Notifikasi Maut: Grup Keluarga 11 Nyawa

Bab 5: Bab 5 - Raka melaksanakan perintah pertama untuk menghe...

Pengaturan Membaca

Rasa sakit itu tidak seperti migrain atau tusukan belati biasa. Ini lebih buruk. Rasanya seolah-olah ribuan akar pohon yang dingin dan berlumut merambat ma**k ke dalam pori-pori kulitku, membelit tulang rusuk, dan menarik jantungku ke arah lant** beton. Aku tersungkur di atas permadani sutra di ruang tengah, mencengkeram dadaku yang terasa sesak oleh aroma tanah basah yang entah dari mana asalnya. Setiap kali aku mencoba menghirup udara, yang kurasakan justru debu makam yang menyumbat tenggorokan.

Ponselku yang tergeletak di lant** bergetar, memancarkan cahaya biru yang menyakitkan mata di tengah kegelapan ruangan.

*Ping!*

Satu notifikasi dari grup WhatsApp 'Keluarga Besar'. Tanganku gemetar hebat saat meraih benda pipih itu. Layarnya retak tipis, tapi pesannya terbaca sangat jelas.

**Ibu:** *Raka, jangan keras kepala. Sakitnya tidak akan hilang sampai kamu patuh. Ingat apa yang Ibu ajarkan? Keluarga harus saling menolong.*

**Paman Darma:** *Cepat lakukan, Raka. Atau kau mau kami jemput sekarang juga? Liang lahat di sebelahku masih c**up luas untuk satu orang lagi.*

Aku mengerang, air mata paksaan meleleh di pipiku. Bukan karena sedih, tapi karena tekanan di paru-paruku sudah sampai pada batas yang tak tertahankan. Aku adalah orang yang selalu memegang kendali. Aku yang mengatur bagaimana orang lain memandangkuβ€”sebagai pemuda malang yang tegar setelah kehilangan keluarganya. Namun sekarang, kendali itu direnggut oleh jari-jari pucat dari balik kubur.

Aku merangkak menuju dapur, mencari kunci cadangan rumah belakang. Targetnya sudah ditentukan dalam pesan suara yang dikirimkan Ayah sepuluh menit yang lalu. Pak Jaka. Penjaga rumah tua ini yang sudah mengabdi selama dua puluh tahun. Dia adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa pada malam kecelakaan bus itu, aku tidak berada di rumah karena sedang berpesta, melainkan sedang menyabotase rem bus tersebut demi warisan yang sekarang kunikmati.

Pikiranku berputar cepat. Jika aku membunuhnya, aku akan kehilangan saksi kunci sekaligus menuruti perintah 'mereka'. Insting bertahan hidupku berteriak bahwa ini adalah pilihan logis. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di sudut hatiku yang paling gelapβ€”sebuah gesekan tipis antara rasa bersalah dan ego. Membunuh Pak Jaka berarti aku benar-benar menjadi monster yang mereka inginkan.

"Maafkan saya, Pak Jaka," bisikku, suaranya parau dan kering. Aku mengambil sebotol anggur mahal dari rak, lalu menuangkan bubuk penenang dosis tinggi yang selalu kusimpan untuk malam-malam tanpa tidur.

Aku berjalan menuju paviliun belakang dengan langkah gont**. Setiap langkah terasa seperti menyeret beban seratus kilogram. Saat aku sampai di depan pintu kamar Pak Jaka, rasa sakit di dadaku mendadak berhenti sejenak, memberikan ruang bagi udara dingin malam ma**k ke paru-paruku. Itu adalah sebuah imbalan kecil, sebuah 'sampel' dari kenyamanan jika aku patuh.

Aku mengetuk pintu kayu itu. Pelan, namun tegas.

"Pak Jaka? Bisa bantu saya sebentar? Saya tidak bisa tidur," panggilku dengan nada suara paling rapuh yang bisa kumanipulasi. Aku memasang wajah pucat, mata yang kuyu, dan bahu yang merosot. Aku adalah aktor terbaik dalam hidupku sendiri.

Pintu terbuka. Pak Jaka muncul dengan sarung yang disampirkan di bahu, wajah tuanya tampak penuh kekhawatiran. "Den Raka? Ada apa malam-malam begini? Den sakit?"

"Hanya... pikiran buruk, Pak. Saya membawakan anggur. Mungkin kita bisa bicara sebentar supaya saya tenang," kataku sambil menyodorkan gelas berisi cairan merah pekat itu.

