Cairan amber di dalam gelas kristal itu bergoyang pelan seiring dengan gemetarnya jemari Raka. Ia baru saja meneguk wiski mahal yang seharusnya bisa menenangkan saraf-sarafnya, namun sensasi hangat itu tidak mampu mengusir hawa dingin yang merayap di tengkuknya. Di atas meja marmer, ponselnya menyala. Cahaya pendar dari layar itu seolah-olah mata satu yang menatapnya dengan penuh kebencian.
*Denting.*
Bunyi notifikasi WhatsApp itu terdengar seperti letusan pistol di keheningan apartemen *penthouse*-nya yang luas. Raka menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti disumpal kerikil tajam. Ia tidak ingin melihatnya, namun tangannya bergerak di luar kendali, seolah ditarik oleh benang-benang tak kasatmata.
**Grup: Keluarga Besar (12)**
**Papa:** *Masih ingat tikungan tajam di kilometer 72 itu, Raka? Malam itu gelap sekali. Hujan turun seperti ingin menenggelamkan kita semua.*
Raka meletakkan gelasnya dengan kasar hingga airnya menciprat ke meja. Napasnya mulai pendek. Ia ingat. Tentu saja ia ingat. Ia adalah orang terakhir yang turun dari bus itu dengan alasan "ingin membeli rokok" di rest area terakhir, sebelum bus malang itu melanjutkan perjalanan menuju jurang.
**Mama:** *Kursinya sangat empuk, tapi baunya aneh. Bau oli dan sesuatu yang terbakar. Kamu ingat kan, Nak? Kamu yang memilihkan bus pariwisata itu untuk kita semua.*
**Om Danu:** *Aku duduk di depan dekat supir. Aku melihatnya panik. Dia mengocok rem berkali-kali, tapi pedalnya loss. Kosong. Seperti menginjak angin.*
Keringat dingin mulai membasahi dahi Raka. Ia menyeka wajahnya dengan kasar, namun bayangan itu justru semakin jelas. Ia teringat bagaimana ia menyelinap ke garasi bus sehari sebelumnya, memberikan amplop tebal berisi uang tunai kepada seorang mekanik pecandu judi yang bersedia melakukan apa saja, terma**k melonggarkan baut pada sistem hidrolik rem.
"Hentikan," bisik Raka pada ruang kosong. "Itu kecelakaan. Polisi bilang itu kecelakaan."
**Tante Sari:** *Kecelakaan? Tapi supir itu sempat berteriak sebelum kami terjun. Dia bilang, "Ada yang memotong kabelnya!".*
**Riko (Sepupu):** *Aku melihatmu, Bang Raka. Di parkiran rest area. Kamu tidak membeli rokok. Kamu berdiri di bawah lampu jalan yang redup, melihat bus kita menjauh dengan senyum yang tidak pernah aku lupakan. Senyum orang yang baru saja memenangkan lotre.*
Ponsel itu terasa panas di genggaman Raka. Ia ingin membantingnya ke dinding, menghancurkannya hingga menjadi serpihan kecil, namun sebuah rasa sakit yang menusuk tiba-tiba menghantam dadanya. Jantungnya seolah diremas oleh tangan raksasa yang dingin. Ia jatuh tersungkur di atas karpet Persia-nya, mengerang kesakitan.
Ini adalah hukuman jika ia mencoba mengabaikan mereka. Rasa sakit fisik yang nyata, seolah-olah tulang rusuknya perlahan-lahan patah satu per satu.
"Maaf... maafkan aku," rintihnya, meskipun ia tahu permintaan maaf itu palsu. Sosiopat di dalam dirinya hanya mengutuk mengapa rencana sempurnanya mulai retak. Ia sudah mendapatkan segalanyaβa**ransi jiwa sebelas orang, aset perusahaan keluarga, rumah mewah ini. Semuanya seharusnya menjadi miliknya tanpa gangguan.
**Papa:** *Kenapa diam, Raka? Apa kamu sedang menghitung berapa sisa saldo di rekeningmu hasil dari kematian kami?*
**Adik bungsu (Maya):** *Kak Raka, aku takut sekali waktu busnya terguling. Kepalaku sakit. Semuanya gelap dan bau darah. Kenapa Kakak tidak ikut naik? Kenapa Kakak membiarkan Maya mati sendirian?*
Raka merangkak kembali ke arah meja, meraih ponselnya dengan tangan yang bergetar hebat. Ia harus membalas. Ia harus memanipulasi situasi ini seperti yang biasa ia lakukan.
