Aroma kopi yang menguap dari cangkir porselen di genggamanku seharusnya menenangkan, tetapi pagi ini, bau itu terasa mencekik. Aku berdiri di balik konter dapur, menatap punggung Sari yang masih terbungkus selimut tipis di atas sofa ruang tengahku. Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah gorden, menyapu helai rambutnya yang berantakan dengan warna keemasan.
Pemandangan itu indah. Dan itulah masalahnya. Keindahan itu terasa seperti ancaman.
Jantungku berdegup dengan ritme yang tidak beraturan, sebuah pengingat fisik bahwa semalam aku telah membiarkan tembok yang kubangun selama bertahun-tahun runtuh. Sentuhan itu, bisikan itu, dan bagaimana ia menatapku seolah aku adalah pelabuhan terakhirnya—semuanya terasa terlalu nyata. Terlalu berisiko. Keintiman adalah sebuah variabel yang tidak bisa kukendalikan, dan aku membenci apa pun yang tidak bisa kukendalikan.
Aku mendengar gesekan kain. Sari terbangun. Ia menggeliat pelan, lalu menoleh ke arahku. Senyum tipis yang sarat dengan kerentanan sekaligus harapan merekah di wajahnya. Mata kecokelatannya yang biasanya waspada kini tampak lunak, hampir bersinar.
"Pagi," suaranya serak, khas orang yang baru bangun tidur, dan itu mengirimkan gelombang listrik yang tidak diinginkan ke tulang belakangku.
Aku tidak membalas senyumnya. Aku menyesap kopi hitamku yang pahit, membiarkan cairannya membakar lidahku. Aku sengaja memasang ekspresi datar yang biasa kugunakan saat menghadapi klien-klien korporat yang sulit.
"Kopinya sudah siap. Ada di meja," kataku, nada suaraku sedingin es di kutub. Aku bahkan tidak menatap matanya; aku justru sibuk merapikan tumpukan berkas yang sebenarnya sudah rapi di atas meja makan.
Sari terdiam. Aku bisa merasakan perubahan atmosfer di ruangan itu. Kehangatan yang menyelimuti kami semalam mendadak menguap, digantikan oleh kecanggungan yang tajam. Ia duduk tegak, menarik selimutnya lebih rapat ke dada seolah baru saja menyadari bahwa ia te******* di balik kain itu—secara harfiah maupun kiasan.
"Adrian?" panggilnya lembut, penuh tanya.
Aku meletakkan cangkirku dengan denting yang sengaja kubuat sedikit keras. "Setelah dipikirkan lagi, fase eksperimen semalam memberikan data yang menarik. Namun, kita harus ingat batasan-batasannya, Sari. Emosi yang meluap-luap hanya akan mengaburkan objektivitas dari apa yang ingin kita capai di sini."
Sari mengerutkan kening. Ia bangkit berdiri, masih membalut tubuhnya dengan selimut, dan melangkah mendekat. "Data? Objektivitas? Apa yang kamu bicarakan?"
Aku memaksakan diri untuk menatapnya, menggunakan tatapan analitis yang paling tajam. "Keintiman fisik sering kali memicu pelepasan oksitosin yang berlebihan. Itu bisa menciptakan ilusi koneksi yang lebih dalam dari yang sebenarnya ada. Aku ingin memastikan kita tetap pada jalur. Kamu adalah subjek yang ingin mengeksplorasi realitas, dan aku adalah fasilitatornya. Jangan sampai kita mengacaukan terminologinya."
Wajah Sari memucat. Cahaya di matanya padam, digantikan oleh kilat kemarahan yang tertahan dan rasa malu yang mendalam. Ia berhenti beberapa langkah dariku, seolah ada dinding kaca tak kasat mata yang tiba-tiba muncul di antara kami.
"Fasilitator?" suaranya bergetar. "Jadi, semalam itu hanya... bagian dari pengumpulan datamu? Kamu sedang mengukur kadar hormonku saat kamu menyentuhku?"
Aku mengepalkan tangan di bawah meja agar ia tidak melihat jemariku yang gemetar. "Itu adalah cara paling aman untuk melihatnya, bukan? Tanpa label, tanpa ekspektasi sosial yang menyesakkan. Itulah yang kita sepakati sejak awal. Eksperimen emosional tanpa ikatan."
