Lampu meja di ruang kerja Raka berpijar redup, melemparkan bayangan panjang yang tampak seperti jemari kurus di dinding wallpaper beludru. Raka menatap layar ponselnya yang tergeletak di atas meja jati. Benda itu tampak tidak berbahaya, namun bagi Raka, itu adalah bom waktu yang siap meledakkan kewarasannya.
Sebuah getaran pendek terasa. Bukan dari getar mesin ponsel, melainkan getaran yang seolah merambat langsung ke sumsum tulang belakangnya.
*Ding.*
Satu notifikasi muncul di layar yang terkunci.
**Grup: Keluarga Besar (11)**
**Ayah: Hendra mulai mengendus terlalu dalam, Raka. Dia mencari tahu tentang polis a**ransi kakekmu yang tidak pernah cair itu. Dia ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kami di sini. Heningkan dia sebelum fajar.**
Raka merasakan dadanya menyempit. Paru-parunya seolah terisi pasir, sesak dan berat. Ia tahu apa yang akan terjadi jika ia mengabaikan pesan itu. Bayangan tentang rasa sakit saat kulitnya seolah dikuliti hidup-hidup oleh tangan-tangan tak terlihatβseperti hukuman di instruksi pertama kemarinβmembuat keringat dingin membasahi tengkuknya.
"Si****," bisik Raka. Suaranya serak, memantul di ruangan yang terlalu luas untuk satu orang.
Ia meraih ponselnya, jemarinya gemetar hebat. Ia mengetik balasan dengan cepat. *Aku tidak bisa melakukannya. Dia pengacara keluarga kita selama dua puluh tahun!*
Balasan muncul seketika, seolah pengirimnya sedang berdiri tepat di belakang bahunya.
**Ibu: Dia bukan keluarga, Raka. Dia hanya pencuri yang memakai dasi. Jika kau tidak melakukannya, Ibu yang akan menjemputmu malam ini. Kau ingin merasakan dinginnya tanah kuburan kami?**
Raka terengah. Di sudut matanya, ia melihat bayangan hitam melintas cepat di balik pintu kaca ruang kerjanya. Ketakutan itu nyata. Ketakutan akan kematian yang menyakitkan selalu menang melawan sisa-sisa moralitasnya yang tipis. Sebagai seorang sosiopat, ia tidak peduli pada nyawa Hendra. Masalahnya hanya satu: bagaimana membunuh seorang pengacara cerdas tanpa meninggalkan jejak yang bisa merusak reputasi sosialnya sebagai ahli waris tunggal yang malang?
Ketukan di pintu depan mengejutkannya. Raka melirik jam dinding. Pukul sepuluh malam. Ia tahu siapa itu. Hendra sudah mengirim pesan tadi sore bahwa dia akan mampir untuk mendiskusikan "beberapa ketidakkonsistenan" dalam laporan aset properti di Bali.
Raka menarik napas dalam-dalam, mengatur ekspresi wajahnya di depan cermin kecil di atas meja. Ia menekan otot-otot wajahnya hingga ketegangan itu hilang, menyisakan raut wajah seorang pemuda yang sedang berduka namun tegar. Senyum tipis yang tulus, mata yang sedikit sayuβsebuah topeng sempurna.
Ia melangkah menuju pintu depan, membukanya dengan gerakan tenang.
"Pak Hendra," sapa Raka, suaranya lembut dan penuh rasa hormat. "Maaf, saya hampir saja tertidur. Silakan ma**k."
Hendra, pria berusia enam puluh tahun dengan kacamata berbingkai perak dan tas kerja kulit yang tampak berat, ma**k dengan langkah tegas. Bau tembakau tua dan parfum maskulin murahan menyengat dari jasnya.
"Maaf mengganggu malam-malam begini, Raka," kata Hendra tanpa basa-basi. Mereka duduk di ruang tamu yang megah. "Tapi ada sesuatu yang sangat mengganjal. Saya menemukan beberapa tanda tangan mendiang ayahmu pada dokumen pengalihan aset di Singapura yang ditandatangani *dua hari setelah* kecelakaan bus itu terjadi. Bagaimana kau menjelaskan ini?"
Raka merasakan jantungnya berdegup kencang, namun wajahnya tetap tenang seperti permukaan danau di pagi hari. Ia menuangkan wiski ke dalam dua gelas kristal dengan tangan yang kini sangat stabil. Inilah kelebihannya; di bawah tekanan maut, sisi taktisnya justru mengambil alih.
"Mungkin ada kesalahan tanggal, Pak. Ayah memang sering ceroboh dengan administrasi," jawab Raka sant**, menyodorkan gelas itu kepada Hendra.
Hendra tidak menyentuh gelasnya. Ia menatap Raka tajam melalui lensa kacamatanya yang tebal. "Jangan anggap saya bodoh, Raka. Saya sudah mengabdi pada keluargamu sejak kau masih mengompol. Aku tahu kau manipulatif, tapi memalsukan tanda tangan orang mati untuk melikuidasi dana perwalian? Itu sudah ma**k ranah kriminal."
Raka terdiam sejenak. Ia menyesap wiskinya, merasakan cairan hangat itu membakar tenggorokannya. "Jadi, apa mau Anda, Pak Hendra?"
"Besok pagi, saya akan menyerahkan temuan ini ke pihak otoritas kecuali kau bisa membuktikan saya salah. Dan sejujurnya, Raka... aku mulai bertanya-tanya, apakah kecelakaan bus itu benar-benar murni kecelakaan?"
Ruangan itu mendadak terasa membeku. Udara di sekitar Raka menjadi sangat dingin, persis seperti sensasi saat ia menerima notifikasi dari grup WhatsApp itu. Raka tahu, Hendra telah menandatangani surat kematiannya sendiri. Bukan karena instruksi dari "Keluarga Besar", tapi karena pria tua ini sudah menjadi ancaman bagi kebebasan Raka.
"Pak Hendra, Anda terlalu lelah," kata Raka sambil berdiri. "Mari saya tunjukkan dokumen asli di ruang bawah tanah. Ayah menyimpan b**nkas pribadi di sana yang tidak diketahui publik."
Hendra tampak ragu, namun rasa ingin tahunya sebagai pengacara kawakan menang. Ia berdiri dan mengikuti Raka menuju pintu kecil di balik tangga yang menuju ke ruang penyimpanan bawah tanah.
Tangga kayu itu berderit setiap kali dipijak. Bau apek dan debu menyambut mereka. Raka berjalan di depan, tangannya diam-diam merogoh laci meja kecil di dekat pintu bawah tanah, mengambil sebuah pemecah es berbahan baja tahan karat yang runcing.
"Di sebelah mana, Raka? Tempat ini gelap sekali," keluh Hendra sambil meraba dinding.
"Hanya sedikit lebih ma**k, Pak. Di balik lemari arsip itu," sahut Raka tenang.
Saat Hendra melangkah melewati Raka untuk memeriksa sudut ruangan, Raka bergerak dengan presisi seorang predator. Ia tidak ragu. Ia tidak merasa kasihan. Yang ia rasakan hanyalah urgensi untuk bertahan hidup.
Dengan satu gerakan cepat, ia membekap mulut Hendra dari belakang dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menghujamkan pemecah es itu tepat ke dasar tengkorak, di titik di mana tulang leher bertemu dengan kepala. Hendra tersentak hebat, tubuhnya mengejang sejenak sebelum seluruh kekuatannya lenyap. Tidak ada teriakan. Hanya suara napas yang terputus dan bunyi gesekan sepatu di lant** beton.
Raka menahan tubuh pria tua itu agar tidak jatuh terlalu keras. Ia membiarkan jasad Hendra merosot perlahan. Nafas Raka memburu, bukan karena emosi, tapi karena aktivitas fisik yang mendadak. Ia menatap mayat di bawahnya dengan tatapan kosong.
Tiba-tiba, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Kali ini getarannya terasa seperti sengatan listrik yang menyakitkan, membuatnya terjatuh berlutut di samping mayat Hendra.
Raka mengerang kesakitan, tangannya meraba ponsel. Layarnya menyala terang di kegelapan ruang bawah tanah.
**Grup: Keluarga Besar (11)**
**Adik Kecil (Maya): Kak Raka hebat! Darahnya banyak ya, Kak? Tapi Ayah bilang, kau lupa sesuatu. Pak Hendra tidak datang sendirian ke rumah ini. Coba cek dashcam mobilnya yang terparkir di depan.**
Darah Raka serasa berhenti mengalir. Ia menoleh ke arah tangga yang gelap, lalu kembali menatap layar ponselnya. Di atas layar, muncul sebuah video singkat yang baru saja dikirimkan ke grup. Video itu diambil dari sudut pandang kamera dasbor mobil Hendra yang menangkap jelas sosok Raka saat menyambut sang pengacara di pintu depan, lengkap dengan jam digital di pojok layar.
Dan di dalam mobil itu, di kursi penumpang yang gelap, tampak sesosok bayangan manusia yang baru saja menyalakan lampu kabin. Seorang asisten.
Ponsel Raka berdenting lagi.
**Ayah: Selesaikan sisanya, Raka. Atau kami yang akan menyelesaikanmu malam ini juga.**
Raka menatap ke atas tangga, ke arah pintu yang terbuka sedikit, di mana ia sayup-sayup mendengar suara langkah kaki seseorang yang mulai mema**ki rumahnya, memanggil-manggil nama Hendra.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!