Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden linen berwarna krem di apartemen barunya. Sari menyesap kopi hitamnya, merasakan uap hangat menyentuh wajahnya yang polos tanpa riasan. Tidak ada lagi dinding kayu yang tipis dan lapuk. Di sini, di lant** tujuh sebuah bangunan beton modern, dindingnya kokoh dan kedap suara. Namun, ironisnya, Sari justru merasa lebih "terdengar" oleh dirinya sendiri daripada sebelumnya.
Ia berjalan menuju cermin besar di sudut kamar. Dulu, ia akan memandang pantulan dirinya dengan daftar panjang celaan: kerutan halus di sudut mata, pinggul yang dianggap terlalu lebar, dan label 'perawan tua' yang seolah terstempel di dahi. Kini, ia menyentuh permukaan kulit lengannya dengan ujung jari, menelusuri tekstur pori-porinya dengan penuh penerimaan. Keintiman yang ia pelajari selama berbulan-bulan melalui perangkat-perangkat dingin itu rupanya hanyalah jembatan. Sekarang, ia tidak lagi membutuhkan getaran mekanis untuk merasa hidup. Ia merasa hidup hanya dengan tarikan napasnya sendiri.
Ketukan di pintu memecah keheningan yang nyaman itu. Sari tidak terburu-buru. Ia merapikan piyamanya yang berbahan satinβsebuah hadiah untuk dirinya sendiriβlalu membuka pintu.
Adrian berdiri di sana.
Pria itu tampak berbeda. Jas yang biasanya licin tanpa cela kini terlihat sedikit kusut di bagian bahu. Sorot matanya yang biasanya sedingin es dan penuh perhitungan, hari ini tampak keruh, seperti air telaga yang baru saja dilempari batu besar.
"Sari," sapanya. Suaranya rendah, sedikit serak.
"Adrian. Aku tidak menyangka kamu akan datang ke sini. Ada barang yang tertinggal di kos?" Sari mempersilakannya ma**k dengan gestur yang tenang. Tidak ada lagi kegugupan yang biasanya membuat jemarinya gemetar.
Adrian melangkah ma**k, namun ia tidak duduk. Ia berdiri di tengah ruangan, memindai sekeliling seolah sedang memeriksa laboratorium yang telah ditinggalkan subjek penelitiannya. "Tempat ini... jauh lebih baik dari kamar lama itu," gumamnya.
"Ya. Dindingnya tidak bergetar," sahut Sari dengan nada jenaka yang ringan, merujuk pada insiden yang memulai segalanya.
Adrian berbalik, menatap Sari lekat-lekat. "Eksperimen kita, Sari. Aku sudah meninjau semua interaksi kita selama beberapa bulan terakhir. Tentang bagaimana kamu merespons sentuhan, bagaimana kamu belajar melepaskan ketergantungan pada teknologi, dan bagaimana kamu mulai membangun batasan emosional."
Sari menyandarkan tubuh di meja konter dapur. "Dan? Apa kesimpulan sang ilmuwan?"
Adrian terdiam c**up lama. Ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil yang selalu ia bawa. Namun, alih-alih membacanya, ia justru meremas buku itu. "Kesimpulannya adalah, eksperimen ini gagal total."
Sari mengernyitkan dahi. "Gagal? Aku merasa jauh lebih baik sekarang, Adrian. Aku tidak lagi merasa rendah diri. Aku tidak lagi takut pada kesepian. Bukankah itu tujuanmu? Membuktikan bahwa keintiman manusiawi bisa dipelajari tanpa harus ada keterikatan?"
"Itu masalahnya," Adrian melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Sari bisa mencium aroma kayu cendana yang biasa terpancar dari tubuh pria itu. "Aku menetapkan parameter agar kamu yang berubah. Aku memposisikan diriku sebagai pengamat yang objektif. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa mengendalikan keintiman tanpa membiarkannya menyentuh hatiku sendiri."
Jari-jari Adrian terangkat, ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya menyentuh helai rambut Sari yang jatuh di bahu. Sentuhan itu tidak klinis. Itu gemetar.
"Tapi saat kamu pergi dari kos itu, saat dinding kayu itu tidak lagi memisahkan kita, aku menyadari ada sesuatu yang tidak ma**k dalam hitunganku," lanjut Adrian, suaranya kini nyaris berupa bisikan. "Aku tidak bisa berhenti memikirkan getaran itu. Bukan getaran dari alat-alat konyolmu, tapi getaran yang aku rasakan setiap kali kamu menatapku dengan berani."
Sari menahan napas. Ia melihat pertahanan Adrian runtuh di depan matanya. Pria yang mengagungkan logika dan kendali ini sekarang tampak begitu rapuh.
"Sari, aku datang ke sini bukan untuk menutup catatan eksperimen," kata Adrian lagi, matanya mengunci mata Sari dengan intensitas yang menyesakkan. "Aku datang karena aku menyadari bahwa akulah yang gagal menjaga jarak. Aku jatuh cinta padamu, dan itu tidak ada dalam rencana."
Sari merasakan jantungnya berdegup kencang, sebuah resonansi yang jauh lebih kuat daripada yang pernah dihasilkan oleh dinding kayu mana pun. Namun, di saat yang sama, rasa takut menyergapnya. Apakah ini bagian dari kejujuran yang ia cari, atau justru awal dari luka baru yang lebih dalam?
"Adrian," bisik Sari, suaranya tertahan di tenggorokan. "Kamu bilang kamu trauma pada komitmen. Kamu bilang hubungan manusia itu berisiko."
"Memang berisiko," Adrian menunduk, dahi mereka hampir bersentuhan. "Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa ketakutan setengah mati karena aku tidak tahu bagaimana cara menghentikan rasa ingin memilikimu ini."
Keheningan menyelimuti ruangan itu, lebih berat dari sebelumnya. Di luar, suara klakson kendaraan di kejauhan terdengar samar, namun di dalam apartemen itu, hanya ada suara napas mereka yang saling memburu. Sari menyadari bahwa pilihan yang diberikan Adrian dulu kini berbalik arah; sekarang, dialah yang memegang kendali atas hati pria yang selama ini mencoba membedah jiwanya.
Tangan Adrian berpindah ke pipi Sari, ibu jarinya mengusap kulit lembut itu dengan penuh duka. "Katakan sesuatu, Sari. Tolong, katakan kalau eksperimen ini benar-benar sudah selesai, atau aku akan hancur di sini."
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!