanya sedikit berdebu. Cahayanya bersih, seolah-olah tidak ada penghalang antara lensa dan dirinya.
"Tidak mungkin dari seberang," gumamnya, napasnya mulai memburu.
Ia berlutut di dekat bingkai jendela, meraba kayu kusen yang sudah agak tua itu. Jemarinya berhenti pada sebuah lubang kecil di sudut bawah, dekat engsel. Lubang itu tampak janggal, seperti bekas bor halus yang dipaksakan. Ameera merasakan sensasi dingin menjalar di punggungnya. Jika lubang itu digunakan untuk menyisipkan lensa kamera mini, maka pelakunya tidak berada di gedung seberang.
Pelakunya ada di dalam sini. Di gedung ini.
Pikiran itu menghantamnya seperti godam. Kos putri ini adalah zona aman bagi Ameera—atau setidaknya begitu pikirnya selama ini. Hanya ada sepuluh kamar di lant** ini, dan semuanya dihuni oleh mahasiswi yang ia kenal baik. Ada Maya yang selalu ceria, Siska yang pendiam namun rajin memberi makanan, dan... Ameera terhenti.
Ia teringat suara langkah kaki yang sering terdengar di lorong tepat sebelum ia berangkat kuliah. Langkah kaki yang terkadang berhenti tepat di depan pintunya selama beberapa detik sebelum akhirnya menjauh. Selama ini ia menganggap itu hanya imajinasi atau tetangga yang sekadar lewat.
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk. Ameera tersentak, hampir saja ia m****ik.
"Meera? Kamu di dalam?"
Itu suara Maya. Suara yang biasanya terdengar ramah dan suportif. Namun sekarang, suara itu terdengar seperti lonceng peringatan di telinga Ameera. Apakah Maya salah satu dari mereka yang menertawakannya di belakang? Ataukah Maya yang memegang kamera itu?
"Aku... aku sedang istirahat, May," jawab Ameera, berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil meski dadanya terasa seperti diremas.
"Aku cuma mau antar makanan. Aku taruh di depan pintu, ya? Jangan lupa dimakan. Kami semua... kami semua mendukungmu, kok. Jangan dengarkan kata orang di luar sana."
Ameera terdiam di balik pintu. Ia mendengarkan bunyi plastik yang diletakkan di atas lant**, disusul suara langkah kaki Maya yang menjauh. Langkah kaki itu... Ameera memicingkan mata. Irama langkah Maya terdengar sedikit lebih berat di kaki kanan, persis seperti bunyi langkah yang sering berhenti di depan kamarnya belakangan ini.
Ameera menunggu hingga suasana benar-benar sepi. Dengan gerakan hati-hati, ia membuka pintu sedikit saja untuk mengambil bungkusan makanan itu. Namun, pandangannya justru jatuh pada lant** di depan pintunya. Di sana, di sela-sela antara ubin dan kusen pintu bawah, terselip sebuah benda kecil berwarna hitam metalik.
Ia memungutnya dengan ujung jari yang gemetar. Itu adalah sebuah tutup lensa kamera berukuran mikro.
Darah di wajah Ameera seolah tersedot habis. Benda ini tidak mungkin jatuh di sini secara kebetulan. Pelakunya baru saja kembali ke tempat kejadian, atau mungkin, pelakunya baru saja mencoba untuk mengambil foto baru.
Ameera menutup pintu dan menguncinya dengan tiga putaran kunci. Ia menyandarkan punggungnya di pintu, memeluk dirinya sendiri. Rasa sesak itu kembali datang, tapi kali ini bukan karena ukuran fisiknya yang selama ini ia sembunyikan di balik hijab besarnya. Ini adalah rasa sesak karena pengkhianatan.
Seseorang yang ia anggap teman, seseorang yang berbagi tawa di dapur umum, mungkin adalah orang yang menghancurkan hidupnya demi sebuah narasi 'kemunafikan'.
Ameera membuka ponselnya, membuka grup WhatsApp penghuni kos. Ia memperhatikan daftar nama-nama di sana satu per satu. Setiap nama kini tampak seperti tersangka. Namun, matanya terpaku pada satu det**l kecil. Maya baru saja mengganti foto profilnya. Di latar belakang foto profil Maya yang baru, terlihat sebuah kamera DSLR tergantung di bahunya—kamera yang selama ini Maya klaim sebagai pinjaman dari UKM fotografi.
Ameera mengambil napas dalam-dalam, mencoba menguasai getaran di tangannya. Ia tidak bisa hanya bersembunyi. Jika ia terus diam, mereka akan terus mengulitinya sampai tidak ada lagi yang tersisa dari martabatnya.
Ia kembali ke laptop, kali ini bukan untuk meratapi foto dirinya, melainkan untuk mencari tahu spesifikasi kamera yang Maya miliki. Namun, saat ia mulai mengetik di mesin pencari, sebuah notifikasi pesan ma**k muncul di pojok layar. Sebuah nomor tak dikenal mengirimkan pesan pribadi ke akun media sosialnya.
*“Cantik juga ya kalau dilepas semua. Mau foto yang lebih jelas, atau mau kita bicarakan ini di tempat biasa?”*
Jantung Ameera terasa berhenti berdetak. Di bawah pesan itu, terlampir sebuah foto baru—foto punggungnya yang sedang berdiri di depan jendela, diambil dari sudut yang sangat dekat, seolah sang pengambil foto berada tepat di belakangnya saat ia menyibak gorden tadi.
Ameera refleks menoleh ke belakang, ke arah kamarnya yang kosong dan sunyi. Tidak ada siapa-siapa. Namun, di langit-langit dekat ventilasi udara, ia melihat sesuatu yang berkilat kecil. Sebuah lensa yang menatapnya dengan dingin.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!