Notifikasi Maut: Grup Keluarga 11 Nyawa

Bab 2: Bab 2 - Menerima pesan suara dari ayahnya yang berisi s...

Pengaturan Membaca

Gelas kristal di tangan Raka berdenting halus saat ia meletakkannya di atas meja marmer. Cairan amber di dalamnya bergoyang, memantulkan cahaya lampu gantung yang mewah di penthouse barunya. Seharusnya, malam ini adalah perayaan kecil atas keberhasilannya mengamankan aset perusahaan mendiang pamannya. Namun, getaran ponsel di saku celana bahannya merusak ritme ketenangannya.

*Zzt. Zzt.*

Raka menarik napas panjang, mencoba menekan iritasi yang mulai merayap. Ia merogoh ponselnya, berharap itu hanya pesan dari sekretaris atau rekan bisnisnya. Namun, layar OLED itu menampilkan sesuatu yang mustahil.

**Keluarga Besar (12)**

**Ayah:** *[Pesan Suara 0:15]*

Jantung Raka berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan ritme yang tidak beraturan. Nama itu. Nama yang seharusnya sudah terkubur tiga meter di bawah tanah bersama potongan logam bus yang ringsek setahun lalu. Jempolnya menggantung di atas layar, ragu-ragu. Sebagai seorang yang terbiasa mengendalikan narasi, Raka benci situasi di mana ia tidak memegang kendali.

"Siapa pun ini, kau bermain-main dengan orang yang salah," bisiknya pada ruangan yang sepi. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiriβ€”sedikit terlalu tinggi, sedikit terlalu gemetar.

Ia menekan ikon *play*.

Awalnya hanya keheningan statis yang tajam. Raka mendekatkan speaker ponsel ke telinganya. Kemudian, sebuah suara muncul. Bukan suara manusia, melainkan suara gesekan logam yang memuakkan.

*Sreeeeeeeek!*

Bunyi derit rem bus yang blong. Suara yang sama yang menghantui mimpi buruk Raka setiap malam sejak kejadian di tebing itu. Suara ban yang kehilangan cengkeraman pada aspal basah, diikuti oleh teriakan-teriakan tertahan yang tiba-tiba terputus oleh dentuman hebat.

Di tengah kebisingan mekanis itu, terdengar suara parau yang sangat ia kenali. Berat, berwibawa, namun kini dipenuhi dengan nada tercekik.

*"Raka... kenapa remnya tidak berfungsi?"*

Ponsel itu hampir saja terlepas dari genggaman Raka. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia bisa merasakan bulu kuduknya berdiri. Itu suara Ayah. Jelas sekali itu suara Ayahnya di detik-detik terakhir sebelum bus itu terjun bebas ke jurang. Tapi bagaimana mungkin? Ponsel Ayahnya hancur lebur, terkubur bersama jasadnya yang tidak utuh.

"Hacker. Ini pasti kerjaan hacker," Raka bergumam cepat, mencoba merasionalisasi horor yang baru saja ia dengar. Otak taktisnya mulai bekerja. Mungkin ini upaya pemerasan. Seseorang tahu ia adalah satu-satunya yang selamat. Seseorang mungkin tahu rahasia kecil yang ia simpan rapat-rapat tentang inspeksi kendaraan sebelum perjalanan itu dimulai.

Dengan gerakan cepat, Raka menekan info grup. Ia berniat memblokir nomor-nomor itu satu per satu atau setidaknya keluar dari grup g*** ini. Ia menekan tombol 'Keluar dari Grup'.

Sebuah notifikasi muncul: *Gagal keluar dari grup. Anda adalah bagian dari kami.*

Raka mengerutkan kening. Ia mencoba lagi. Sekali, dua kali, sepuluh kali. Jarinya menekan layar dengan kalap hingga ujung kukunya memutih. Hasilnya tetap sama. Ia mencoba menghapus obrolan, namun pilihan 'Hapus Chat' bahkan tidak bisa diklik, seolah-olah menu itu terkunci oleh otoritas yang lebih tinggi.

"Si****!" umpatnya. Ia melempar ponselnya ke sofa kulit.

Ponsel itu kembali bergetar. Kali ini lebih lama, lebih menuntut.

**Ibu:** *Raka, kenapa kau mencoba pergi? Bukankah kau yang paling ingin kita selalu bersama?*

Raka mundur selangkah. Napasnya memburu. Bagaimana mereka bisa tahu apa yang baru saja ia lakukan? Matanya menyapu sekeliling ruangan penthouse yang luas itu. Apakah ada kamera tersembunyi? Apakah rumah ini sudah disadap? Keamanan di gedung ini seharusnya nomor satu, tapi paranoia mulai menggerogoti dinding-dinding logikanya.

Ia meraih ponselnya kembali, berniat mematikan daya perangkat itu sepenuhnya. Namun, saat jarinya menyentuh tombol power, layar ponselnya justru berubah menjadi hitam pekat, lalu memancarkan cahaya merah darah.

Sebuah foto terkirim ke grup.

Itu adalah foto punggung Raka yang sedang berdiri di ruang tamu, diambil dari sudut balkon luar. Di sana, di balik kaca jendela besar yang menghadap ke arah kota, Raka bisa melihat pantulan dirinya sendiri. Namun, di dalam foto itu, di belakang sosoknya, berdiri bayangan samar sebelas orang dengan tubuh yang hancur dan pakaian yang bersimbah darah.

Raka tersentak dan berputar ke belakang dengan cepat. Kosong. Hanya ada udara kosong dan kemewahan yang kini terasa seperti peti mati berlapis emas.

Ponselnya berbunyi lagi. Pesan baru dari Ayah.

**Ayah:** *Jangan takut, Raka. Kami hanya ingin kau meluruskan sesuatu. Besok, perg***h ke kantor polisi. Akui bahwa kau tahu kabel rem itu sudah aus.*

Raka merasakan dadanya sesak, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Sensasi dingin mulai merayap dari kakinya, menjalar ke atas, membuat otot-ototnya kaku. Ini bukan sekadar teror siber. Ini adalah tuntutan dari liang lahat.

Jika ia menolak, ia tahu status sosialnya akan hancur. Jika ia menurut, ia akan membusuk di penjara. Namun, rasa sakit yang mulai menusuk-nusuk di tulang belakangnya memberitahunya satu hal: penolakan akan mendatangkan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada jeruji besi.

Layar ponselnya kembali menyala, menampilkan sebuah peta koordinat yang berkedip-kedip merah. Di bawahnya, sebuah pesan singkat muncul dari akun bernama 'Adik Kecil':

*Kalau tidak pergi, besok malam giliran rem mobilmu yang berderit, Kak.*

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca