Notifikasi Maut: Grup Keluarga 11 Nyawa

Bab 3: Bab 3 - Anggota keluarga mulai mengirimkan stiker lucu ...

Pengaturan Membaca

Gelas kristal di tangan Raka bergetar halus, denting es batu di dalamnya menciptakan simfoni kecemasan yang coba ia redam. Ia meneguk wiski mahalnya dalam satu tarikan napas, membiarkan cairan hangat itu membakar kerongkongannya. Matanya menatap nanar ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja marmer. Benda pipih hitam itu tampak begitu tak berdosa, namun Raka tahu di dalamnya bersemayam sesuatu yang mustahil.

*Ding.*

Suara notifikasi WhatsApp yang biasanya terdengar sepele, kini terdengar seperti lonceng kematian. Raka tersentak, hampir menjatuhkan gelasnya. Dengan jari yang sedikit gemetar, ia meraih ponsel itu. Layarnya menyala, menampilkan grup 'Keluarga Besar'.

Ada pesan baru dari Bibi Sarah. Sewaktu hidup, Bibi Sarah adalah wanita yang terobsesi dengan stiker-stiker WhatsApp yang ceriaβ€”bunga-bunga berwarna-warni dengan ucapan selamat pagi yang klise.

Sebuah stiker muncul. Gambar seekor kucing lucu yang sedang memegang papan bertuliskan *"Semangat Pagi!"*. Namun, ada yang salah. Wajah kucing itu tidak ada. Di sana, tertempel foto wajah Bibi Sarah yang hancur setengah bagian. Kulitnya menggelambir seperti lilin yang meleleh, menampakkan tulang pipi yang retak dan lubang mata yang kosong, seolah dipaksa ma**k ke dalam bingkai stiker digital itu secara kasar.

Raka menahan mual. "Si****. Siapa yang meretas akun ini?" gumamnya, suaranya parau.

*Ding.*

Stiker berikutnya dikirim oleh Paman Hendra. Stiker jempol raksasa dengan tulisan *"MANTAP!"*. Namun, jempol itu bukan ilustrasi kartun, melainkan potongan jari manusia yang membiru dan membusuk, dengan kuku yang terlepas setengah. Di belakangnya, wajah Paman Hendra yang terdistorsi akibat benturan keras di bus setahun lalu tampak menyeringai lebar, menampakkan deretan gigi yang hancur dan gusi yang menghitam.

Raka melempar ponselnya ke atas sofa seolah benda itu baru saja berubah menjadi bara api. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan ritme yang menyakitkan. Ia berdiri, mondar-mandir di ruang tengah rumah mewahnya yang luas dan sepi. Ia adalah seorang perencana, seorang manipulator yang handal. Ia bisa meyakinkan polisi bahwa kecelakaan bus itu murni musibah, ia bisa mengelabui pengacara untuk mendapatkan seluruh warisan tanpa sisa. Namun, ia tidak tahu bagaimana cara memanipulasi orang mati yang bisa mengirim pesan instan.

"Ini hanya lelucon. Ini hanya manipulasi digital," Raka mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Paranoianya mulai merayap, membisikkan kemungkinan-kemungkinan terburuk. Apakah ada anggota keluarga yang selamat? Tidak mungkin. Ia sendiri yang mengidentifikasi jenazah-jenazah yang hancur itu.

*Ding. Ding. Ding. Ding.*

Ponsel di atas sofa itu bergetar tanpa henti. Notifikasi beruntun. Raka tidak tahan lagi. Ia menyambar ponsel itu, berniat mematikan daya atau menghapus aplikasi tersebut. Namun, layarnya terkunci. Bukan oleh kata sandi, melainkan oleh sebuah gambar besar yang memenuhi layar.

Itu adalah stiker Ibu. Stiker bergambar hati merah besar dengan tulisan *"Ibu Sayang Raka"*. Di tengah hati itu, wajah ibunya menatap langsung ke arahnya. Wajah yang seharusnya sudah tertutup tanah itu kini tampak basah oleh darah kering, dengan kulit dahi yang terkoyak hingga menampakkan tengkorak putih di bawahnya. Yang paling mengerikan adalah matanya; satu matanya menjunt** keluar dari kelopak, menggantung di pipi, sementara mata yang lain menatap Raka dengan tatapan lapar yang amat sangat ia kenali. Tatapan penagih janji.

