Cangkir porselen di tangan Raka berdenting halus saat ia meletakkannya kembali ke atas meja marmer. Di balik jendela besar ruang tamunya yang menghadap ke taman bergaya Zen, langit Jakarta tampak keruh, seolah-olah awan sengaja menumpuk untuk menekan atap rumah mewahnya. Raka mengusap telapak tangannya yang mendadak lembap ke celana kain mahalnya. Perasaan itu muncul lagiβsensasi seperti ada ribuan semut dingin yang merayap di bawah kulit tengkuknya.
"Hanya prosedur rutin, Mas Raka. Kami mendatangi semua orang yang memiliki keterkaitan dengan almarhum Pak Broto," ujar pria di hadapannya.
Inspektur Bayu, seorang pria dengan kemeja safari yang tampak terlalu sempit untuk bahu lebarnya, menatap Raka dengan mata yang tidak pernah benar-benar berkedip. Ia tidak menyentuh kopi luwak yang disuguhkan Raka. Di sampingnya, seorang polisi muda sibuk mencatat di tablet digital.
"Saya mengerti, Pak. Kepergian Pak Broto sangat mengejutkan bagi kami semua. Beliau mitra bisnis yang luar biasa," suara Raka terdengar stabil, berat, dan penuh empati yang telah ia latih di depan cermin selama bertahun-tahun. Ia menampilkan gurat kesedihan yang pasβtidak berlebihan, namun c**up untuk membuat orang awam merasa iba.
"Mengejutkan adalah kata yang meremehkan, Mas," Bayu mencondongkan tubuh, kursi kulit itu berderit di bawah bobotnya. "Meninggal karena tersedak koin kuno di tengah restoran mewah? Itu... eksentrik. Dan sebelum itu, Sekretaris pribadi Anda, Siska, jatuh dari balkon apartemennya tepat setelah mengirimkan pesan singkat permintaan maaf kepada Anda. Pola yang menarik, bukan?"
Raka merasakan dadanya menyempit, bukan karena rasa bersalah, melainkan karena getaran yang familiar dari saku celananya. *Bzzzt.* Satu getaran panjang. *Bzzzt.* Dua getaran pendek.
Itu kode. Notifikasi dari grup itu.
Raka memaksakan sebuah senyuman tipis. "Dunia ini penuh dengan kebetulan yang tragis, Inspektur. Setelah kecelakaan bus yang merenggut seluruh keluarga saya, saya belajar bahwa maut tidak butuh alasan yang ma**k akal."
"Tepat sekali," Bayu menyahut cepat, matanya menyipit menjadi garis tajam. "Tapi maut biasanya meninggalkan jejak digital. Kami menemukan bahwa ponsel Pak Broto menerima pesan dari nomor yang tidak terdaftar beberapa menit sebelum ia meninggal. Dan tebak apa? Sinyalnya berasal dari area yang sama dengan posisi Anda saat itu."
Jantung Raka berdegup kencang, menghantam tulang rusuknya seperti burung yang terperangkap dalam sangkar besi. Ia bisa merasakan keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Di dalam saku, ponselnya kembali bergetar, kali ini terus-menerus. Panas dari perangkat itu seolah membakar pahanya, tanda bahwa 'mereka' mulai tidak sabar.
"Inspektur, maafkan saya, tapi saya merasa sedikit tidak enak badan," Raka memegang kepalanya, sebuah gestur manipulatif untuk mengakhiri percakapan. "Membicarakan kematian keluarga saya dan rekan-rekan saya... itu memicu trauma saya kembali."
Bayu tidak bergerak. Ia justru merogoh tas kantong plastiknya dan mengeluarkan sebuah foto bukti yang dilaminating. "Satu hal lagi sebelum saya pergi. Kami menemukan ini di CCTV sekitar lokasi Siska jatuh. Seseorang yang sangat mirip dengan Anda terlihat di seberang jalan, memegang ponsel dengan ekspresi yang... sangat tenang. Hampir seperti sedang menonton film."
