Gelas kristal di tanganku berdenting halus saat bongkahan es batu beradu dengan cairan amber Macallan 18 tahun. Dari lant** empat puluh penthouse ini, lampu-lampu Jakarta tampak seperti tumpahan berlian di atas beludru hitam. Indah, sunyi, dan yang paling penting: milikku sendiri.
Aku menghirup aroma wiski yang tajam, membiarkan kehangatannya membakar tenggorokan. Tepat setahun yang lalu, hidupku hanyalah bayang-bayang di balik dominasi Papa yang otoriter dan cerewetnya Mama tentang tata krama. Namun, sebuah rem yang blong di tikungan curam menuju Puncak telah membereskan segalanya. Sebelas nyawa ditukar dengan kebebasan mutlak dan saldo rekening yang tak akan habis tujuh turunan.
Aku menyesap minuman itu lagi, menatap pantulan diriku di kaca jendela yang gelap. Wajahku tampak tenang, nyaris seperti malaikat yang berduka. Aku sudah melatih ekspresi ini di depan cermin selama berbulan-bulan; duka yang pas, kesedihan yang elegan. Tak ada yang curiga bahwa di balik setelan sutra ini, aku merasa seolah baru saja memenangkan lotre terbesar dalam sejarah manusia.
"Keheningan ini mahal harganya," bisikku pada udara kosong.
Tiba-tiba, ponselku yang tergeletak di meja marmer bergetar. Getarannya terasa aneh, lebih panjang dan lebih mendesak daripada biasanya. Aku mengerutkan kening. Siapa yang berani mengganggu pukul sebelas malam? Mungkin asisten pribadiku, atau salah satu model yang sedang berusaha merayuku demi tas bermerek.
Aku meraih ponsel itu. Sebuah notifikasi WhatsApp muncul di layar kunci.
*Anda ditambahkan ke grup 'Keluarga Besar'*
Jantungku berdegup sekali, keras. Aku tertawa pendek, nyaris tersedak wiski. 'Keluarga Besar'? Siapa yang c**up bodoh untuk membuat lelucon hambar seperti ini? Semua sepupuku, paman, dan bibiku ikut berada di dalam bus maut itu. Tidak ada yang tersisa selain aku.
Aku membuka aplikasi tersebut, berniat untuk memblokir nomor iseng itu. Namun, jemariku membeku di atas layar.
Daftar anggota grup itu muncul satu per satu. Foto profil mereka berkedip-kedip seolah sedang memuat ulang data dari alam baka.
*Papa (Admin)*
*Mama*
*Paman Hardi*
*Bibi Ratna*
*Siska*
*Dito*
...dan lima lainnya.
Semuanya menggunakan nomor lama mereka. Nomor-nomor yang aku sendiri yang mengurus penonaktifannya ke gerai provider setahun yang lalu. Foto profil mereka adalah foto terakhir yang aku ingat; Papa dengan kacamata emasnya, Mama yang tersenyum kaku dengan sanggul rapi, dan Siska—sepupuku yang paling muda—yang sedang memegang es krim.
"Br******," desisiku. "Siapa yang sedang bermain-main?"
Pikiran taktisku segera bekerja. Ini pasti peretasan. Seseorang di perusahaan, atau mungkin kerabat jauh yang merasa tidak puas dengan pembagian warisan, telah membayar peretas profesional untuk memulihkan nomor-nomor ini. Tujuannya jelas: intimidasi. Mereka ingin memeras hartaku dengan memainkan trauma masa lalu.
Aku mengetik dengan cepat, jariku menekan layar dengan kasar.
*Raka: Siapa ini? Hentikan lelucon sampah ini atau saya lapor polisi.*
Hening.
Aku menatap layar ponsel, menunggu balasan 'Ketik Reg' atau pengakuan bahwa ini adalah prank. Namun, status di bawah nama 'Papa' berubah menjadi *'typing...'*.
Lalu, sebuah gelembung pesan muncul.
*Papa: Raka, kenapa kamu mengancam orang tuamu sendiri? Tidak sopan.*
Darahku terasa mendingin sesaat, namun paranoia sosiopatku segera mengambil alih. Aku tahu teknik manipulasi ini. Mereka menggunakan data pribadi untuk menyerang psikologis.
*Mama: Raka sayang, rumah baru kamu bagus ya. Dingin. Tapi di sini jauh lebih dingin, Nak. Tanah di atas kami berat sekali.*
Aku tersentak, hampir menjatuhkan gelas wiski. Mataku menyapu sekeliling ruangan penthouse yang luas. Bagaimana mereka tahu aku sedang merasa kedinginan? AC sentral memang sedang aku atur di suhu terendah. Aku segera berjalan menuju jendela, memeriksa apakah ada kamera tersembunyi atau seseorang yang mengintip dengan teleskop dari gedung seberang. Tidak ada apa-apa. Hanya kegelapan dan kerlip lampu kota.
