Layar ponsel itu berkedip-kedip, memancarkan cahaya putih pucat yang menyakitkan mata di dalam kamar yang remang. Raka bisa merasakan keringat dingin mengucur dari pelipisnya, melewati rahangnya yang kaku, lalu jatuh membasahi lant** marmer yang dingin. Di telapak tangannya, ponsel itu terasa seberat bongkahan batu nisan. Getarannya tidak berhenti—sebuah rentetan notifikasi dari grup WhatsApp 'Keluarga Besar' yang membuat ulu hatinya serasa diperas.
*Ibu: Tulis sekarang, Raka. Jangan biarkan kami menunggu lebih lama di kegelapan ini.*
*Ayah: Dunia harus tahu siapa putra kebanggaan mereka sebenarnya.*
*Paman Danu: Sepuluh jari, Raka. Gunakan sebelum kami yang meminjamnya untuk mengetik.*
Raka meringis. Rasa sakit itu datang lagi—sensasi seolah ribuan jarum es ditusukkan ke bawah kuku-kukunya. Itu adalah peringatan fisik yang sudah ia kenali selama beberapa hari terakhir. Jika ia menunda, rasa sakit itu akan menjalar, menarik otot-ototnya seolah ia sedang ditarik paksa ma**k ke dalam tanah yang sempit dan pengap.
Di luar sana, suara raungan sirene polisi membelah keheningan malam di kawasan elit tersebut. Cahaya biru dan merah bergantian menyapu gorden sutra di jendela kamarnya, menciptakan bayangan aneh yang menari-nari di dinding. Lewat pengeras suara, sebuah suara berat memerintahkannya untuk menyerah.
"Raka, ini Kepolisian Sektor Metro. Rumah ini sudah dikepung! Keluar dengan tangan di atas!"
Raka terkekeh, suara yang lebih mirip sedu sedan yang rusak. Menyerah? Kepada polisi? Itu adalah bagian termudah. Yang lebih menakutkan adalah sebelas pasang mata yang ia tahu sedang mengawasinya dari sudut-sudut gelap ruangan ini. Ia bisa mencium aroma tanah basah dan melati busuk yang menyengat, padahal semua jendela tertutup rapat.
Dengan jari yang gemetar hebat, ia membuka aplikasi media sosialnya. Akun dengan ratusan ribu pengikut yang selama setahun ini ia gunakan untuk membangun citra sebagai "Survivor yang Menginspirasi" dan "Filantropis Muda". Ia menatap foto profilnya sendiri—wajah yang tersenyum palsu di depan pusara keluarganya.
"Kalian menang," bisik Raka, suaranya parau. "Kalian menghancurkan semua yang kubangun."
*Adik bungsu (Lila): Bukan kami yang menghancurkannya, Kak. Kakak sendiri yang membakar jembatannya saat memotong kabel rem bus itu.*
Pesan itu membuat Raka tersedak. Ia mulai mengetik. Setiap huruf yang ia tekan terasa seperti tusukan di jantungnya. Ia tidak menulis dengan gaya bahasanya yang biasanya taktis dan penuh manipulasi. Kali ini, kata-kata itu mengalir begitu saja, seolah ada tangan-tangan dingin yang tak terlihat menuntun jemarinya di atas layar sentuh.
*PENGAKUAN DOSA,* tulisnya sebagai pembuka.
*Selama setahun ini, kalian melihatku sebagai korban. Kalian memberikan simpati, uang, dan panggung. Tapi kebenarannya adalah... aku adalah monster yang kalian kasihani. Aku yang merencanakan kecelakaan bus itu. Aku butuh uang warisan Ayah untuk menutupi hutang judi dan gaya hidupku. Aku memastikan semua orang berada di dalam bus, kecuali aku.*
Raka berhenti sejenak. Air mata—kali ini asli, karena rasa takut akan kehilangan statusnya—meleleh. Ia membayangkan bagaimana besok pagi seluruh negeri akan meludahi namanya. Ia membayangkan bagaimana wajah-wajah rekan bisnisnya akan berubah menjadi jijik.