Raka menatap foto itu. Gambar itu buram, butiran pikselnya pecah, tapi bayangan dirinya di sana jelas terlihat. Di saat yang sama, rasa sakit yang menghunjam tiba-tiba menyerang paru-parunya. Rasanya seperti ada tangan-tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya dari dalam, memaksa oksigen keluar.
*Uhuk!* Raka terbatuk, tangannya mencengkeram pinggiran meja hingga buku jarinya memutih.
"Mas Raka? Anda tidak apa-apa?" tanya polisi muda itu, tampak khawatir.
Raka tidak bisa menjawab. Di balik kelopak matanya yang terpejam, ia melihat bayangan Ibunyaβsetidaknya apa yang tersisa dari Ibunya setelah kecelakaan bus ituβdengan wajah hancur dan mata yang menggantung, membisikkan instruksi ke telinganya.
Ia merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, tidak lagi peduli pada keberadaan polisi di depannya. Layar menyala, cahayanya yang biru pucat menerangi wajah Raka yang pias.
**Grup: Keluarga Besar (11)**
**Bapak:** *Polisi itu terlalu banyak bicara, Raka.*
**Ibu:** *Dia mencium bau tanah di bajumu, Sayang. Jangan biarkan dia membawa bukti itu pulang.*
**Kak Widya:** *Lihat di bawah meja, Raka. Kami sudah menyiapkannya untukmu.*
**Paman Heru:** *Lakukan sekarang atau kamu yang akan kami jemput malam ini. Kami rindu makan malam bersamamu di liang lahat.*
Raka melirik ke bawah meja secara refleks. Di sana, tertempel dengan selotip hitam, ada sebuah botol kecil tanpa label berisi cairan bening. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Mereka tahu. Mereka selalu tahu.
"Mas Raka, saya bertanya tadi," suara Inspektur Bayu kini terdengar lebih dingin, lebih menuntut. "Kenapa Anda ada di sana saat Siska jatuh?"
Raka menatap Bayu, lalu beralih ke cangkir kopi luwak milik polisi itu yang masih mengepulkan uap tipis. Rasa sakit di dadanya semakin menjadi-jadi; ia merasa seolah-olah ada segenggam tanah kuburan yang dipaksa ma**k ke dalam tenggorokannya. Ia harus memilih: penjara atau kematian yang menyiksa di tangan keluarganya sendiri.
Dengan gerakan yang sangat halus, memanfaatkan posisinya yang sedang membungkuk karena batuk, tangan Raka meraih botol di bawah meja. Sambil berpura-pura mengambil tisu dari kotak di atas meja, ia menyelipkan botol itu ke dalam telapak tangannya.
"Maafkan saya, Inspektur," kata Raka dengan suara serak, sambil meraih cangkir kopi Bayu seolah hendak memindahkannya agar tidak tumpah karena gerakannya yang kikuk. "Saya hanya... saya hanya merasa sangat kesepian sejak mereka pergi."
Ibu jari Raka menyentuh tutup botol. Sedikit tekanan, dan cairan itu akan mengalir ke dalam kopi Bayu. Namun, saat ia hendak melakukannya, mata Bayu menangkap pergerakan tangan Raka.
"Apa yang Anda pegang itu, Raka?" tanya Bayu, suaranya kini penuh dengan otoritas yang berbahaya. Ia berdiri, tangannya secara insting bergerak menuju sarung pistol di pinggangnya.
Ponsel di atas meja bergetar hebat. Sebuah pesan baru ma**k, muncul di layar kunci yang bisa dibaca oleh siapa saja.
**Bapak:** *TUANGKAN SEKARANG ATAU KAMI TARIK JANTUNGMU KELUAR!*
Raka membeku. Ia menatap Bayu, lalu menatap layar ponselnya yang terus berkedip merah. Di luar, petir menyambar, menerangi wajah Raka yang kini benar-benar kehilangan topeng kemanusiaannya, menyisakan raut sosiopat yang terpojok dan siap melakukan apa saja untuk bertahan hidup satu hari lagi.
"Saya hanya ingin memberikan Anda... rasa yang tak terlupakan, Inspektur," bisik Raka, jarinya mulai membuka tutup botol itu tepat di atas cangkir, sementara Bayu mulai melangkah memutari meja untuk meringkusnya.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!