Layar monitor di hadapanku menampilkan barisan angka yang seolah berbaris menuntut keadilan. Sebagai seorang akuntan, presisi adalah napas bagiku. Satu digit yang meleset berarti bencana bagi neraca perusahaan, dan aku tidak pernah membiarkan satu sen pun terlepas dari pengawasanku. Jari-jariku menari di atas keyboard mekanik, menghasilkan bunyi *tik-tik-tik* yang ritmis, sebuah simfoni keteraturan yang menjadi pelindung diriku dari hiruk-pikuk dunia luar.
Namun, ketenangan itu robek saat sebuah undangan pernikahan berwarna marun dengan aksen emas diletakkan dengan kasar di atas meja kerjaku.
"Jangan lupa datang ya, Sar. Kali ini jangan ada alasan lembur lagi," ucap Mira, rekan kerjaku dari bagian pemasaran, sambil menyandarkan pinggulnya di tepi mejaku. Senyumnya tampak manis, tapi tatapannya penuh dengan kilat rasa kasihan yang sangat kukenali. "Siapa tahu di sana ketemu jodoh. Kasihan kan, umur sudah kepala tiga tapi teman kencannya cuma kalkulator."
Aku tidak mengangkat wajah dari layar. "Terima kasih, Mir. Akan kuusahakan."
"Aduh, Sari sayang. Jangan 'diusahakan' saja," sahut Rani, rekan Mira yang lain, yang kini ikut bergabung. Ia merendahkan suaranya, seolah sedang membisikkan rahasia negara yang krusial. "Kamu itu cantik, mapan pula. Tapi kalau terlalu kaku begini, laki-laki juga takut. Jangan sampai label 'perawan tua' itu benar-benar jadi permanen di dahi kamu."
Goresan pena di atas kertas yang sedang kutandatangani sedikit melenceng. Aku menarik napas panjang, membiarkan oksigen mendinginkan rongga dadaku yang mulai memanas. Aku mendongak, memasang senyum paling sopan yang bisa kuberikan—senyum topeng yang sudah kulatih bertahun-tahun.
"Terima kasih atas perhatiannya, Rani. Aku hanya sedang fokus pada audit kuartal ini," jawabku datar.
Mereka berdua bertukar pandang, mengedikkan bahu dengan ekspresi yang seolah mengatakan *'sudah dibilangi, malah keras kepala'*, lalu melenggang pergi sambil tertawa kecil. Aku bisa mendengar bisik-bisik mereka tentang betapa menyedihkannya hidup seorang perempuan yang menghabiskan malam Minggunya dengan merapikan laporan laba rugi.
Aku kembali menatap layar, tapi angka-angka itu kini tampak kabur. Kata-kata mereka bukan sekadar angin lalu; mereka adalah paku-paku kecil yang terus memukul harga diriku hingga retak. Kesepian itu nyata, mengendap di dasar hati seperti ampas kopi yang pahit. Namun, apa yang mereka tidak tahu adalah bahwa aku memiliki dunia sendiri yang tidak bisa mereka jangkau dengan penghakiman dangkal mereka.
***
Pukul tujuh malam, aku melangkah ma**k ke area indekos di kawasan yang agak tersembunyi namun elegan. Bangunan ini tua tapi terawat, didominasi oleh elemen kayu jati yang memberikan kesan hangat sekaligus angker. Di selasar, aku berpapasan dengan Adrian, sang pemilik kos. Ia sedang menyiram tanaman hiasnya.
Laki-laki itu mengenakan kemeja linen hitam dengan lengan digulung hingga siku, menonjolkan otot lengannya yang kencang. Ia hanya mengangguk singkat padaku—dingin seperti biasa. Adrian adalah misteri bagi penghuni di sini; ia karismatik, punya aura otoritas yang kuat, tapi matanya selalu tampak menjaga jarak, seolah ada dinding kaca tebal yang memisahkannya dari dunia.
"Malam, Pak Adrian," sapaku pelan.
"Malam, Sari," jawabnya singkat tanpa menoleh. Suaranya berat dan rendah, mengirimkan getaran aneh yang tak sengaja membuat bulu kudukku berdiri.
Aku segera ma**k ke kamarku dan mengunci pintu. Klik. Keamanan.