"Aku manusia, Adrian! Bukan simulasi di dalam kamar kosku!" teriaknya pelan, namun suaranya sarat dengan luka. "Kamu bicara soal keintiman manusiawi yang nyata, tapi sekarang kamu mundur ke balik istilah-istilah ilmiahmu karena kamu ketakutan."
"Aku tidak takut," tangkisku cepat, terlalu cepat. "Aku hanya bersikap realistis. Hubungan manusia adalah kekacauan. Aku menawarkanmu struktur. Jika kamu tidak bisa membedakan antara eksplorasi sensorik dan keterikatan emosional, mungkin kita harus meninjau ulang kelanjutan eksperimen ini."
Sari tertawa sumbang, sebuah tawa kering yang membuat dadaku terasa sesak. Ia menatapku seolah melihat orang asing. "Tentu saja. Kamu akan mengancam untuk menghentikannya begitu situasinya menjadi 'terlalu nyata' bagimu. Kamu bukan sedang menantangku untuk merasakan keintiman, Adrian. Kamu sedang menggunakan aku untuk membuktikan pada dirimu sendiri bahwa kamu masih bisa memegang kendali, bahkan saat seseorang berada sangat dekat denganmu."
Ia berbalik, berjalan menuju kamar mandi dengan langkah yang dipaksakan tegak, meskipun bahunya sedikit bergetar. Sebelum menutup pintu, ia menoleh sedikit. "Selamat, Adrian. Datamu pagi ini sangat akurat. Aku merasa persis seperti yang sering dituduhkan lingkungan padaku. Sebuah objek yang tidak berguna, kecuali untuk diobservasi."
Pintu tertutup dengan suara debuman halus yang bergema di dalam kepalaku.
Aku berdiri terpaku di dapur, sendirian dengan kopi yang kini sudah mendingin. Aku telah berhasil. Aku telah menarik diri. Aku telah menegakkan kembali batas-batas itu. Namun, mengapa rasanya jantungku seperti sedang diremas oleh tangan yang tak terlihat?
Aku mengambil ponselku, mencoba menyibukkan diri dengan email pekerjaan yang tak kunjung habis, tetapi kata-kata Sari terus terngiang. *Kamu ketakutan.*
Ya, aku ketakutan setengah mati. Karena semalam, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa hidup. Dan hidup berarti memiliki sesuatu yang bisa hilang.
Aku berjalan menuju dinding kayu yang membatasi ruanganku dengan kamarnya—dinding yang pernah bergetar hebat dan memulai semua keg***an ini. Aku menyentuh permukaannya yang kasar, teringat bagaimana Sari sering mengetuknya dari sisi sebelah. Pagi ini, tidak ada ketukan. Hanya kesunyian yang mencekam, dan rasa dingin yang mulai merayap dari ujung jari kaki hingga ke ulu hati.
Saat Sari keluar dari kamar mandi beberapa menit kemudian, ia sudah berpakaian lengkap—pakaian kantornya yang rapi dan kaku, 'perisai' miliknya. Ia tidak menoleh padaku saat berjalan menuju pintu keluar.
"Sari," panggilku, suaraku sedikit lebih rendah dari yang kuinginkan.
Ia berhenti, tangannya sudah berada di gagang pintu. Ia tidak berbalik. "Aku akan membayar sewa kos bulan ini tepat waktu, Pak Adrian. Dan untuk eksperimenmu... silakan tulis laporannya. Aku sedang tidak ingin menjadi subjek hari ini."
Pintu tertutup, dan bunyi klik kunci yang ma**k ke tempatnya terdengar seperti vonis mati bagi sesuatu yang baru saja mulai bernapas di antara kami. Aku tahu aku baru saja melakukan kesalahan besar, namun bagian dari diriku yang pengecut justru merasa lega karena sekali lagi, aku aman di balik dindingku yang sunyi.
Namun, rasa aman itu terasa sangat mirip dengan penjara. Dan di dalam penjara ini, aku mulai menyadari bahwa getaran yang kurasakan bukan berasal dari dinding kayu itu, melainkan dari retakan yang mulai menjalar di dalam fondasi jiwaku sendiri. Jika Sari benar-benar pergi dari eksperimen ini, aku tidak yakin apakah dinding ini akan tetap berdiri—atau justru akan runtuh dan menimbun daku dalam kehampaan yang selama ini kusebut sebagai ketenangan.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!