Cahaya jingga sisa matahari terbenam menyusup melalui celah jendela, membiaskan debu-debu halus yang menari di udara kamar yang baru saja selesai direnovasi. Aroma cat tembok yang masih segar dan sisa-sisa kayu yang diamplas memenuhi indra penciumanku. Di depanku, dinding yang dulu hanya berupa sekat kayu tipis—yang selama berbulan-bulan menjadi saksi bisu kesepian dan gairah rahasiaku—kini telah menjelma menjadi dinding bata yang kokoh, dingin, dan kedap suara.
Namun, yang paling terasa berbeda bukanlah struktur bangunan itu, melainkan kehadiran sosok pria yang berdiri dua meter di depanku. Adrian tidak lagi berdiri di balik bayang-bayang atau di seberang sekat kayu yang rapuh. Ia berdiri di sana, di ruang pribadiku, dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menanggalkan aura otoritasnya sebagai pemilik kos.
"Dindingnya sudah selesai," suara Adrian rendah, nyaris berbisik, namun getarannya terasa lebih nyata daripada frekuensi perangkat elektronik mana pun yang pernah kugunakan.
Aku menyentuh permukaan dinding yang halus itu. "Terasa aneh. Tidak ada lagi suara langkah kaki yang samar atau bunyi ketukan tak sengaja dari sebelah."
Adrian melangkah mendekat. Setiap derap langkahnya membuat jantungku berdegup dengan irama yang tidak beraturan. "Tidak ada lagi dinding yang bisa kita jadikan alasan untuk bersembunyi, Sari."
Aku menoleh, memberanikan diri menatap matanya yang tajam namun tampak lebih lelah dari biasanya. "Eksperimen itu... apakah itu sudah selesai juga?"
Sejenak, keheningan menyelimuti kami. Di masa lalu, pertanyaan seperti ini akan membuatku menciut, merasa seperti objek penelitian di bawah mikroskop pria karismatik ini. Aku telah menghabiskan waktu berminggu-minggu membedah rasa maluku, mengubah rasa rendah diri sebagai 'perawan tua' menjadi sesuatu yang lebih menyerupai rasa ingin tahu yang berdaulat atas tubuhku sendiri. Namun, kejujuran jauh lebih menakutkan daripada eksplorasi sensorik apa pun.
Adrian menghela napas panjang, bahunya merosot sedikit. "Aku memulainya karena aku pengecut, Sari. Aku pikir, dengan menyebutnya 'eksperimen', aku bisa mengontrol jarak. Aku bisa mendapatkan keintiman tanpa perlu memberikan diriku seutuhnya. Aku pikir aku bisa menyelamatkanmu dari rasa sepi tanpa aku sendiri harus terjatuh."
Tanganku yang tadinya bersandar di dinding kini jatuh ke samping. "Dan sekarang?"
"Sekarang dinding ini sudah kokoh, tapi aku merasa lebih te******* daripada sebelumnya," ucap Adrian dengan senyum getir yang tidak sampai ke mata. Ia mengulurkan tangan, jemarinya berhenti tepat beberapa sentimeter dari pipiku, seolah meminta izin yang tidak terucapkan.
Aku tidak menunggu. Aku memangkas jarak itu dengan menggeser kakiku, membiarkan kulit wajahku bersentuhan dengan telapak tangannya yang hangat dan sedikit kasar. Sensasi itu tidak datang dengan getaran mekanis yang presisi. Itu adalah hangat yang tidak terduga, sedikit lembap, dan membawa aroma kopi serta maskulinitas yang jujur.
"Aku tidak ingin menjadi bagian dari eksperimen lagi, Adrian," kataku, suaraku mantap meski dadaku bergemuruh. "Aku lelah dengan simulasi. Aku lelah dengan label yang diberikan orang padaku, dan aku lelah dengan label yang kau berikan pada hubungan kita."
Adrian menatapku dalam, seolah sedang mencari sisa-sisa Sari yang lama—si akuntan pemalu yang selalu menunduk. Saat ia tidak menemukannya, kilat kekaguman melintas di matanya. "Lalu, apa yang kau inginkan?"
"Kejujuran yang berisiko," jawabku. "Aku ingin tahu apakah kau sanggup menatapku tanpa memikirkan teori psikologi atau trauma masa lalumu. Aku ingin tahu apakah kau bisa mencint** seorang wanita yang pernah kau lihat di titik terendahnya, tanpa dinding kayu di antara kita."
Wajah Adrian mendekat, napasnya terasa hangat di bibirku. "Itu permintaan yang sangat berbahaya, Sari. Kau tahu aku tidak pandai dalam hal komitmen."
"Aku juga tidak," balasku sambil tersenyum tipis. "Tapi bukankah itu intinya? Kita berdua rusak dengan cara kita masing-masing. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin memperbaikinya dengan alat bantu."
Saat bibir Adrian menyentuh bibirku, tidak ada ledakan kembang api seperti dalam novel romansa picisan. Yang ada hanyalah rasa pengakuan yang mendalam. Ini adalah ciuman yang lambat, penuh keraguan yang pelan-pelan terkikis, sebuah negosiasi antara dua jiwa yang selama ini hanya berani bersentuhan lewat resonansi benda mati. Tangannya berpindah ke tengkukku, menarikku lebih dekat, seolah ia ingin memastikan bahwa aku benar-benar nyata, bukan sekadar imajinasi di balik dinding kayu.
Aku bisa merasakan debar jantungnya di balik dadanya, sebuah ritme manusiawi yang jauh lebih indah daripada pola getaran tercanggih sekalipun. Di dalam pelukannya, label 'perawan tua' yang selama ini menghimpitku terasa menguap, digantikan oleh identitas baru yang aku definisikan sendiri.
Namun, tepat saat aku mulai merasa aman dalam keheningan yang baru ini, sebuah suara keras dari arah koridor memecah suasana. Itu adalah suara benturan benda berat, diikuti oleh teriakan histeris seorang wanita yang sangat kukenal suaranya—Ibu Widya, tetangga kos paling berisik dan pemegang otoritas moral di lingkungan ini.
"Adrian! Kamu di dalam? Aku tahu kamu membawa perempuan itu ke kamarnya!"
Pintu kamar yang tidak terkunci itu berderit terbuka sedikit, menampakkan bayangan Ibu Widya yang berdiri dengan wajah merah padam, memegang ponsel yang layarnya menyala—menampilkan sebuah foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari celah jendela yang tadi lupa kututup rapat. Di layar itu, terlihat jelas posisi kami yang sangat intim, sebuah bukti yang c**up untuk menghancurkan reputasi yang baru saja coba kubangun kembali.
Dinding fisik kami mungkin sudah kokoh, tetapi dinding sosial di luar sana baru saja mulai runtuh untuk menghancurkan kami berdua.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!