"C**up... kumohon, ini sudah c**up," rintih Raka.
Ponselnya bergetar lagi. Sebuah foto terkirim ke grup. Foto itu memperlihatkan punggung Raka yang sedang duduk di kursi kamarnya saat ini, diambil dari sudut belakang. Raka memutar lehernya dengan cepat, namun tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya bayangan hitam yang tampak memanjang di lant**.
*Ibu: Selesaikan, Sayang. Ceritakan tentang Paman Danu. Ceritakan bagaimana kau membungkamnya saat dia mulai curiga di rumah sakit.*
Raka terisak, dadanya sesak seolah-olah ditimbun tanah berkubik-kubik. Ia melanjutkan ketikannya, membeberkan det**l pembunuhan berant** yang ia lakukan demi menutupi jejak kejahatan pertamanya. Ia menulis tentang racun dalam botol air minum Paman Danu, tentang bagaimana ia melihat pamannya itu tersedak hingga tewas sambil tersenyum tenang.
Di luar, suara pintu depan rumahnya yang kokoh dihantam dengan *ram* besi terdengar menggelegar. *B**KK!*
"Polisi ma**k! Tiarap! Tiarap!"
Langkah-langkah sepatu bot yang berat mengguncang lant** bawah. Raka tidak peduli lagi. Fokusnya hanya pada tombol 'Post' yang berpendar biru di layarnya. Jika ia tidak menekan itu sekarang, ia tahu rasa sakit ini tidak akan berhenti. Ia merasa seolah ada tangan-tangan keriput yang kini melingkari lehernya, menariknya ke belakang hingga kepalanya mendongak.
"S-sudah... ini sudah kuposting..." Raka menekan tombol itu dengan sisa kekuatannya.
Detik berikutnya, dunia seolah meledak. Notifikasi di ponselnya mengg***. Angka komentar dan *share* melonjak dalam hitungan detik. Hujatan, kutukan, dan ekspresi kaget memba****i layarnya. Reputasinya yang ia jaga lebih dari nyawanya sendiri, hancur berkeping-keping menjadi abu digital.
Pintu kamarnya didob**k terbuka. Sinar lampu senter yang menyilaukan menusuk matanya.
"Jangan bergerak! Angkat tangan!" teriak beberapa petugas berseragam hitam, moncong senjata mereka tertuju tepat ke arah dada Raka.
Raka menjatuhkan ponselnya. Ia mengangkat tangan, wajahnya pucat pasi, namun ada seringai aneh di bibirnya. Ia merasa bebas dari rasa sakit fisik itu. Namun, kelegaan itu hanya bertahan satu detik.
Ponselnya yang tergeletak di lant** menyala sekali lagi. Sebuah notifikasi WhatsApp muncul di layar yang retak.
*Keluarga Besar (11 Anggota):*
*Ibu: Bagus, Raka. Sekarang dunia sudah tahu. Sekarang, kami datang menjemputmu untuk merayakannya bersama di sini. Lihat ke bawah kakimu.*
Raka menunduk. Di bawah lant** marmer yang seharusnya padat, ia melihat tangan-tangan pucat dengan kuku yang menghitam mulai menembus permukaan batu, mencengkeram pergelangan kakinya dengan cengkeraman yang sedingin es. Para polisi yang menerjang ma**k tiba-tiba mematung, seolah-olah waktu berhenti berputar bagi mereka, atau mungkin mereka tidak bisa melihat apa yang Raka lihat.
"Tolong!" teriak Raka, tapi suaranya hanya berupa bisikan yang tertelan oleh tawa sebelas orang yang menggema di dalam kepalanya. "Jangan bawa aku ke sana!"
Lant** di bawahnya mulai melunak, berubah menjadi lumpur hitam yang pekat dan berbau busuk, menarik tubuhnya turun perlahan-lahan ke dalam kegelapan yang tak berdasar. Dan di layar ponsel yang masih menyala, sebuah pesan terakhir ma**k.
*Ayah: Jangan takut, Raka. Perjalanan busnya baru saja akan dimulai kembali.*
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!