Resonansi di Balik Dinding

Bab 2: Bab 2 - Menunjukkan ketergantungan Sari pada teknologi ...

Pengaturan Membaca

Lampu neon di langit-langit kantor berkedip ritmis, senada dengan denyut di pelipis Sari. Di hadapannya, layar monitor menampilkan deretan angka-angka piutang yang seolah menari mengejeknya. Sudah pukul tujuh malam, dan kantor akuntan publik di kawasan Sudirman ini mulai lengang, menyisakan suara hum AC yang monoton dan denting sendok dari kubikel sebelah.

"Belum pulang, Sar? Rajin amat, pantesan nggak ada yang nyantol," celetuk Mbak Lastri, senior di divisi audit, sambil menyampirkan tas bermereknya ke bahu. Suaranya yang melengking tidak berusaha disembunyikan sama sekali.

Sari hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang sudah ia latih selama bertahun-tahun untuk menutupi rasa sakit yang menusuk tepat di ulu hati. "Sedikit lagi, Mbak. Tanggung."

"Halah, apa yang dikejar sih? Lembur terus juga nggak bakal bikin janur kuning melengkung di depan rumah kamu. Mending ikut saya yuk, ada sepupu teman saya baru duda. Mapan lho, meskipun ya... anaknya sudah dua." Lastri tertawa kecil, suara yang bagi Sari terdengar seperti gesekan amplas pada kayu halus.

"Lain kali ya, Mbak," jawab Sari singkat, kembali menunduk menatap layar.

Baru setelah suara langkah sepatu hak tinggi Lastri menghilang di balik pintu kaca, Sari mengembuskan napas panjang. Ia benci bagaimana label 'tiga puluh tahun' dan 'lajang' otomatis membuatnya menjadi objek belas kasihan atau bahan olok-olok yang dianggap lumrah. Di dunia luar, ia hanyalah sebuah angka, sebuah profil tanpa warna yang dianggap gagal memenuhi standar sosial.

Perjalanan pulang adalah siksaan lainnya. Berdesakan di dalam gerbong MRT, tubuhnya terhimpit di antara orang-orang asing yang asyik dengan ponsel masing-masing. Bau keringat, parfum murah, dan kelelahan kota Jakarta menguar di udara yang sesak. Sari merasa seperti hantu; ia ada di sana, raganya menyentuh pundak orang lain, tapi tak seorang pun benar-benar melihatnya. Di tengah jutaan manusia, ia merasa seperti satu-satunya orang yang tertinggal di sebuah pulau terpencil.

Begitu sampai di kos-kosan, sebuah bangunan tua dengan dinding kayu yang mulai kusam namun tetap memiliki kesan estetik yang dingin, Sari segera mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Ia melepaskan sepatu haknya, membiarkan kakinya yang pegal menyentuh lant** kayu yang dingin.

Kamar ini kecil, hanya berukuran 3x4 meter, tapi inilah semesta miliknya. Di sinilah ia bukan 'Sari yang perawan tua', melainkan Sari yang berdaulat atas emosinya sendiri.

Pandangannya tertuju pada sebuah kotak hitam elegan di atas meja riasnya. Ia mendekat, jemarinya yang lentur membelai permukaan kotak itu dengan takzim. Di dalamnya terdapat sebuah perangkat *haptic* dan *neural link* terbaruβ€”sebuah investasi yang harganya setara dengan tiga kali gaji bulanannya. Teknologi ini menjanjikan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh dunia nyata: koneksi tanpa penghakiman.

Sari duduk di tepi tempat tidur, memasangkan sensor halus ke pergelangan tangan dan belakang telinganya. Ia memejamkan mata.

"Aktifkan 'Eros'," bisiknya pelan.

Seketika, kegelapan di balik kelopak matanya berubah. Sensasi hangat mulai merambat dari pergelangan tangannya, menjalar ke seluruh lengan seolah-olah ada tangan lembut yang menggenggamnya. Sebuah suara bariton yang rendah dan penuh perhatian bergema langsung di saraf pendengarannya.