**Raka:** *Kalian bicara apa? Aku juga menderita. Aku kehilangan kalian semua! Aku memilih bus itu karena ratingnya bagus. Aku tidak tahu apa-apa soal rem itu! Jangan menuduhku seperti ini.*
Beberapa detik berlalu tanpa balasan. Kesunyian itu lebih menyiksa daripada rentetan pesan tadi. Raka menatap layar ponselnya, menunggu indikator "typing..." yang biasanya muncul. Namun, grup itu hening.
Tiba-tiba, sebuah foto terkirim ke dalam grup.
Mata Raka membelalak. Itu adalah foto sebuah benda logam kecil yang berkarat dan berlumuran oli yang menghitam. Sebuah tang pemotong kabel yang memiliki inisial "RK" yang terukir di gagangnyaβtang miliknya yang hilang setahun lalu.
**Papa:** *Benda ini tertinggal di bawah sasis bus, Raka. Mekanik itu tidak membuangnya. Dia menyimpannya sebagai 'a**ransi' jika suatu saat dia butuh uang darimu lagi. Tapi sayang, dia juga sudah menyusul kami kemarin, bukan?*
Raka terkesiap. Benar, ia memang mengirim orang untuk "membereskan" mekanik itu dua minggu yang lalu agar tidak ada saksi yang tersisa. Bagaimana mereka bisa tahu? Bagaimana mungkin orang mati bisa memiliki bukti fisik?
**Mama:** *Kami tidak butuh uangmu, Raka. Kami hanya ingin kamu merasakan apa yang kami rasakan di dasar jurang itu.*
Tiba-tiba, lampu di apartemennya berkedip-kedip lalu padam total. Kegelapan pekat menelan ruangan itu. Satu-satunya cahaya hanya berasal dari layar ponselnya yang kembali berdenting.
**Papa:** *Detik ini, setahun yang lalu, bus itu mulai melayang di udara. Kamu ingin tahu bagaimana rasanya terbang sebelum hancur, Raka?*
Ponsel Raka bergetar tanpa henti. Notifikasi demi notifikasi ma**k dengan kecepatan yang tidak ma**k akal. Namanya disebut berkali-kali dalam teriakan teks yang memenuhi layar.
*Denting! Denting! Denting!*
Tiba-tiba, lant** di bawah kakinya terasa miring. Bukan hanya miring, tapi bergetar hebat seolah-olah apartemen di lant** 20 itu sedang terguling di lereng gunung. Raka berpegangan pada kaki meja, namun meja itu tergeser dengan paksa. Suara kaca pecah, jeritan-jeritan samar manusia, dan bau solar yang menyengat tiba-tiba memenuhi indra penciumannya.
Ia tidak lagi berada di apartemennya. Untuk sekejap, ia melihat bayangan kursi bus yang robek dan wajah-wajah pucat keluarganya yang berlumuran darah menatapnya dari sudut-sudut gelap ruangan yang terus berputar.
Layar ponselnya menyala untuk terakhir kalinya sebelum Raka merasakan tubuhnya terlempar ke arah jendela kaca besar yang seolah menghilang, digantikan oleh jurang hitam yang menganga.
**Papa:** *Seseorang baru saja mengunggah bukti rekaman CCTV garasi malam itu ke internet, Raka. Status sosial yang sangat kamu banggakan itu... coba lihat, bagaimana ia hancur lebih cepat daripada bus kita.*
Raka meraung, bukan karena rasa takut akan kematian, tapi karena melihat sebuah tautan berita yang muncul di baris notifikasi teratas: *"Ka**s Kecelakaan Bus Keluarga Hartono Dibuka Kembali: Rekaman Sabotase Tersebar Luas."*
Dunia Raka runtuh tepat saat sebuah pesan terakhir muncul dari nomor adiknya yang paling kecil.
**Maya:** *Ada tamu di depan pintumu, Kak. Polisi... atau kami?*
Ketukan keras terdengar di pintu apartemennya. Bukan ketukan sopan seorang petugas, melainkan hantaman keras yang terdengar seperti tulang yang membentur kayu. Dan dari balik celah pintu yang gelap, mulai merembes ma**k cairan kental berwarna merah yang berbau karat.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!