Cahaya matahari pagi yang menerobos ma**k melalui celah gorden sutra di ruang tengah rumah mewah ini biasanya terasa hangat, namun pagi ini, sensasinya seperti jilatan api yang merambat di kulit. Aku duduk di tepi sofa beludru, menyesap kopi luwak yang mulai dingin. Di hadapanku, ponsel yang tadinya diam membisu tiba-tiba bergetar di atas meja marmer.
*Drrttt... Drrttt...*
Aku tidak segera meraihnya. Jantungku berdegup tidak keruan, sebuah reaksi biologis yang sangat aku benci karena menunjukkan kelemahan. Sejak grup WhatsApp 'Keluarga Besar' itu muncul entah dari mana semalam, kewarasanku seolah digantung di seutas benang tipis. Sebelas anggota keluarga yang sudah tewas dalam bus yang ringsek setahun lalu, kini 'hidup' kembali dalam bentuk barisan teks di layar digital.
Tanganku yang sedikit gemetar akhirnya meraih ponsel itu. Sebuah pesan baru ma**k.
**Papa:** *Raka, anakku. Kau tampak sangat tampan pagi ini di ruang tengah. Tapi rumah itu terlalu sepi, bukan? Kau butuh hiburan.*
Aku menelan ludah. Bagaimana 'dia' tahu aku sedang di ruang tengah? Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang luas dan sunyi itu. CCTV yang kupasang di setiap sudut seharusnya hanya bisa diakses olehku. Apakah mereka memperhatikanku dari balik bayang-bayang?
Notifikasi berikutnya muncul. Kali ini dari **Mama**.
**Mama:** *Jangan biarkan orang lain meremehkan keluarga kita, Raka. Ingat Pak Handoko? Tetangga sebelah yang menyebutmu 'burung bangkai yang berpesta di atas kuburan orang tua sendiri'? Dia sedang menyiram tanaman di depan rumahnya sekarang.*
Mataku menyipit. Pak Handoko. Pria tua sok suci itu memang pernah menghinaku di depan pengacara saat pembagian warisan dulu. Dia menganggap aku tidak pantas mendapatkan semuanya sendirian. Bagiku, dia hanyalah serangga pengganggu yang belum sempat aku injak karena aku terlalu sibuk memoles citra sebagai yatim piatu yang berduka.
Sebuah foto terkirim ke grup. Foto Pak Handoko dari sudut pandang yang sangat dekat, seolah-olah pengambil foto berdiri tepat di belakangnya. Dia sedang memegang selang air, memunggungi pagar pembatas rumahku.
**Papa:** *Beri dia pelajaran, Raka. Ma**klah ke sana. Ambil gunting rumput di gudangmu. Buat dia berhenti menghina kita. Potong tiga jari tangan kanannya agar dia tidak bisa lagi menunjuk-nunjuk dengan sombong.*
Aku tertawa kering, sebuah tawa yang terdengar asing di telingaku sendiri. "Kalian g***," bisikku pada layar ponsel. "Aku bukan pembunuh bayaran kalian. Aku punya reputasi yang harus dijaga. Jika aku tertangkap, semua harta ini akan lenyap."
Logikaku sebagai seorang perencana mulai bekerja. Melakukan kekerasan fisik secara langsung adalah tindakan ceroboh. Aku lebih suka menghancurkan orang dari balik meja, melalui manipulasi finansial atau skandal sosial. Aku tidak akan mengotori tanganku hanya karena perintah dari 'hantu' di dalam aplikasi pesan singkat.
Aku mengetik balasan dengan jempol yang kini stabil.
**Raka:** *Aku tidak akan melakukannya. Berhenti menggangguku atau aku akan menghancurkan ponsel ini dan pindah ke luar negeri.*
Aku meletakkan ponsel itu kembali ke meja dengan dentingan keras, seolah-olah itu adalah pernyataan final. Aku bangkit, berniat menuju dapur untuk membuang kopi yang sudah hambar. Namun, baru dua langkah berjalan, suhu di ruangan itu turun drastis. Napasku berubah menjadi uap putih di udara.
Tiba-tiba, sebuah tekanan hebat menghantam leherku.
