Aroma kapur barus dan melati sintetis menyambutku begitu melangkah melewati pintu jati rumah orang tuaku. Suasana rumah ini selalu samaβpengap oleh ekspektasi dan tumpukan kenangan yang tidak pernah dibiarkan pergi. Di ruang tamu, tawa riuh para bibi dan sepupu terdengar seperti sekumpulan lebah yang berdengung, siap menyengat siapa pun yang terlihat lemah.
Aku merapikan kemeja linenku yang terasa mendadak terlalu ketat, seolah udara di rumah ini menyusutkan ruang gerakku. Setiap langkah menuju kerumunan itu terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca.
"Sari! Akhirnya datang juga," suara Ibu melengking, memotong percakapan tentang cucu ketiga salah satu bibiku.
Aku tersenyum tipis, sebuah topeng yang sudah kulatih bertahun-tahun sebagai akuntan yang terbiasa menyembunyikan angka-angka merah. Aku menyalami mereka satu per satu. Tangan-tangan mereka yang dingin atau terlalu lembap menggenggam jemariku, mata mereka memindai penampilanku dari ujung rambut hingga ujung sepatu, mencari celah untuk dikomentari.
"Kamu pucat sekali, Sar. Kurang tidur karena lembur terus?" Tante Lastri, adik bungsu Ibu yang selalu merasa paling tahu segalanya, menepuk pipiku. "Ingat umur, jangan cuma cari uang. Nanti kecantikanmu habis, laki-laki makin malas melirik."
Aku hanya mengangguk, menelan kalimat pedas yang sudah sampai di ujung lidah. Pikiranku tiba-tiba melayang ke dinding kayu di kamar kosku. Ke getaran yang ditimbulkan oleh perangkat teknologi yang kini tersimpan rapat di laci terkunci, dan ke tatapan dingin Adrian yang seolah bisa menelanjangi semua rahasiaku. Di sana, aku punya kontrol. Di sini, aku hanyalah objek yang sedang disidang.
Makan siang disajikan di meja panjang. Ibu tampak sibuk mondar-mandir, wajahnya kaku. Aku tahu tanda itu. Ada badai yang sedang ia tahan. Sejak aku menginjak usia tiga puluh bulan lalu, setiap pertemuan keluarga adalah medan perang bagi Ibu. Baginya, status lajangku adalah noda di taplak meja putih bersih yang selalu ia banggakan kepada tetangga.
"Ini, dimakan rendangnya. Ibu buat khusus," kata Ibu, meletakkan piring di depanku dengan denting porselen yang tajam.
"Terima kasih, Bu."
"Tadi Bu Broto tanya soal kamu lagi," lanjut Ibu tanpa jeda, suaranya c**up keras hingga membuat percakapan di meja makan mereda. "Anaknya yang duda itu, yang baru pulang dari Australia. Dia tanya, apa Sari masih menutup diri?"
Aku meletakkan sendok. Nafsu makanku menguap seketika. "Bu, kan Sari sudah bilang, Sari belum tertarik. Lagipula, Sari sibuk di kantor."
Ibu tertawa, tapi suaranya kering, tanpa nada humor sedikit pun. Ia berdiri di ujung meja, menghadap ke arah tamu-tamunya seolah sedang memberikan pidato pembukaan pameran kegagalanku.
"Sibuk katanya. Lihat ini, Saudara-saudara," Ibu merentangkan tangan ke arahku. "Anakku yang satu ini memang hebat. Mandiri, punya tabungan banyak, tapi otaknya beku kalau soal laki-laki. Kalian tahu apa pangg***nnya di lingkungan sini sekarang? 'Si Perawan Tua yang Karatan'."
Darah serasa berhenti mengalir ke ujung jari-jariku. Wajahku memanas, bukan karena pedasnya cabai, melainkan karena rasa malu yang membakar hingga ke sumsum tulang. Beberapa sepupuku menunduk, pura-pura asyik dengan makanan mereka, sementara Tante Lastri hanya mendecak prihatin.
"Ibu, jangan mulai lagi di depan orang-orang," bisikku, tanganku gemetar di bawah meja.
"Kenapa? Kamu malu? Ibu yang lebih malu, Sari!" Suara Ibu meninggi, kini matanya berkaca-kaca karena amarah yang bercampur frustrasi. "Tiap kali ada hajatan, Ibu harus putar otak cari alasan kenapa kamu masih sendiri. Orang-orang pikir Ibu tidak becus mendidikmu jadi wanita seutuhnya. Kamu itu sudah tiga puluh! Mau sampai kapan jadi barang pajangan yang tidak laku? Apa kamu mau mati kesepian di kamar kos sempitmu itu?"
Kata-kata itu menghantamku lebih keras daripada getaran korsleting listrik yang merusak dinding kosku tempo hari. Di depan semua orang, Ibu baru saja menguliti harga diriku, menjadikannya bahan tontonan yang murah.
Aku melihat ke sekeliling meja. Wajah-wajah yang menatapku penuh belas kasihan yang menjijikkan. Aku teringat tantangan Adrianβtentang memilih antara kenyamanan teknologi yang aman atau risiko luka dari hubungan manusia yang nyata. Saat ini, hubungan manusia terasa seperti racun yang menghancurkan.
Aku berdiri perlahan, kursi kayu di bawahku berdecit nyaring di ruang makan yang mendadak sunyi senyap.
"Kalau menurut Ibu menjadi 'wanita seutuhnya' berarti harus mengemis validasi dari laki-laki hanya agar Ibu tidak malu di depan tetangga, maka Sari lebih baik tetap jadi perawan tua yang karatan," kataku, suaraku rendah namun stabil, meski di dalam hati aku sedang hancur berkeping-keping.
Ibu ternganga, tangannya gemetar menunjuk ke arahku. "Kamu... kamu berani bicara begitu pada Ibu? Kamu itu tidak tahu apa-apa tentang cinta! Kamu cuma tahu angka dan komputer!"
"Mungkin benar," balasku sambil menyambar tas tanganku. "Tapi setidaknya angka tidak pernah berbohong untuk menyakiti orang lain."
Aku berbalik dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Aku bisa mendengar Ibu memanggil namaku dengan suara histeris, disusul bisik-bisik riuh para kerabat yang baru saja mendapatkan drama penutup makan siang yang sempurna.
Begitu sampai di luar, udara panas Jakarta menyergapku. Aku ma**k ke dalam mobil, mengunci pintu, dan akhirnya membiarkan air mata yang kutahan jatuh membasahi kemudi. Ponselku bergetar di dalam tas. Sebuah pesan ma**k.
Dari Adrian.
*βEksperimennya baru saja dimulai, Sari. Aku sudah memperbaiki dindingmu, tapi aku tidak bisa menjamin dinding di dalam kepalamu tetap utuh setelah hari ini. Pulanglah.β*
Aku tertegun, menatap layar ponsel dengan napas memburu. Bagaimana dia bisa tahu? Dan yang lebih menakutkan lagi, mengapa di saat seluruh keluargaku membuatku merasa seperti sampah, hanya pesan singkat dari laki-laki dingin itu yang membuatku merasa... diinginkan?
Aku menginjak gas, memacu mobil menjauh dari rumah masa kecilku, menuju satu-satunya tempat di mana rahasiaku diterima, meski dengan cara yang paling berbahaya.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!