Gelas kristal berisi wiski mahal di tanganku bergetar halus. Bukan karena tanganku gemetar—aku adalah ahli dalam ketenangan—tetapi karena meja jati di depanku mendengung pelan. Di atas permukaannya, ponselku berkedip. Satu notifikasi. *Papa: Raka, kenapa tidak dibalas?*
Aku menyesap cairannya, membiarkan rasa hangat membakar tenggorokanku. "Hanya algoritma si****," gumamku pada kesunyian apartemen. Aku tidak boleh membiarkan rasa takut ini merusak narasiku. Aku adalah pewaris tunggal. Aku adalah penyintas. Sebelas orang itu sudah di bawah tanah, membusuk bersama kenangan kecelakaan bus yang seharusnya juga merenggut nyawaku.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan tiga detik.
*Ting! Ting! Ting-ting-ting!*
Layar ponsel yang tadi redup mendadak menyala benderang, memuntahkan cahaya putih yang menyakitkan mata. Notifikasi dari grup WhatsApp 'Keluarga Besar' mulai mengalir. Awalnya seperti rintik hujan di atas atap seng, lalu dalam sekejap berubah menjadi badai destruktif.
*Mama: Raka, dengarkan kami.*
*Adik: Mas Raka, jangan lari.*
*Paman Surya: Darah itu lebih kental dari air, Raka.*
Aku mencoba meraih ponsel itu untuk mematikannya, tetapi saat jariku menyentuh casing titaniumnya, rasa panas yang menyengat menyambar ujung sarafku. Aku menarik tangan dengan sentakan kasar. Ponsel itu tidak lagi sekadar bergetar; ia melompat-lompat di atas meja seolah ada jantung yang berdenyut kencang di dalamnya.
Lalu, serangan yang sebenarnya dimulai.
Suara notifikasi standar WhatsApp yang biasanya terdengar sepele, kini bermutasi. Volume suaranya melampaui batas kewajaran speaker ponsel. Setiap "ting" terasa seperti hantaman palu godam tepat di belakang gendang telingaku. Ribuan pesan ma**k per detik. Bunyinya tidak lagi terputus-putus, melainkan menyatu menjadi satu lengkingan panjang yang merobek kesunyian malam.
"Diam!" teriakku, menangkupkan kedua tangan ke telinga.
Sia-sia. Suara itu seolah tidak datang dari luar, melainkan beresonansi dari dalam tengkorakku sendiri. Aku terjatuh dari kursi, lututku menghantam lant** marmer dengan keras. Rasa sakit di telingaku berubah menjadi denyutan panas yang menjalar ke rahang. Aku bisa merasakan cairan hangat merembes keluar dari lubang telingaku. Saat kutarik tanganku untuk melihatnya, noda merah pekat menghiasi telapak tanganku. Darah.
Layar ponsel itu kini berubah menjadi kekacauan visual. Pesan-pesan itu bergerak sangat cepat hingga hanya terlihat seperti garis-garis putih yang meluncur ke atas. Namun, entah bagaimana, otakku seolah dipaksa untuk membaca setiap kata yang lewat.
*PEMBUNUH. PEMBOHONG. PENGKHIANAT. RAKA, LIHAT KAMI. RAKA, IKUT KAMI.*
"Aku tidak melakukan apa-apa!" raungku di tengah kebisingan yang m****akkan. Suaraku sendiri terdengar jauh, tenggelam oleh jutaan lonceng kematian digital. "Itu kecelakaan! Supirnya yang salah!"
Paranoia yang biasanya kupendam rapat-rapat kini meledak. Aku melihat ke sekeliling ruangan yang mewah ini, dan tiba-tiba furnitur-furnitur mahal itu tampak seperti nisan yang mengepungku. Status sosial, harta warisan, citra filantropis yang kubangun dengan susah payah—semuanya terasa hambar di hadapan siksaan frekuensi tinggi ini.
Aku merangkak menuju meja, berniat menghancurkan benda terkutuk itu. Setiap inci gerakanku terasa berat, seolah udara di ruangan ini telah berubah menjadi cairan kental. Kepalaku berputar. Pandanganku mulai kabur, menyisakan hanya cahaya putih dari layar ponsel yang kini tampak seperti lubang menuju dimensi lain.
Dengan sisa tenaga, aku meraih botol wiski dan menghantamkannya ke arah ponsel. *Prang!* Kaca pecah berkeping-keping, cairan alkohol memba****i meja, namun ponsel itu tidak tergores sedikit pun. Ia terus berteriak. Volume suaranya naik satu tingkat lagi, mencapai titik di mana suara itu bukan lagi bunyi, melainkan tekanan fisik yang meremukkan tulang-tulang wajahku.
"C**up... tolong... berhenti..." rintihku. Aku meringkuk di lant**, posisi janin, menekan wajahku ke marmer yang dingin.
Aku, Raka yang selalu punya rencana. Aku, Raka yang bisa memanipulasi emosi siapa pun. Kini, aku hanyalah onggokan daging yang gemetar karena ketakutan pada hantu-hantu di dalam mesin. Harga diriku runtuh. Aku akan memberikan segalanya—seluruh asetku, rumah ini, namaku—hanya agar suara itu berhenti.
Tiba-tiba, keheningan jatuh. Begitu mendadak, hingga telingaku yang berdenging merasa sakit karena kekosongan suara itu.
Aku mengangkat kepala dengan perlahan, napas tersengal-sengal. Darah masih menetes dari telingaku, mengotori lant** marmer putih. Ponsel itu masih menyala di atas meja, di tengah genangan wiski dan pecahan kaca. Cahayanya kini berubah menjadi merah darah yang redup.
Aku gemetar, nyaris tidak berani bernapas. Apakah sudah selesai?
Satu getaran tunggal. Pendek. Tajam.
Aku merangkak mendekat, seolah ditarik oleh benang tak kasat mata yang terikat pada jantungku. Dengan tangan yang basah oleh keringat dan darah, aku mengambil ponsel itu. Layarnya tidak lagi menampilkan ribuan pesan. Hanya ada satu gelembung pesan baru di tengah layar yang retak, dari sebuah nomor yang tidak kukenal, namun fotonya membuat jantungku berhenti berdetak sesaat. Itu adalah foto selfie mereka semua—sebelas anggota keluargaku—di dalam bus, sesaat sebelum benturan terjadi. Wajah mereka pucat, mata mereka hitam pekat, dan mereka semua menunjuk ke arah kamera.
Pesan itu hanya berisi satu baris kalimat instruksi.
*Buktikan kau masih bagian dari kami, Raka. Pergi ke dapur. Ambil pisau daging yang paling tajam. Kami ingin melihat seberapa merah darahmu.*
Di bawah pesan itu, sebuah penghitung waktu mundur muncul.
*00:59... 00:58...*
Bersamaan dengan detikan angka itu, rasa sakit yang lebih hebat dari sebelumnya menghujam dadaku, seolah ada tangan-tangan tak terlihat yang mulai mencengkeram jantungku dan meremasnya pelan. Jika aku tidak bergerak sekarang, jantungku akan meledak di dalam dada.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!