Aspal jalanan yang masih basah oleh sisa hujan sore tadi memantulkan cahaya lampu merkuri yang berpendar kuning pucat, tapi aku tidak peduli pada estetikanya. Kakiku yang terbalut sepatu hak tinggi lima sentimeter terasa seperti dihujam paku setiap kali menghantam trotoar. Aku berlari bukan karena dikejar penjahat, melainkan karena suara-suara di pesta pernikahan sepupuku tadi mulai merayap ma**k ke bawah kulitku, membisikkan kata 'kadaluwarsa' dan 'kasihan' berulang-ulang seperti mantra kutukan.
Napas membakar tenggorokanku saat aku akhirnya sampai di depan gerbang kos. Aku tidak berhenti sampai aku berada di balik pintu kamarku yang masih menyisakan bekas retakan di dinding kayunyaβsisa dari insiden korsleting yang menghancurkan duniaku beberapa minggu lalu. Aku menyandarkan punggung pada daun pintu, memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengusir bayangan wajah ibuku yang penuh permohonan agar aku 'mencoba sekali lagi' dengan anak teman arisannya.
"Kamu terlihat seperti baru saja melarikan diri dari sebuah perampokan bank."
Suara berat dan datar itu membuatku tersentak. Aku membuka mata dan menemukan Adrian berdiri di ambang pintu kamarnya yang terbuka lebar, tepat di seberang lorong sempit ini. Ia menyandarkan bahu di kusen pintu, melipat tangan di dada. Kemeja hitamnya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat menonjol di lengannya.
Aku menelan ludah, mencoba mengatur napas yang masih tersengal. "Hampir sama. Aku baru saja melarikan diri dari penghakiman massal."
Adrian tidak tertawa. Ia hanya memperhatikanku dengan tatapan intens yang selalu membuatku merasa te*******, seolah ia bisa melihat melampaui riasan tipis dan blus satin yang kukenakan. Ia melangkah mendekat, memangkas jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma kayu cendana dan tembakau tipis yang selalu melekat padanya.
"Ma**klah," katanya pelan, bukan sebuah tawaran, melainkan perintah lembut. "Kamu gemetar, Sari."
Aku ingin menolak. Aku ingin mengunci diri di kamarku dan mencari kenyamanan dari perangkat pulsasi haptik yang biasanya menemaniku. Namun, saat menatap jari-jariku yang memang bergetar hebat, aku menyadari bahwa getaran itu tidak bisa diredam oleh mesin manapun malam ini. Aku butuh sesuatu yang memiliki detak jantung.
Aku mengikutinya ma**k ke dalam ruangannya yang tertata minimalis namun terasa maskulin. Adrian duduk di tepi tempat tidur, sementara aku berdiri kaku di tengah ruangan, merasa seperti penyusup.
"Duduk, Sari. Eksperimen kita tidak akan berjalan kalau kamu terus berdiri di sana seperti patung yang ketakutan," ucapnya, nadanya kini melunak, ada sedikit provokasi di sana.
Aku duduk di sampingnya, menjaga jarak sekitar sepuluh sentimeter. Keheningan di antara kami terasa berat, penuh dengan tegangan listrik yang jauh lebih berbahaya daripada korsleting kabel tempo hari.
"Apa yang mereka katakan padamu malam ini?" Adrian memecah kesunyian tanpa menoleh padaku.
"Hanya hal-hal biasa," jawabku getir. "Tentang jam biologis, tentang kesepian di masa tua, tentang bagaimana seorang wanita tidak lengkap tanpa... kau tahu."
"Dan kamu memercayainya?"
"Aku membencinya karena aku tidak punya argumen untuk membantahnya," bisikku, merasakan mataku mulai panas.
Adrian bergerak. Aku merasakan tangannya yang besar dan hangat mendarat di atas jemariku yang saling bertaut di pangkuan. Sentuhan itu nyata. Bukan simulasi frekuensi tinggi yang biasa kusetel di perangkatku, melainkan tekanan kulit yang memiliki tekstur, suhu, dan sedikit kekasaran yang jujur.
"Itu karena kamu selalu mencari validasi dari orang-orang yang bahkan tidak mengerti arti keintiman," kata Adrian. Suaranya kini berada tepat di samping telingaku. "Mereka hanya menjual label. Pernikahan, status, norma. Tapi di sini, di ruang ini, tidak ada label."
Aku menoleh, dan jarak di antara kami sudah tidak ada lagi. Aku bisa melihat pantulan diriku yang rapuh di bola mata gelapnya. Adrian mengangkat tangannya, jemarinya membelai garis rahangku dengan kelembutan yang kontradiktif dengan wajah dinginnya.
"Kamu ingin tahu apa yang nyata, Sari?" tanyanya, suaranya kini serak. "Ini nyata."
Saat bibirnya menyentuh bibirku, duniaku seolah meledak dalam spektrum warna yang tidak pernah bisa dihasilkan oleh layar LED manapun. Ini bukan sekadar kontak fisik; ini adalah benturan antara dua jiwa yang sama-sama rusak dan berusaha saling menambal. Ciumannya tidak terburu-buru, melainkan menuntutβmenuntut aku untuk melepaskan segala benteng pertahanan yang kubangun selama tiga puluh tahun ini.
Tanganku yang tadinya kaku perlahan naik, meremas bahunya, mencari pegangan saat seluruh sendiku terasa seperti mencair. Aroma tubuhnya memabukkanku, menghapus memori tentang suara-suara miring di pesta tadi. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sedang melakukan 'perbuatan a**sila' seperti yang sering didengungkan lingkungan sosialku. Aku hanya merasa... hidup.
Adrian menarik diri sejenak, napasnya memburu, dahinya bersandar di dahiku. Matanya yang biasanya sedingin es kini membara dengan intensitas yang menakutkan. "Ini bukan lagi sekadar eksperimen untuk membuktikan teoriku, kan?" bisiknya.
Aku tidak bisa menjawab. Lidahku kelu. Keintiman ini terlalu manusiawi, terlalu mentah, dan terlalu berisiko. Saat tangannya mulai menelusuri lekuk pinggangku, menarikku lebih rapat hingga tidak ada lagi udara yang bisa lewat di antara tubuh kami, aku menyadari satu hal yang mengerikan.
Aku tidak lagi takut pada kesepian. Aku mulai takut pada pria yang ada di hadapanku ini. Karena jika teknologi bisa rusak dan diperbaiki, bagaimana dengan hati yang terlanjur diserahkan pada seseorang yang menganggap hubungan hanyalah sebuah eksperimen?
Sentuhan Adrian semakin dalam, dan saat ia mengecup ceruk leherku, sebuah getaran hebat menjalar dari tulang belakangkuβgetaran yang jauh lebih dahsyat daripada resonansi di balik dinding kayu kamarku. Aku tahu, setelah malam ini, tidak akan ada jalan kembali ke zona nyamanku yang aman.
Namun, di tengah gelombang gairah yang mulai menguasai akal sehatku, satu pertanyaan menyelinap ma**k: Apakah aku sedang diselamatkan, atau justru sedang menghancurkan diriku sendiri dengan cara yang paling indah?
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!