"C**up!" teriak Raka.

Dengan amarah yang bercampur ketakutan murni, ia membanting ponsel itu ke lant** marmer sekuat tenaga. *Prang!* Layar ponsel itu retak seribu, pecah berkeping-keping. Suasana mendadak hening. Raka terengah-engah, dadanya naik turun. Ia merasa sedikit lega melihat benda terkutuk itu hancur berantakan.

Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum, mencoba mengatur kembali topeng ketenangannya. Namun, saat ia melewati meja kerja di sudut ruangan, sebuah cahaya biru menyala di kegelapan.

Laptop miliknya, yang tadi dalam mode *sleep*, tiba-tiba menyala sendiri.

Raka terpaku. Di layar monitor 24 inci itu, aplikasi WhatsApp Desktop terbuka dengan sendirinya. Jendela grup 'Keluarga Besar' mendominasi layar. Kursor bergerak-gerak seperti digerakkan oleh tangan tak terlihat, menggulirkan layar ke atas, memperlihatkan kembali semua stiker mengerikan tadi dalam ukuran yang jauh lebih besar dan det**l.

*Ding.*

Bunyi itu tidak berasal dari ponselnya yang sudah hancur. Bunyi itu keluar dari *speaker* laptop.

*Ding.*

Kini suara itu menyahut dari arah televisi di ruang tengah. TV pintar itu menyala, menampilkan antarmuka yang sama. Seluruh rumah Raka yang tadinya adalah simbol kesuksesan dan kemewahan, kini berubah menjadi galeri digital yang mengerikan.

*Ding.*

Bahkan jam tangan pintar di pergelangan tangannya bergetar hebat. Raka menatap pergelangan tangannya dengan ngeri. Di layar kecil itu, sebuah pesan teks muncul, menutupi stiker wajah ayahnya yang hancur:

**Ayah: "Kenapa dibanting, Raka? Ayah belum selesai bicara."**

Raka mencoba melepas jam tangan itu, namun pengaitnya seolah terkunci mati. Rasa dingin yang luar biasa mulai menjalar dari jam tangan itu ke seluruh lengannya, seolah ada tangan yang membeku sedang mencengkeram nadinya.

"Pergi! Kalian sudah mati!" teriak Raka, suaranya menggema di ruangan yang luas itu, namun hanya dibalas oleh bunyi notifikasi yang bersahutan dari setiap sudut rumah.

Di layar televisi, sebuah pesan baru sedang diketik. Ikon "..." bergerak-gerak, menciptakan ketegangan yang mencekik. Raka terpaku, matanya terbelalak menatap layar besar itu.

**Ibu: "Raka sayang, adikmu lapar. Dia ingin kamu melakukan sesuatu untuknya."**

Sebuah stiker lagi muncul. Kali ini adalah adik perempuannya yang baru berusia sepuluh tahun saat kecelakaan itu. Stiker itu memperlihatkan sang adik sedang memegang piring kosong dengan sendok dan garpu. Wajah kecilnya hancur tak berbentuk, rahang bawahnya hilang, menyisakan lidah yang menjunt** layu.

Di bawah stiker itu, sebuah instruksi tertulis dengan huruf kapital merah yang kontras.

**"PERGI KE DAPUR. AMBIL PISAU DAGING. KITA MULAI DENGAN TETANGGA SEBELAH."**

Raka merasakan tubuhnya kaku. Bukan karena takut, tapi karena sebuah kekuatan tak terlihat mulai menggerakkan kakinya. Otot-ototnya berkedut, seolah ada benang-benang gaib yang menariknya menuju dapur. Rasa sakit yang tajam menghujam tulang belakangnya setiap kali ia mencoba melawan. Ia ingin berteriak, namun tenggorokannya tercekat oleh rasa dingin yang membeku.

Ponselnya yang hancur di lant** tiba-tiba mengeluarkan suara tawa anak kecil yang melengking melalui *speaker*-nya yang pecah, bergema bersamaan dengan denting notifikasi yang tak henti-hentinya menuntut perhatian. Raka tidak lagi memiliki kendali atas tubuhnya sendiri saat tangannya meraih gagang pisau daging yang berkilau di bawah lampu dapur yang berkedip.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca