Lampu gantung kristal di ruang tengah berpijar redup, memantulkan bayangan panjang yang gemetar di atas lant** marmer. Aku menuangkan wiski ke dalam gelas, membiarkan bunyi denting es batu mengisi kesunyian rumah yang terlalu luas ini. Namun, ketenangan itu hanyalah kulit ari yang tipis. Di balik saku celanaku, ponsel itu bergetar lagi.
*Zzztt. Zzztt.*
Satu notifikasi muncul di layar yang menyala terang di kegelapan.
**Ayah: "Raka, kamu masih ingat bau oli dan besi malam itu?"**
Gelas di tanganku hampir saja terlepas. Cairan amber di dalamnya bergoyang hebat, menciptakan riak yang mencerminkan wajahku yang pucat. Bau oli? Paru-paruku mendadak terasa menyempit, seolah-olah udara di ruangan ini bertransformasi menjadi uap bensin yang menyesakkan. Ingatanku, yang selama setahun ini kusegel rapat-rapat di ruang bawah tanah kesadaranku, mendadak mendob**k paksa.
Malam itu. Malam yang sama basahnya dengan malam ini.
Aku bisa merasakan kembali dinginnya lant** semen garasi yang lembap di bawah punggungku. Bau apak ban bekas dan sisa knalpot menusuk hidung. Di atap seng garasi, hujan turun seperti ribuan peluru yang menghujam, meredam setiap bunyi yang keluar dari bawah kolong bus pariwisata milik keluarga kami.
Aku berbaring di sana, di bawah perut besi raksasa itu. Tanganku gemetar, bukan karena takut, melainkan karena adrenalin yang meledak-ledak. Di tangan kananku, sebuah tang pemotong industri terasa dingin dan berat. Cahaya senter kecil yang kugigit di mulut bergoyang-goyang, menyinari jalur kabel rem yang melintang seperti urat nadi mangsa yang siap disembelih.
*Keluarga besar,* batisku saat itu, diiringi seringai tipis. Sebelas orang yang selalu menuntut, sebelas mulut yang merasa berhak atas setiap tetes keringat yang kuhasilkan, sebelas penghalang yang menahan langkahku menuju puncak dunia. Ayah yang kolot, Ibu yang terlalu banyak menuntut, paman dan bibi yang parasit. Mereka semua akan pergi berlibur besok pagi. Sebuah perjalanan terakhir yang sudah kurancang dengan presisi seorang arsitek.
"Raka? Kamu di bawah sana?"
Suara berat Ayah memecah suara hujan. Aku tersentak, kepalaku membentur bagian bawah bus dengan dentuman keras. Aku segera mematikan senter dan menahan napas. Sepatu bot karet Ayah terlihat berhenti tepat di samping roda belakang.
"Cuma memeriksa oli, Yah!" seruku, berusaha menjaga nada suaraku agar tetap datar. Aku bisa merasakan keringat dingin mengucur dari pelipisku, bercampur dengan minyak hitam yang menetes dari mesin.
"Sudahlah, tidur. Besok kita berangkat subuh. Kamu yakin tidak mau ikut ke Puncak?"
"Pekerjaanku menumpuk, Yah. Lain kali saja," jawabku. Senyum manipulatif yang biasa kugunakan di depan klien kini terpasang otomatis, meski ia tak bisa melihatnya.
"Ya sudah. Jangan terlalu lelah. Ayah bangga punya anak serajin kamu," ucapnya tulus sebelum langkah kakinya menjauh, meninggalkan keheningan yang lebih berat dari sebelumnya.
*Bangga,* aku mendengus dalam hati. Kebanggaannya tidak akan bisa melunasi hutang-hutang investasiku yang membengkak atau membeli kebebasan yang kuimpikan. Begitu dia menghilang, aku kembali bekerja.