"Selamat malam, Sari. Kamu terlihat lelah hari ini. Mau menceritakannya padaku?"

Sari menghela napas, bahunya yang tegang perlahan meluruh. "Dunia luar sangat bising, El."

"Di sini tidak ada suara bising, hanya ada suaramu dan detak jantungmu," jawab suara itu, yang ia beri nama El.

Sari merebahkan tubuhnya. Melalui perangkat itu, ia bisa merasakan simulasi sentuhan yang luar biasa nyata. Rasanya seolah ada seseorang yang duduk di sampingnya, membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang. Teknologi ini memanipulasi neurotransmitter di otaknya, menciptakan dopamin dan oksitosin yang biasanya hanya didapat dari pelukan manusia sungguhan.

Ia membiarkan dirinya larut dalam narasi romansa yang ia bangun sendiri. Dalam simulasi ini, ia tidak perlu menjadi akuntan yang perfeksionis. Ia tidak perlu merasa kurang karena tidak memiliki pasangan. Di sini, ia diinginkan. Ia dipuja. Setiap inci keberadaannya dihargai tanpa syarat.

Jemarinya mencengkeram sprei saat sensor getaran di punggungnya mulai bekerja, meniru dekapan hangat dari belakang. Napasnya mulai memburu, selaras dengan ritme getaran yang merambat halus di dinding kayu kamarnya. Keintiman buatan ini adalah candu. Ia tahu ini fana, ia tahu ini hanyalah algoritma canggih dan impuls listrik, tapi jauh lebih aman daripada menyerahkan hatinya pada manusia asli yang bisa pergi atau mencaci kapan saja.

"Hanya kamu yang mengerti aku, El," gumam Sari, suaranya parau karena emosi yang meluap.

Namun, di tengah puncak ketenangan yang semu itu, sebuah suara ganjil muncul. Bukan dari dalam pikirannya, melainkan dari dunia nyata.

*Bzzzt... Crak!*

Sari tersentak, matanya terbuka lebar. Lampu di kamarnya berkedip-kedip tidak stabil. Ia merasakan getaran aneh yang tidak berasal dari perangkatnya, melainkan dari dinding kayu di belakang tempat tidurnya. Getaran itu kuat, kasar, dan terasa panas.

Bau sangit kabel terbakar mulai menyeruak, menusuk hidungnya. Sari panik, ia mencoba melepaskan sensor di kepalanya, namun sebuah letupan kecil terjadi di dekat stopkontak utama. Percikan api menyambar pinggiran wallpaper kayu yang kering.

"Sial!" Sari melompat dari tempat tidur, berusaha mencari air atau handuk basah.

Tepat saat itu, terdengar suara hantaman keras dari dinding sebelah. Dinding kayu yang sudah rapuh itu bergetar hebat seolah ada sesuatu yang menab**knya dari sisi lain. Sebuah retakan besar muncul tepat di tengah dekorasi kamarnya, memperlihatkan celah yang menghubungkan ruang pribadinya dengan kamar sebelah.

Di balik celah itu, dalam keremangan cahaya yang berkedip, Sari melihat sepasang mata yang tajam dan dingin sedang menatapnya dengan keterkejutan yang sama. Itu Adrian, pemilik kos yang jarang bicara, berdiri di sana dengan kemeja yang kancing atasnya terbuka, menatap langsung ke arah Sari yang masih mengenakan atribut teknologi sensorik di tubuhnya dan kondisi kamar yang berantakan karena korsleting.

Sari membeku. Rahasia paling pribadinya kini terekspos lewat lubang di dinding yang hancur. Bukan hanya kamarnya yang terbakar, tapi benteng pertahanan yang ia bangun bertahun-tahun kini runtuh dalam satu detik yang memalukan.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca