Bau kemenyan yang menusuk hidung biasanya akan membuat Raka mencibir. Baginya, segala hal mistis adalah pelarian bagi orang-orang yang gagal menggunakan logika. Namun, siang ini, saat ia memarkirkan sedan mewahnya di depan sebuah rumah kayu yang nyaris tenggelam oleh rimbunnya pohon beringin di pinggiran lereng gunung, logika Raka sudah lama menguap. Ia butuh jalan keluar, dan ia butuh itu sekarang juga sebelum "keluarganya" memutuskan untuk menyeretnya lebih dalam ke liang lahat.
Raka merapikan kerah kemeja mahalnya, memeriksa pantulan wajahnya di spion tengah. Matanya merah, kantong matanya menghitam akibat kurang tidur. Ia benci terlihat berantakan. Ia adalah pemenang, pewaris tunggal kekayaan yang seharusnya ia nikmati dengan tenang, bukan sebagai budak dari sebuah grup WhatsApp terkutuk.
"Silakan ma**k, Nak Raka. Aki sudah menunggu," suara seorang wanita tua yang wajahnya menyerupai keriput buah jeruk menyambutnya di ambang pintu.
Raka hanya mengangguk singkat, melangkah ma**k ke dalam ruangan yang remang-remang. Udara di dalam terasa berat dan dingin, seolah-olah oksigen telah dicuri oleh sesuatu yang tak terlihat. Di sudut ruangan, duduk seorang pria tua dengan rambut putih yang dibiarkan terurai panjang. Itulah Ki Argopuro, dukun yang konon bisa memutus segala jenis kutukan darah.
"Duduklah," suara Ki Argopuro terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu. Matanya yang katarak menatap lurus ke arah dada Raka, bukan ke wajahnya. "Kau membawa beban yang sangat berat. Bau tanah makam mengikuti setiap langkahmu."
Raka menelan ludah. Ia berusaha mempertahankan topeng ketenangannya. "Saya tidak butuh ceramah filosofis, Aki. Saya hanya ingin keluar dari grup ini. Saya akan bayar berapa pun. Dua ratus juta? Lima ratus? Katakan saja."
Ki Argopuro terkekeh, suara tawa yang kering dan tidak menyenangkan. "Uangmu tidak laku di dunia mereka, Nak. Tapi mari kita lihat, sekuat apa jeratan ini."
Raka mengeluarkan ponselnya. Layar benda digital itu tampak kontras di tengah ruangan yang dipenuhi barang-barang klenik. Jantungnya berdegup kencang saat ia membuka aplikasi WhatsApp. Nama grup 'Keluarga Besar' berada di posisi teratas, tanpa notifikasi baru, namun seolah-olah berdenyut dengan kehidupan yang jahat.
"Ini," ucap Raka dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia meletakkan ponsel itu di atas nampan kuningan di depan Ki Argopuro. "Mereka mengirim perintah. Jika saya tidak menurut, saya merasa seperti... dikubur hidup-hidup."
Ki Argopuro mengangguk perlahan. Ia mengambil ponsel itu dengan jari-jarinya yang bengkok. Begitu kulitnya menyentuh permukaan kaca ponsel, udara di ruangan itu mendadak turun drastis. Raka bisa melihat embusan napasnya sendiri.
Ponsel itu berdenting. Satu notifikasi baru.
*Ting!*
**Ibu:** *Raka, kenapa bawa orang asing ke urusan kita? Ibu tidak suka.*
Mata Ki Argopuro membelalak. Ia menatap layar itu dengan intensitas yang mengerikan. "Ini bukan sekadar ilmu hitam," gumamnya, suaranya kini bergetar. "Ini... ini adalah dendam yang terikat pada teknologi. Sebelas nyawa... mereka semua menuntutmu."
"Bisakah kau menghapusnya?" desak Raka, rasa paranoianya mulai memuncak. "Blokir mereka! Hancurkan ponselnya! Lakukan sesuatu!"
Ki Argopuro mulai merapal mantra dalam bahasa yang tidak Raka mengerti. Suasananya berubah mencekam. Foto-foto di dindingβgambar orang-orang mati yang pernah dibantu Ki Argopuroβmulai bergetar. Lilin-lilin di sudut ruangan padam secara serentak, menyisakan hanya cahaya redup dari layar ponsel Raka.
*Ting!*
**Ayah:** *Dia mau memutuskan komunikasi kita, Raka? Ayah kecewa. Anak durhaka perlu dididik.*
"A-Aki? Apa yang terjadi?" tanya Raka, ia mulai mundur perlahan, insting sosiopatnya memberitahu bahwa kapal ini akan segera tenggelam.
Ki Argopuro tidak menjawab. Tubuhnya tiba-tiba menegang. Ponsel di tangannya mulai mengeluarkan asap hitam yang berbau busukβbau daging terbakar bercampur tanah basah. Mata katarak sang dukun mendadak memerah, pembuluh darah di matanya pecah secara bersamaan hingga darah mengalir turun seperti air mata.
"Lepas... lepaskan..." Ki Argopuro megap-megap.
Tiba-tiba, suara tulang patah terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu. *Krek!* Leher Ki Argopuro berputar seratus delapan puluh derajat ke belakang dengan posisi tubuh yang masih terduduk tegak. Raka terlonjak, punggungnya menab**k dinding kayu.
Penderitaan dukun itu belum berakhir. Dari mulut Ki Argopuro yang terbuka lebar, bukan suara teriakan yang keluar, melainkan tanah hitam yang menggumpal. Tanah itu meluap keluar, seolah-olah perutnya adalah liang lahat yang tak berdasar. Ia tersedak, matanya melotot ke arah Raka sementara tubuhnya perlahan-lahan ditarik ke bawah, amblas ke dalam lant** tanah rumah itu seolah-olah lant** itu berubah menjadi rawa hisap.
Raka menyaksikan dengan ngeri bagaimana tangan Ki Argopuro yang keriput mencakar-cakar udara, mencoba menggapai apa saja, sebelum akhirnya seluruh tubuhnya tertelan habis ke dalam tanah. Yang tersisa hanyalah ponsel Raka yang tergeletak di atas gundukan tanah segar yang baru saja menutup.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu, lebih pekat dari sebelumnya. Raka berdiri terpaku, dadanya naik turun dengan liar. Ia baru saja melihat satu-satunya harapannya mati dengan cara yang paling mengerikan yang pernah ia saksikan.
Dengan tangan gemetar, Raka mendekati gundukan tanah itu dan memungut ponselnya. Layarnya masih menyala, bersih tanpa goresan sedikit pun, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Satu notifikasi baru muncul di layar.
**Adik Kecil (Lulu):** *Kak Raka jahat. Tadi itu mainan baru kita ya? Sekarang giliran Kakak yang main.*
Raka merasakan ponselnya bergetar lagi. Sebuah pangg***n ma**k dari 'Ibu'. Ia ingin melempar ponsel itu sejauh mungkin, namun tangannya seolah terpaku, tidak bisa melepas benda itu. Di layar, lokasi GPS-nya mendadak aktif sendiri, menunjukkan sebuah titik merah yang bergerak cepat menuju posisinya saat ini.
Bukan dari jalan raya, tapi dari bawah tanah, tepat di bawah kakinya.
Raka menunduk. Lant** tanah di bawah kakinya mulai retak. Sesuatu yang dingin dan keras baru saja mencengkeram pergelangan kakinya dari dalam bumi.
"Tidak... tidak sekarang," bisik Raka, suaranya pecah oleh ketakutan yang murni. Ia menyadari satu hal: mereka tidak hanya ingin dia patuh. Mereka ingin dia bergabung.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!