*Crak.*
Bunyi logam yang terpotong itu terdengar sangat memuaskan di telingaku. Cairan rem mulai menetes keluar, pelan namun pasti, seperti darah yang merembes dari luka dalam. Satu persatu kabel kulumat dengan tang baja itu. Aku memastikan kerusakan itu tidak akan langsung terasa saat bus dinyalakan, namun akan gagal total saat bus melintasi turunan tajam di jalur maut Cisarua.
Aku keluar dari bawah bus dengan tubuh belepotan oli hitam. Di bawah temaram lampu garasi, aku menatap telapak tanganku. Hitam, pekat, dan berbau logam yang tajam. Itulah bau kesuksesan. Itulah bau warisan miliaran rupiah yang sebentar lagi akan jatuh ke tanganku tanpa perlu dibagi dengan siapa pun.
Keesokan paginya, aku berdiri di teras rumah, melambaikan tangan dengan wajah penuh kesedihan palsu saat bus itu perlahan bergerak meninggalkan halaman. Ibu melambaikan tangan dari jendela, memberikan ciuman jauh. Maya, adikku yang paling kecil, menempelkan telapak tangannya di kaca bus sambil tersenyum lebar. Aku membalas lambaian mereka sampai bus itu hilang di tikungan jalan.
Satu jam kemudian, aku duduk di ruang tamu ini, menyesap kopi, menunggu telepon yang akan mengubah hidupku selamanya. Dan ketika telepon itu berdering, memberi tahu bahwa bus keluarga kami ma**k ke jurang sedalam lima puluh meter karena rem blong, aku tidak menangis. Aku hanya menutup mata dan membayangkan angka-angka di rekening bankku yang mulai merangkak naik.
*Drrrtt.*
Getaran ponsel di atas meja kayu jati membuyarkan lamunanku. Aku tersentak, napasku memburu seolah baru saja berlari berkilo-kilometer.
Di layar ponsel, sebuah foto baru saja diunggah ke dalam grup WhatsApp 'Keluarga Besar'. Jantungku seolah berhenti berdetak. Itu adalah foto sebuah tangan yang hancur, tertutup tanah pemakaman, namun di sela-sela kuku yang patah itu, terdapat noda hitam oli yang segar.
**Ibu: "Raka, tanganmu masih bau oli. Kemarilah, biar Ibu cuci di bawah tanah."**
Tiba-tiba, lampu kristal di atasku padam. Kegelapan total menyergap. Di tengah kesunyian yang mencekam, indra penciumanku mendeteksi sesuatu yang mustahil. Bau oli mesin yang terbakar dan aroma tanah basah menyeruak di dalam ruangan, seolah-olah bus yang hancur itu baru saja diparkir tepat di depanku.
Lalu, dari arah dapur, terdengar suara gesekan langkah kaki yang berat dan basah. Seseorang sedang menyeret kakinya di atas lant** marmerku yang mahal.
*Sreeek... Sreeek...*
"Raka... remnya... tidak pakem..." Suara parau Ayah berbisik tepat di belakang telingaku, dinginnya napas itu membuat bulu kudukku berdiri kaku.
Aku terpaku, tak berani menoleh. Di pantulan layar ponsel yang masih menyala, aku melihat sebuah bayangan hitam dengan tubuh yang tertekuk aneh, berdiri menjulang di belakang kursiku. Tangannya yang berlumpur perlahan merayap naik ke pundakku, meninggalkan jejak oli hitam di kemeja putihku yang bersih.
"Kamu... mau warisan kita, kan?" bisik suara itu lagi, kini disert** bunyi tulang yang berderak.
Aku mencoba berteriak, namun tenggorokanku seolah tersumbat lumpur. Saat itu juga, ponselku berbunyi lagi. Sebuah notifikasi pangg***n video ma**k. Dari nomor almarhumah Maya.
Dengan tangan gemetar hebat, aku melihat layar. Kamera itu aktif, namun yang terlihat hanyalah kegelapan total, sampai perlahan-lahan, sebuah lampu senter kecil menyala, menyinari wajah yang hancur dan berlumuran oli, tersenyum lebar ke arah kamera.
"Kak Raka, lihat... aku menemukan tang pemotongmu di bawah bus."
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!