Di dalam ruangan berukuran empat kali lima meter ini, Sari 'Si Akuntan Kaku' perlahan luruh. Aku melepas blazer hitamku, membiarkannya jatuh di kursi. Aku melepas ikatan rambutku yang ketat, membiarkan rambut hitamku terurai bebas. Di sini, di balik dinding kayu yang konon bisa meredam suara namun sebenarnya begitu sensitif terhadap getaran, aku tidak perlu menjadi sempurna untuk siapa pun.
Aku melangkah menuju sebuah kotak kecil berbahan beludru yang kusimpan di laci paling bawah lemari pakaianku. Di dalamnya terdapat perangkat teknologi mutakhir yang kupesan khusus dari luar negeri—sebuah *haptic feedback device* yang terintegrasi dengan antarmuka AI. Alat itu berbentuk ramping, elegan, dengan tekstur silikon medis yang halus dan aksen logam dingin.
Bagi dunia luar, ini mungkin dianggap memalukan. Namun bagiku, ini adalah pelarian yang jujur. Alat ini tidak menghakimiku. Ia tidak bertanya kapan aku akan menikah. Ia tidak membandingkanku dengan perempuan lain yang sudah memiliki anak.
Aku mengenakan *earphone* peredam kebisingan dan mengaktifkan perangkat tersebut. Cahaya biru lembut berpendar dari permukaannya. Aku berbaring di tempat tidur, memejamkan mata, dan mulai ma**k ke dalam simulasi sensorik yang kurancang sendiri.
Suara bisikan pria yang maskulin namun lembut—hasil olah digital yang sempurna—mulai mengisi telingaku. Perangkat di genggamanku mulai bergetar halus, mengirimkan gelombang resonansi yang merambat dari telapak tangan ke seluruh sistem sarafku. Getaran itu tidak hanya fisik; itu adalah getaran emosional yang mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh interaksi sosial yang gersang di kantor tadi.
Aku membiarkan imajinasiku liar. Di dalam ruang gelap di balik kelopak mataku, aku tidak lagi sendirian. Ada tangan-tangan imajiner yang membelai pundakku, ada kehangatan yang menyelimuti kulitku. Resonansi itu semakin kuat, selaras dengan detak jantungku yang mulai berpacu. Di sini, aku adalah penguasa atas sensulitasku sendiri.
Namun, di tengah puncak keheningan yang intens itu, sebuah suara aneh terdengar dari balik dinding. Bukan suara dari earphone-ku, melainkan suara dari dunia nyata.
*Krak.*
Bau hangit menyengat hidungku. Tiba-tiba, lampu di kamarku berkedip liar. Getaran dari perangkat di tanganku yang biasanya ritmis dan tenang, mendadak berubah menjadi guncangan hebat yang tak terkendali. Alat itu seolah mengamuk, menyerap arus listrik yang tidak stabil dari stopkontak di dekat tempat tidurku.
Aku terkesiap, mencoba melepaskan alat itu, tapi sensasi listrik statis yang kecil menyengat ujung jariku. Dinding kayu di belakang tempat tidurku—dinding yang memisahkan kamarku dengan area pribadi Adrian—mulai bergetar hebat. Resonansi dari alat itu merambat ma**k ke dalam serat-serat kayu tua, menciptakan suara dengungan yang m****akkan telinga.
"Sial!" umpatku panik.
Aku berusaha menarik kabel pengisinya, namun terlambat. Sebuah percikan api muncul dari balik stopkontak, disusul suara ledakan kecil yang membuat seluruh aliran listrik di kamarku—mungkin di seluruh lant** ini—padam total.
Dalam kegelapan yang mendadak itu, aku membeku. Nafasku memburu. Di tanganku, perangkat itu masih terasa panas. Keheningan yang menyusul terasa jauh lebih menakutkan daripada suara ledakan tadi.
Lalu, terdengar ketukan keras di pintuku.
"Sari? Kamu di dalam?" Suara Adrian. Berat, penuh selidik, dan terdengar tepat di depan pintuku. "Ada apa dengan getaran di dinding saya tadi? Dan kenapa bau hangit ini berasal dari kamarmu?"
Jantungku rasanya mau copot. Aku menoleh ke arah alat di genggamanku, lalu ke arah pintu. Dinding kayu yang tipis itu kini bukan lagi pelindung, melainkan pengkhianat yang baru saja membocorkan rahasia terdalamku.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!