Gelas kristal di tanganku bergetar, denting halusnya beradu dengan gigiku yang gemeretak. Cairan amber di dalamnya bergoyang, memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung yang kini terasa seperti mata-mata yang mengawasi setiap gerak-gerikku. Aku berada di puncak duniaβpenthouse mewah ini, tumpukan aset atas namaku, kekuasaan yang kubangun di atas puing-puing kecelakaan bus setahun lalu. Namun, malam ini, kemewahan itu terasa seperti peti mati yang dilapisi beludru.
Aku meletakkan gelas itu dengan tangan gemetar ke atas meja marmer yang dingin. Di sampingnya, ponselku tergeletak diam. Benda pipih itu tampak tidak berbahaya, namun bagiku, itu adalah bom waktu yang telah mencabik-cabik kewarasanku selama berbulan-bulan.
*Ting.*
Suara notifikasi itu membelah kesunyian ruangan. Aku tersentak, hampir terjatuh dari kursi kulit mahalku. Jantungku berdegup kencang, menghantam rusuk seolah-olah ingin melarikan diri dari raga yang sudah lelah ini. Aku tahu siapa pengirimnya. Aku tahu apa isinya.
Dengan jari-jari yang kaku, kuraih ponsel itu. Cahaya layarnya menusuk mataku yang perih karena kurang tidur.
**Grup: Keluarga Besar (11)**
**Ibu:** *Raka, semua sudah berkumpul di sini. Ayahmu sudah menyalakan mesin.*
**Ayah:** *Jangan buat kami menunggu terlalu lama, Nak. Tidak sopan membiarkan orang tua menunggu di pinggir jalan.*
**Kak Widya:** *Kursinya masih dingin, Raka. Masih kosong. Persis di sebelahku, seperti dulu.*
Napas duniaku mendadak sesak. Bayangan bus yang ringsek, bau bensin yang bercampur dengan anyir darah, dan jeritan yang tiba-tiba terputus kembali menghantam ingatanku. Aku telah melakukan segalanya. Aku mengikuti instruksi mereka. Aku menyingkirkan orang-orang yang mereka perintahkan. Aku mengotori tanganku demi ketenangan yang tidak kunjung datang.
Tiba-tiba, sebuah pesan baru ma**k. Pesan terakhir yang selama ini kutakuti.
**Kakek:** *Pulanglah, kursi terakhir di bus sudah tersedia untukmu.*
Rasa sakit itu datang seketika. Rasanya seolah-olah ada ribuan tangan tak kasat mata yang keluar dari lant** penthouse, mencengkeram pergelangan kakiku, dan menarikku ke bawah. Tulang-tulangku terasa seperti dig***s roda bus seberat belasan ton. Paru-paruku mengempis, menolak oksigen. Inilah hukuman jika aku menolak. Mereka tidak memintaku membunuh orang lain lagi. Kali ini, mereka menginginkan aku.
"C**up..." bisikku parau. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. "Ambil saja semuanya. Aku tidak mau lagi."
Aku berdiri dengan sisa tenaga yang ada, menyeret langkah menuju balkon. Angin malam Jakarta yang polutif menerpa wajahku, namun dinginnya tak mampu menandingi dingin yang merayap di sumsum tulangku. Dari ketinggian lant** empat puluh ini, lampu-lampu kota di bawah sana tampak seperti kunang-kunang yang acuh tak acuh.
Aku melihat ke bawah. Kehampaan itu memanggilku. Jika aku mati sekarang, apakah teror ini akan berakhir? Ataukah aku hanya akan berpindah dari satu neraka ke neraka yang lain?
Logika sosiopatku yang biasanya bekerja cepat untuk mencari jalan keluar, kini buntu. Tidak ada lagi orang yang bisa kumanipulasi. Tidak ada lagi sandiwara yang bisa kumainkan di hadapan maut. Aku takut sakit, sangat takut. Tapi rasa sakit ditarik perlahan ke liang lahat oleh tangan-tangan gaib ini jauh lebih mengerikan daripada jatuh dalam hitungan detik.
Aku memanjat pagar balkon. Tanganku yang biasanya kokoh saat menandatangani dokumen pengalihan harta, kini berkeringat dingin. Aku menatap ponsel di genggamanku sekali lagi. Wajah merekaβfoto profil di grup ituβseolah-olah tersenyum menatapku melalui layar yang retak.
"Kalian menang," gumamku.
Aku memejamkan mata, membayangkan kursi bus tua yang robek, bau apek joknya, dan wajah-wajah pucat keluargaku yang menanti di dalam kegelapan. Aku melepaskan peganganku.
Gravitasi menyambutku dengan kasar. Angin menderu di telingaku, menelan jeritan tertahan yang tidak sempat keluar dari tenggorokanku. Selama beberapa detik yang terasa selamanya, aku merasakan kebebasan. Tak ada notifikasi, tak ada tuntutan, tak ada dosa yang mengejar.
*Bruk.*
Kegelapan total menyelimuti. Tidak ada rasa sakit yang kubayangkan. Hanya sunyi. Dingin. Dan kehampaan yang tak berujung.
Aku tidak tahu berapa lama aku berada dalam kondisi itu, sampai akhirnya aku merasakan getaran yang sangat kukenali di saku celanaku. Getaran ponsel yang seharusnya hancur berkeping-keping bersamaku di aspal bawah sana.
Aku membuka mata. Aku tidak berada di jalan raya. Aku duduk di atas jok kulit yang lembap dan berbau debu. Di depanku, sandaran kursi tampak kusam. Di sampingku, kaca jendela bus retak seribu, menampakkan pemandangan jalanan yang diselimuti kabut putih pekat.
Ponsel di tanganku berdenting. Cahayanya adalah satu-satunya sumber cahaya di dalam bus yang gelap ini.
Aku melihat ke arah kursi pengemudi. Ayah duduk di sana, menatapku melalui spion tengah dengan mata yang hanya berupa lubang hitam. Ibu duduk di baris kedua, tersenyum kaku dengan rahang yang miring. Sebelas anggota keluargaku ada di sana. Semuanya.
Layar ponselku menyala, menampilkan sebuah notifikasi baru yang muncul di bagian bawah percakapan.
**Sistem: Raka telah bergabung ke dalam grup.**
Aku menoleh ke samping. Kak Widya menggeser duduknya, memberi ruang padaku di kursi yang dingin itu. Ia mengulurkan tangannya yang pucat dan penuh luka lecet, menyentuh lenganku.
"Selamat datang di rumah, Raka," bisiknya. Suaranya bukan berasal dari mulutnya, melainkan bergema langsung di dalam kepalaku.
Ponselku kembali berdenting. Kali ini, sebuah pesan ma**k dari nomor yang sangat kukenali. Nomor pengacara pribadiku, orang yang mengurus semua hartaku di dunia sana.
**Pengacara:** *Pak Raka? Anda di mana? Polisi menemukan jenazah Anda di bawah penthouse. Siapa yang akan mewarisi semua ini sekarang?*
Aku mencoba mengetik, mencoba berteriak bahwa aku masih di sini, tapi jari-jariku tidak lagi menuruti perintahku. Ponsel itu perlahan meredup, menyisakan layar hitam yang memantulkan wajahku sendiriβwajah yang kini sama pucatnya dengan mereka, dengan mata yang mulai mengosong.
Bus itu mulai melaju. Tidak ada suara mesin, hanya keheningan yang menyesakkan saat kami menembus kabut, menuju jalan yang tidak ada di peta mana pun.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!