*Paman Hardi: Kamu memakai jam tangan Rolex-ku, Raka. Bagus, kamu merawatnya dengan baik. Tapi baunya masih bau bensin, seperti saat bus itu meledak.*
Aku menunduk menatap pergelangan tangan kiriku. Jam tangan emas yang melingkar di sana memang milik Paman Hardi. Aku mengambilnya dari tangannya yang sudah hangus sebelum petugas evakuasi datang. Det**l itu... tidak ada yang tahu. Aku melakukannya dengan sangat rapi di tengah kekacauan asap dan jeritan.
*Siska: Kak Raka, kenapa Kakak tidak membantu Siska waktu itu? Kakak cuma diam menatap Siska yang terjepit kursi.*
Nafasku mulai memburu. Ini mustahil. Tidak ada saksi mata. Semua orang di bus itu sudah mati. Aku adalah satu-satunya yang berhasil memecahkan jendela dan melompat keluar tepat sebelum tangki bensin meledak. Aku memang melihat Siska, kakinya hancur tertindih besi, matanya memohon pertolongan. Dan aku memilih untuk menjauh agar tidak ikut terbakar.
Tanganku mulai gemetar, sebuah sensasi yang sangat asing bagiku yang selalu memegang kendali. Aku mencoba keluar dari grup tersebut. Aku menekan opsi 'Exit Group' berulang kali.
*Failed to leave group.*
*Failed to leave group.*
Layar ponselku tiba-tiba berkedip merah. Sebuah notifikasi baru muncul, bukan lagi berupa pesan teks, melainkan sebuah instruksi.
*Papa: Raka, kami butuh teman. Tapi karena kamu masih ingin menikmati uang kami, kamu harus memberi kami 'persembahan' sebagai gantinya. Jika tidak, kami yang akan datang menjemputmu malam ini.*
*Pesan Baru dari 'Keluarga Besar':*
*Instruksi 1: Ambil pisau dapurmu. Sayat telapak tangan kirimu sedalam satu sentimeter. Jangan obati sampai darahnya menetes ke lant** marmer mahalmu itu.*
"G***! Benar-benar g***!" aku berteriak, melemparkan ponsel itu ke sofa.
Aku tidak akan tertipu. Ini hanya intimidasi psikologis tingkat tinggi. Aku harus tenang. Aku harus memikirkan langkah selanjutnya. Aku akan mematikan ponsel ini, mencabut kartunya, dan besok aku akan menyewa detektif swasta terbaik untuk melacak siapa pun yang berada di balik akun-akun ini.
Aku berbalik menuju bar mini untuk menuangkan wiski lagi, mencoba mengembalikan ketenanganku. Namun, saat aku melangkah, kakiku terasa sangat berat.
Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa menghantam betis kananku. Rasanya seolah-olah ada tangan tak kasat mata dengan kuku-kuku tajam yang mencengkeram kulitku dan menariknya ke bawah. Aku tersungkur, lututku menghantam lant** marmer dengan keras.
"Argh!" aku mengerang, mencoba melepaskan cengkeraman itu, namun tidak ada apa-apa di sana. Hanya udara kosong. Namun, kulit di betisku perlahan mulai membiru dan melesap ke dalam, meninggalkan bekas memar berbentuk jari tangan manusia yang mungil—seukuran tangan Siska.
Ponsel di sofa berdenting lagi. Suaranya terdengar begitu nyaring di tengah kesunyian malam.
*Mama: Jangan membantah, Raka. Papa paling tidak suka anak yang membangkang. Lakukan sekarang, atau kami tarik kamu ma**k ke dalam lubang kubur kami sekarang juga.*
Rasa sakit di kakiku semakin menjadi. Aku merasa seolah otot-ototku sedang ditarik paksa keluar dari tulang. Aku merangkak dengan payah menuju meja dapur, air mata paksaan mulai membasahi pipiku—kali ini bukan sandiwara, melainkan ketakutan murni akan rasa sakit yang tak ma**k akal.
Aku meraih pisau dapur berbahan keramik hitam yang mengkilap. Sinar lampu kristal memantul di matanya yang tajam.
"Ini cuma halusinasi... ini cuma sugesti..." gumamku berulang kali, mencoba membohongi diriku sendiri.
Namun, saat bayangan hitam samar mulai muncul dari sudut mataku—sebelas sosok bayangan yang berdiri mengelilingiku di ruang tamu yang mewah—aku tahu bahwa warisan ini ternyata memiliki bunga hutang yang harus dibayar dengan darah.
Aku menempelkan mata pisau itu ke telapak tanganku. Dingin. Tajam. Dan di layar ponsel yang masih menyala, sebuah pesan terakhir muncul sebelum aku menekan pisau itu ke kulitku.
*Papa: Bagus. Anak pintar.*
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!