Gelas kristal berisi wiski berumur dua puluh tahun itu bergetar di jemari Raka. Cairan kuning keemasan di dalamnya memantulkan cahaya lampu gantung yang mewah, namun Raka tidak bisa menikmati kemilau itu. Matanya terpaku pada layar ponsel yang tergeletak di atas meja jati. Layar itu menyala, menerangi kegelapan ruang kerjanya yang luas dengan cahaya biru yang pucat dan dingin.
Satu notifikasi muncul. Suara dentingnya yang khas—suara yang seharusnya biasa saja—kini terdengar seperti bunyi lonceng kematian di telinga Raka.
**Grup: Keluarga Besar (11)**
**Papa:** *Waktunya sudah habis, Raka. Kamu sudah bersenang-senang dengan apa yang bukan milikmu.*
Raka meletakkan gelasnya dengan kasar hingga isinya membasahi permukaan meja yang mahal. Ia tidak peduli. Napasnya mulai pendek-pendek. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya seolah-olah ingin melarikan diri dari raga yang kini gemetar hebat. Ia menyeka keringat dingin di dahi dengan punggung tangan yang kaku.
**Mama:** *Serahkan semuanya, Nak. Semua aset, rekening, dan sertifikat rumah atas nama Panti A**han Kasih Abadi. Lakukan malam ini juga.*
**Paman Hendra:** *Dan jangan lupa bagian terbaiknya. Perg***h ke kantor polisi terdekat. Akui apa yang kamu lakukan pada rem bus itu. Katakan pada mereka bagaimana kamu melihat kami berteriak sementara kamu melompat keluar tepat sebelum tebing.*
Membaca pesan itu, Raka merasa seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas tenggorokannya. Rahangnya mengeras. "Tidak," bisiknya, suaranya parau dan pecah. "Aku sudah melakukan segalanya untuk ini. Kalian hanya beban. Kalian selalu menahanku!"
Ia berdiri, mondar-mandir di atas karpet Persia yang lembut. Pikirannya berputar seperti pusaran air yang gelap. Harta ini adalah tujuannya. Apartemen mewah ini, mobil-mobil di garasi, saham-saham perusahaan—semuanya adalah bayaran atas keberaniannya melepaskan diri dari rant** keluarga yang membosankan. Ia telah merencanakan kecelakaan itu dengan presisi seorang arsitek. Ia telah memainkan peran sebagai anak yang berduka dengan akting yang layak mendapatkan Oscar di hadapan publik dan media.
Bagaimana mungkin ia harus menyerahkan semuanya sekarang? Ke panti a**han? Kepada sekumpulan anak yatim yang tidak berguna? Dan menyerahkan diri? Itu berarti hukuman mati atau membusuk di penjara. Keduanya sama saja dengan kehilangan status sosialnya yang kini agung.
Ponselnya bergetar lagi. Beruntun.
**Adik bungsu (Lulu):** *Kakak, aku kedinginan di sini. Tanah ini sesak. Temani aku, atau berikan apa yang Papa minta.*
**Tante Mirna:** *Satu jam, Raka. Jika notaris tidak menerima instruksi hibah darimu dalam satu jam, kami yang akan menjemputmu.*
Raka meraih ponselnya dan mengetik dengan jemari yang gemetar, amarah sosiopatnya mulai mengalahkan rasa takutnya.
*Kalian sudah mati!* ketiknya dengan penuh tekanan. *Orang mati tidak butuh uang! Aku yang hidup, aku yang menang! Kalian tidak bisa melakukan apa-apa dar liang lahat!*
Ia melempar ponsel itu ke sofa. Namun, detik berikutnya, suhu di ruangan itu turun drastis. Raka bisa melihat napasnya sendiri mengembun di udara, putih dan tipis. Lampu gantung di atas kepalanya mulai berkedip-kedip, menimbulkan suara *cetek-cetek* yang menyakitkan telinga.
Tiba-tiba, Raka merasakan tarikan kuat di pergelangan kakinya. Ia tersungkur ke lant**, dagunya menghantam pinggiran meja. Rasa anyir darah langsung memenuhi mulutnya. Ia mencoba bangkit, namun beban di punggungnya terasa seperti ratusan kilogram beton. Sesuatu yang dingin—sedingin es batu—mulai merayap dari pergelangan kakinya menuju betis.
Ia menoleh ke belakang dan matanya membelalak. Di atas lant** marmer yang meng***p, bayangan-bayangan hitam yang pekat mulai muncul. Mereka tidak memiliki bentuk yang jelas, namun Raka mengenali aura mereka. Sebelas bayangan. Sebelas nyawa yang ia khianati.
"Tidak! Pergi!" teriak Raka, suaranya melengking penuh paranoia. Ia mencengkeram kaki meja, kuku-kukunya memutih saat ia mencoba bertahan agar tidak terseret ke arah kegelapan yang mulai menganga di sudut ruangan.
Ponsel di sofa menyala lagi. Sebuah pesan suara ma**k dan terputar otomatis. Suara itu adalah suara ayahnya, namun terdengar berat, seolah-olah mulut sang ayah penuh dengan tanah.
*"Satu menit sudah berlalu, Raka. Kamu merasa sakit? Itu baru permulaan. Bayangkan rasa sakit saat bus itu menghantam dasar jurang. Bayangkan besi panas yang menusuk paru-paru kami. Kami akan memberikan rasa sakit itu padamu, detik demi detik, selamanya, kecuali kamu menandatangani dokumen itu sekarang."*
Raka merasakah tulang keringnya seolah diremukkan oleh tang yang sangat besar. Rasa sakitnya begitu nyata, begitu tajam, hingga ia hampir kehilangan kesadaran. Ia menjerit, namun suaranya tertelan oleh kesunyian ruangan yang kini terasa asing.
"Aku... aku tidak bisa..." rintih Raka di sela isak tangis yang terpaksa. "Uang itu milikku... aku yang bertahan hidup..."
Di tengah rasa sakit yang mendera, ia melihat laptopnya di atas meja terbuka dengan sendirinya. Layarnya menampilkan draf surat pernyataan penyerahan aset dan pengakuan dosa. Kursornya berkedip-kedip di kolom tanda tangan digital, seolah-olah menantangnya.
Tekanan di kakinya semakin kuat. Raka merasa tubuhnya mulai terseret perlahan, inci demi inci, menuju sudut ruangan yang kini tampak seperti lubang hitam tanpa dasar. Bau tanah basah dan busuk mulai memenuhi indra penciumannya, bau yang sangat ia kenali dari pemakaman massal keluarganya setahun yang lalu.
Raka menatap layar laptop, lalu beralih ke kegelapan yang menantinya di sudut ruangan. Pilihannya hanya dua: menjadi gelandangan di penjara, atau ditarik paksa ke dalam kegelapan oleh tangan-tangan yang menuntut balas.
Saat jemari hitam yang transparan mulai menyentuh tengkuknya, Raka menyadari bahwa para "anggota grup" tidak lagi sekadar mengirimkan notifikasi. Mereka sudah berada di dalam ruangan bersamanya, menanti jawaban final yang akan menentukan apakah ia akan tetap menghirup udara di atas tanah, atau dipaksa mencicipi dinginnya liang lahat malam ini juga.
Cahaya lampu padam total. Hanya layar laptop yang masih menyala, memantulkan bayangan sebelas sosok yang kini berdiri melingkarinya di dalam kegelapan.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!