Pak Jaka ragu sejenak. Dia tahu aku jarang sekali mengajaknya bicara secara pribadi sejak pemakaman. Namun, kesetiaannya yang buta adalah kelemahannya. Dia menerima gelas itu. "Tentu, Den. Silakan duduk."

Aku memperhatikannya minum. Satu tegukan, dua tegukan. Aku menghitung dalam hati, memetakan taktik berikutnya. Di bawah meja, tanganku mencengkeram pisau lipat yang kupindahkan dari saku celana. Ada rasa mual yang naik ke kerongkonganβ€”bukan karena aku menyesali perbuatanku, tapi karena aku benci harus mengotori tanganku sendiri. Aku lebih suka kecelakaan yang rapi, seperti bus itu.

"Den... kepala saya... kok pusing..." Suara Pak Jaka melemah. Gelas di tangannya terlepas, jatuh ke lant** tanpa pecah karena tertahan karpet murah di kamarnya.

Aku berdiri, wajahku yang tadinya tampak rapuh kini berubah menjadi dingin dan datar seolah-olah dipahat dari es. Aku mendekatinya, memegangi bahunya saat dia mulai limbung. "Pak Jaka, Ibu dan Ayah merindukanmu. Mereka bilang, mereka kesepian di sana."

Mata Pak Jaka membelalak, ketakutan mulai merayap di wajahnya yang keriput. Dia mencoba bicara, namun lidahnya sudah lumpuh oleh obat itu. Aku menuntunnya ke arah tempat tidur, mendorongnya perlahan hingga dia berbaring telentang.

Tanganku meraih bantal. Saat aku menekan bantal itu ke wajahnya, sebuah sensasi aneh menjalar di sekujur tubuhku. Rasa sakit yang tadi menghimpit jantungku lenyap seketika, digantikan oleh kehangatan yang menjalar seperti aliran listrik. Ini bukan sekadar hilangnya rasa sakit, ini adalah sebuah euforia. Seolah-olah 'keluargaku' sedang memelukku dari belakang, memberikan kekuatan pada lenganku untuk terus menekan.

Pak Jaka meronta lemah. Kakinya menendang ka**r beberapa kali sebelum akhirnya diam sepenuhnya. Kamar itu menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara napasku yang memburu.

Aku melepaskan bantal itu. Pak Jaka sudah pergi.

Aku berdiri tegak, merapikan kemejaku yang sedikit berantakan. Tidak ada lagi rasa tanah di mulutku. Tidak ada lagi akar yang melilit tulangku. Aku merasa ringan. Aku merasa... berkuasa.

Aku merogoh ponselku dan mengetik di grup.

**Raka:** *Sudah selesai. Pak Jaka sudah dalam perjalanan menemui kalian.*

Aku menunggu. Suasana malam terasa lebih pekat dari biasanya. Tiba-tiba, layar ponselku berkedip berkali-kali. Bukan hanya satu pesan yang ma**k, tapi sebelas pesan sekaligus dalam waktu satu detik.

*Ping! Ping! Ping! Ping!*

Aku membukanya dengan senyum kemenangan yang perlahan memudar saat membaca pesan terbaru dari adik perempuanku, Maya, yang meninggal di usia tujuh tahun.

**Maya:** *Kakak pintar! Tapi Pak Jaka bilang, Kakak bohong soal rem bus itu. Ayah marah besar, Kak. Ayah bilang, satu nyawa tidak c**up untuk menebus sebelas nyawa.*

Ponselku bergetar lagi, kali ini bukan pesan teks. Sebuah pangg***n video ma**k dari nomor Ayah. Layarnya menampilkan gambar yang gelap, namun aku bisa mendengar suara napas yang berat dan suara tanah yang digali dengan kasar.

Lalu, sebuah notifikasi baru muncul, membuat jantungku yang baru saja tenang kembali berdegup kencang hingga terasa ingin pecah.

**Ayah:** *Buka pintu depan, Raka. Kami sudah membawa Pak Jaka kembali. Kami semua ada di teras sekarang.*

Suara ketukan keras bergema dari arah pintu depan rumah mewahku. Bukan ketukan manusia, melainkan suara hantaman benda tumpul yang beratβ€”seperti suara peti mati yang dibenturkan ke kayu jati pintu rumahku.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca