Gelas kristal berisi wiski mahal itu bergetar di tangan Raka. Cairan kuning keemasan di dalamnya menciptakan riak-riak kecil yang memantulkan cahaya redup lampu gantung di ruang kerjanya. Raka menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup jantungnya yang sejak tadi pagi berpacu tidak keruan. Ia adalah seorang manipulator ulung, pria yang bisa meyakinkan dewan direksi atau kekasih simpanannya dengan kebohongan paling manis tanpa mengedipkan mata. Namun sekarang, topeng itu retak.
Keheningan rumah mewah itu terasa menekan, seolah dinding-dinding marmernya perlahan merapat untuk menghimpitnya. Tiba-tiba, aroma aneh menusuk penciumannya. Bukan bau parfum ruangan cendana yang biasa ia pakai, melainkan bau anyir darah yang bercampur dengan bau karet terbakar dan tanah basah.
"Hanya imajinasimu, Raka. Hanya imajinasi," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya terdengar parau dan asing di telinganya.
Ia melirik ke arah pintu yang terbuka sedikit. Di koridor yang gelap, ia melihat sekelebat bayangan kecil melintas. Degup jantungnya berhenti sejenak. Itu menyerupai siluet Nina, adik bungsunya yang baru berusia tujuh tahun saat kecelakaan itu terjadi. Raka memejamkan mata rapat-rapat, menghitung sampai sepuluh, lalu membukanya lagi. Koridor itu kosong.
*Drrtt... Drrtt...*
Ponsel di atas meja kayu jati itu bergetar hebat. Layarnya menyala terang, membelah kegelapan ruangan. Raka terlonjak, hampir menjatuhkan gelasnya. Sebuah notifikasi muncul di layar, namun bukan sekadar pesan teks.
*Pangg***n Video Ma**k: Papa.*
Jari Raka membeku di udara. Napasnya tersengal. Papa sudah mati. Ia sendiri yang mengidentifikasi jasad pria itu yang terjepit di antara kursi bus yang ringsek, dengan separuh wajah yang hancur tak berbentuk. Bagaimana mungkin ada pangg***n video?
Ponsel itu terus bergetar, merayap perlahan di atas meja seolah memiliki nyawa sendiri. Raka ingin melemparkan benda itu ke dinding, namun tubuhnya menolak untuk bergerak. Ketakutan yang amat sangat merant** otot-ototnya. Rasa sakit yang familiarβseperti ribuan jarum panas yang menusuk sumsum tulang belakangnyaβmulai menjalar, memperingatkannya untuk tidak menolak.
Dengan tangan gemetar hebat, Raka menggeser ikon hijau di layar.
Layar ponsel itu awalnya hanya menampilkan statis berwarna abu-abu, mirip siaran televisi rusak. Suara gemeresik yang menyakitkan telinga memenuhi ruangan. Kemudian, gambar mulai fokus.
Raka tersedak, menutup mulutnya dengan telapak tangan agar tidak muntah.
Di layar ponselnya, ia melihat interior bus yang hancur. Cahayanya remang-remang, hanya diterangi oleh percikan api dari kabel yang menjunt**. Dan di sana, mereka duduk di kursi masing-masing. Sebelas orang. Keluarga besarnya.
Wajah Papa muncul paling dekat dengan kamera. Sebelah matanya menggantung keluar dari rongganya, sementara rahangnya miring ke satu sisi, menampakkan gusi yang menghitam. Ia mencoba berbicara, namun yang keluar hanyalah cairan kental berwarna gelap dan suara gelembung udara yang pecah.
*"Ra... ka... di sini... gelap..."* suara itu bukan berasal dari speaker ponsel, melainkan seolah bergema langsung di dalam tengkorak Raka.
Kamera bergoyang, beralih ke kursi di belakangnya. Mama ada di sana. Rambutnya yang dulu selalu tertata rapi kini menggumpal karena darah kering dan serpihan kaca. Ia sedang memeluk Ninaβatau apa yang tersisa dari Nina. Tubuh kecil itu tampak hancur, anggota badannya tertekuk ke arah yang mustahil. Namun, mata Nina yang jernih dan besar menatap lurus ke arah kamera, menembus jiwa Raka.
"Kenapa Kakak tidak ikut?" bisik Nina. Suaranya terdengar jernih di tengah suara rintihan anggota keluarga lainnya yang memenuhi latar belakang. "Kursi di sebelah Nina masih kosong, Kak."
"Pergi! Ini tidak nyata!" teriak Raka, melempar ponselnya ke lant**.
Ponsel itu jatuh dengan layar menghadap ke atas, namun pangg***n tidak terputus. Gambar di layar justru semakin jelas. Raka mundur hingga punggungnya menab**k rak buku. Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang dingin dan lembap menyentuh pergelangan kakinya.
Ia menunduk. Dari bawah bayangan mejanya, sepasang tangan yang pucat dan penuh luka robek muncul, mencengkeram kakinya dengan kekuatan yang luar biasa. Raka menjerit, mencoba menyentak kakinya lepas, namun tangan-tangan lain mulai muncul dari balik tirai, dari bawah sofa, merayap keluar dari kegelapan sudut ruangan.
"Kami merindukanmu, Raka," suara Papa kini terdengar sangat dekat, tepat di belakang telinganya.
Raka menoleh dengan gerakan kaku. Di sana, berdiri sosok tinggi dengan setelan jas yang koyak-koyakβjas yang sama yang dipakai Papa saat pemakaman. Sosok itu tidak memiliki wajah yang utuh, hanya lubang menganga yang terus mengalirkan darah.
Raka jatuh terduduk, air mata ketakutan mengalir deras di pipinya. Sifat sosiopatnya yang biasanya membuatnya merasa superior kini tak berguna. Di hadapan kematian yang menolak untuk tetap mati, ia hanyalah mangsa yang rapuh. Ia merasa ruangan itu mulai berputar. Oksigen seolah tersedot keluar.
Ponsel di lant** berdenting sekali lagi. Sebuah pesan baru ma**k di grup 'Keluarga Besar', terlihat jelas dari posisinya yang tersungkur.
**Papa:** *Pintu depan tidak dikunci, Raka. Kami sudah sampai di rumah.*
Detik itu juga, suara *klek* terdengar dari arah pintu utama di lant** bawah. Diikuti oleh suara langkah kaki yang berat dan terseret-seret di atas lant** marmer. Satu langkah, dua langkah... menuju tangga.
Raka terpaku, matanya terbelalak menatap pintu ruang kerjanya yang terbuka lebar. Ia ingin berlari, namun bayangan Nina kini berdiri tepat di ambang pintu, menghalangi jalan keluar dengan boneka beruangnya yang tanpa kepala.
"Kakak mau main sembunyi-sembunyian lagi?" tanya Nina dengan kepala yang perlahan-lahan miring hingga terdengar suara tulang leher yang patah. "Kali ini, kami yang akan menemukan Kakak."
Langkah kaki di tangga terdengar semakin keras, bergema di seluruh rumah yang sunyi. Raka merangkak mundur, mencari apa saja yang bisa digunakannya untuk bertahan, namun tangannya hanya menyentuh layar ponsel yang masih menyala, menampilkan hitung mundur lima menit dengan keterangan merah menyala: **WAKTU UNTUK MAKAN MALAM KELUARGA.**
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!