Gelas kristal berisi wiski berumur dua puluh tahun itu berembun di tangan Raka. Ia menyesapnya perlahan, membiarkan cairan hangat itu membakar kerongkongannya, mencoba mengusir hawa dingin yang entah mengapa selalu menggelayuti tengkuknya sejak sore tadi. Dari jendela penthouse lant** tiga puluh enam ini, lampu-lampu Jakarta tampak seperti hamparan berlian yang tumpah di atas beludru hitam. Ini adalah hidup yang ia perjuangkan. Hidup yang ia beli dengan harga yang sangat mahal.
*Ping.*
Suara notifikasi itu memotong keheningan ruangan yang kedap suara. Raka tersentak, hampir menjatuhkan gelasnya. Di atas meja marmer, layar ponselnya menyala, menampilkan jendela *pop-up* dari grup WhatsApp yang paling ia benci di dunia ini: **Keluarga Besar (12)**.
**Papa:** *Raka, kami sudah menunggumu di meja makan. Tapi mejanya kosong. Kursinya hampa.*
**Mama:** *Jangan rakus, Sayang. Harta itu tidak akan dibawa mati. Tapi dosa akan terus mengejar sampai ke liang lahat.*
Jantung Raka berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan ritme yang menyakitkan. Ia meletakkan gelasnya dengan tangan gemetar. Jemarinya ragu-ragu saat meraih ponsel itu.
**Raka:** *Aku sudah melakukan apa yang kalian minta. Aku sudah menyingkirkan orang-orang yang kalian tunjuk. Apa lagi?*
**Kakek Danu:** *Pengakuan, Cu. Kami ingin pengakuan. Besok adalah peringatan satu tahun kecelakaan bus itu. Kau akan berdiri di depan kamera, di depan wartawan, dan katakan pada mereka bagaimana kau menyabotase rem bus kami demi polis a**ransi dan warisan ini.*
Mata Raka membelalak. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. "G***," desisnya lirih. "Kalian sudah g***."
Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa menghujam dadanya. Seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang merobek kulitnya, mencoba meremas jantungnya langsung dari dalam. Raka tersungkur ke lant** parket, terengah-engah. Oksigen seolah lenyap dari ruangan itu. Di layar ponsel yang tergeletak di depan matanya, pesan-pesan baru bermunculan dengan kecepatan tidak wajar.
**Adik bungsu (Sari):** *Sakit ya, Kak? Seperti saat kepalaku terbentur aspal? Akui saja. Biar kami tenang. Biar Kakak juga tenang.*
**Paman Hardi:** *Besok jam 10 pagi di konferensi pers yayasanmu. Jika kata-kata itu tidak keluar dari mulutmu, kami akan menarikmu ma**k ke tanah besok juga. Kami sudah menyiapkan lubang di sebelah kami.*
Raka mencengkeram dadanya, kuku-kukunya memutih. Pikirannya berputar liar. Mengaku? Itu sama saja dengan bunuh diri secara sosial. Ia akan kehilangan segalanyaβpenthouse ini, reputasinya sebagai pengusaha muda yang dermawan, statusnya, dan yang paling penting, kebebasannya. Ia akan membusuk di penjara, dipandang rendah sebagai monster pembunuh keluarga.
Rasa sakit itu perlahan mereda begitu Raka mulai mengetik dengan tangan yang masih gemetar hebat.
**Raka:** *Aku tidak bisa. Aku akan memberikan kalian hal lain. Apa pun. Nyawa lain. Aku akan memberikan kalian 'makan' yang lebih besar.*
Hening sejenak. Raka menahan napas, menatap layar dengan mata yang perih karena lupa berkedip.
**Papa:** *Siapa? Siapa yang lebih berharga dari kebenaran?*
Raka menelan ludah. Ia memikirkan satu nama. Seseorang yang belakangan ini mulai mencium bau busuk di balik kekayaannya. Seseorang yang seharusnya ia lindungi, namun kini menjadi satu-satunya kartu as untuk menyelamatkan lehernya sendiri.
**Raka:** *Arini. Tunanganku. Dia suci, dia dicint** banyak orang. Jika aku melenyapkannya untuk kalian, bukankah itu pengorbanan yang lebih besar daripada sekadar pengakuan?*
Raka merasa mual saat mengetik kalimat itu. Namun, rasa takutnya akan kemiskinan dan kematian jauh lebih besar daripada rasa cintanya pada Ariniβatau siapa pun. Baginya, manusia hanyalah bidak dalam papan catur kehidupannya.
Layar ponselnya berkedip-kedip. Sebuah foto terkirim ke dalam grup. Itu adalah foto Arini yang sedang tidur di kamarnyaβfoto yang diambil dari sudut yang mustahil, seolah-olah ada seseorang yang berdiri tepat di samping tempat tidurnya saat ini.
**Mama:** *Gadis yang cantik. Dia akan menjadi teman yang baik untuk Mama di sini.*
**Papa:** *Lakukan sebelum matahari terbit. Jika dia tidak mati di tanganmu, maka kau yang akan kami jemput saat fajar menyingsing. Ingat, Raka... kami selalu memperhatikanmu dari balik bayangan.*
Raka bangkit berdiri dengan kaki lemas. Ia berjalan menuju lemari pajangannya, mengambil sebuah pisau lipat taktis dengan bilah hitam yang eleganβhadiah ulang tahun dari Arini bulan lalu. Ia menatap bayangannya di cermin. Wajahnya pucat, matanya tampak liar dan cekung, namun ada garis tipis senyuman dingin di sudut bibirnya.
Manipulasi adalah keahliannya. Sandiwara adalah napasnya. Jika dunia ingin melihatnya sebagai pahlawan yang berduka, ia akan memainkan peran itu sampai akhir, bahkan jika ia harus menumpuk mayat di bawah kakinya untuk tetap berdiri tegak.
Ia menyambar kunci mobil dan memakai jaket hitamnya. Paranoianya membisikkan bahwa arwah-arwah keluarganya sedang duduk di kursi belakang mobilnya, mengawasi setiap gerakannya. Namun, ia tidak punya pilihan. Reputasi adalah segalanya. Dan nyawa Arini hanyalah harga kecil yang harus dibayar untuk mempertahankan mahkotanya yang berdarah.
Saat ia melangkah keluar menuju lift, ponselnya bergetar lagi. Bukan pesan teks, melainkan sebuah pangg***n video dari grup tersebut. Raka membeku. Ia tidak berani mengangkatnya, namun layar itu otomatis terbuka.
Kamera depan ponselnya menyala, menampilkan wajah Raka sendiri yang tampak ketakutan. Namun, di belakang bayangannya di layar ponsel, di dalam lift yang kosong itu, terlihat sebelas sosok pucat dengan tubuh hancur yang berdiri berdesakan, mengelilinginya dengan mata hitam yang melotot tajam.
Raka tidak berani menoleh ke belakang. Ia hanya bisa menatap layar ponselnya saat lift mulai bergerak turun menuju basement, menuju tempat Arini berada.
"Satu nyawa lagi," bisik Raka pada pantulan dirinya sendiri, suaranya parau dan hampir pecah. "Hanya satu lagi, lalu kalian harus meninggalkanku sendiri."
Namun, di layar ponsel, sosok Papa tampak mendekatkan wajah hancurnya ke arah kamera dan berbisik tanpa suara yang bisa didengar telinga, tapi menggema di kepala Raka: *"Siapa bilang ini yang terakhir?"*
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!