"Ugh!"
Aku tersungkur ke lant** marmer yang dingin. Rasanya seolah-olah ada sepasang tangan tak kasat mata yang besar dan sangat kuat melingkari leherku, lalu mencekiknya dengan kekuatan penuh. Aku mencoba menarik tangan itu, namun jari-jariku hanya mencengkeram kulit leherku sendiri.
Oksigen seolah menghilang dari ruangan. Paru-paruku berteriak, memohon udara yang tak kunjung datang. Wajahku terasa panas, detak jantungku berdentum di gendang telinga seperti genderang perang. Aku merangkak di lant**, mencoba menggapai udara, namun tekanan itu semakin menguat.
*“Uhukk... Lepas...”* suaraku hanya berupa bisikan serak yang menyedihkan.
Pandanganku mulai mengabur. Di tengah rasa sakit yang menghimpit, aku melihat ponsel di atas meja menyala terang. Notifikasi terus beruntun ma**k, diiringi suara denting yang m****akkan telinga dalam kesunyian rumah itu.
**Adik bungsu (Santi):** *Kak Raka nakal. Papa tidak suka dibantah.*
**Paman Hardi:** *Rasanya seperti saat bus itu terguling, kan? Sesak. Gelap. Sakit.*
**Papa:** *Pilih, Raka. Jarinya, atau nyawamu? Aku bisa menarikmu ke sini sekarang juga jika kau mau mencicipi dinginnya tanah makam kami.*
Tekanan di leherku kini terasa seperti lilitan kawat berduri yang ditarik kencang. Aku bisa merasakan pembuluh darah di mataku seakan mau pecah. Aku tersedak, air mata mulai mengalir bukan karena sedih, melainkan karena reaksi tubuh terhadap kematian yang sudah di ambang pintu.
Aku tidak ingin mati. Tidak sekarang, tidak saat aku baru saja mulai menikmati kekayaan ini. Ego dan rasa takutku akan rasa sakit mengalahkan segalanya.
Dengan sisa tenaga yang ada, aku merangkak menuju meja, meraih ponsel itu dengan tangan yang membiru. Dengan jari gemetar, aku mengetik satu kata di kolom pesan.
**Raka:** *BAIK.*
Seketika itu juga, tekanan di leherku lenyap. Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya, terbatuk-batuk hingga dadaku sakit, dan tersungkur di lant** dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhku. Aku menyentuh leherku; di sana terasa perih, dan saat aku melihat cermin besar di dinding ruang tengah, aku melihat bekas merah keunguan berbentuk sidik jari manusia yang melingkar di leherku.
Ponselku bergetar sekali lagi.
**Papa:** *Anak pintar. Gunting rumputnya ada di laci ketiga gudang belakang. Cepatlah, Pak Handoko sebentar lagi akan ma**k ke dalam rumahnya.*
Aku menatap pantulanku di cermin. Mataku yang biasanya dingin kini menyiratkan paranoia yang murni. Aku adalah seorang sosiopat, seorang manipulator ulung, namun di hadapan sebelas nyawa yang menolak untuk beristirahat ini, aku hanyalah seekor pion yang sedang digiring menuju tepi jurang.
Aku berdiri, menyeka keringat di dahi, dan melangkah menuju gudang belakang. Pikiranku mulai berputar, bukan lagi tentang bagaimana cara menolak, melainkan bagaimana cara melakukan perintah g*** ini tanpa meninggalkan jejak. Jika aku harus menjadi monster demi mempertahankan hidupku, maka aku akan menjadi monster yang paling rapi yang pernah mereka lihat.
Tanganku membuka laci ketiga di gudang. Kilatan baja dari gunting rumput yang tajam menyambut pandanganku. Di luar, suara kucuran air dari selang Pak Handoko masih terdengar samar. Aku menarik napas panjang, menggenggam gagang gunting itu erat-erat, dan melangkah keluar menuju taman samping yang berbatasan langsung dengan area Pak Handoko.
Setiap langkahku terasa berat, diiringi oleh sensasi aneh seolah-olah ada sebelas pasang mata yang mengawasi dari balik dedaunan, menanti pertunjukan darah pertama mereka dimulai.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!