Resonansi di Balik Dinding

Bab 3: Bab 3 - Insiden utama: korsleting listrik terjadi saat ...

Pengaturan Membaca

Malam itu, gerah di Jakarta terasa lebih menekan daripada biasanya. Di dalam kamar kos berukuran empat kali empat meter ini, Sari merasa seperti seekor burung yang baru saja ma**k kembali ke sangkarnya setelah seharian berpura-pura menjadi manusia normal di kantor akuntan tempatnya bekerja. Ia melepas blazer abu-abunya, menyisakan blus sutra yang kini menempel di punggungnya yang berkeringat.

Sari melirik kalender di meja kerja. Usia tiga puluh tahun bukan sekadar angka baginya; itu adalah lonceng peringatan yang terus berdentang di telinga setiap kali bibi di kampung menanyakan "kapan menyusul", atau setiap kali teman kantornya membicarakan tumbuh kembang anak-anak mereka.

Ia mendekati lemari kecil yang terkunci rapat di pojok ruangan. Dengan jemari yang sedikit gemetar karena kelelahan emosional, ia mengeluarkan perangkat itu. Bentuknya ramping, berwarna putih mutiara dengan tekstur silikon halus yang dirancang dengan presisi teknologi tingkat tinggiβ€”sebuah mahakarya haptik yang menjanjikan sensasi kehangatan manusiawi tanpa perlu melewati drama penolakan atau penghakiman.

"Hanya sebentar," bisiknya pada diri sendiri, sebuah mantra rutin untuk meredam rasa bersalah.

Ia memasang perangkat sensorik di pergelangan tangan dan tengkuknya, lalu mengaktifkan modul utama. Seketika, frekuensi rendah mulai berdengung lembut. Sari memejamkan mata, membiarkan imajinasinya bekerja selaras dengan stimulasi yang diberikan alat tersebut. Di dalam kepalanya, ia tidak lagi berada di kamar kos berdinding kayu yang kusam. Ia berada di sebuah tempat di mana label 'perawan tua' tidak ada, di mana ia dicint** dan diinginkan sepenuhnya.

Namun, di tengah trans kebahagiaan semu itu, sesuatu terasa salah.

Dengungan lembut itu tiba-tiba berubah menjadi geraman kasar. Perangkat di tangannya mendadak panas, mengirimkan sengatan listrik kecil yang membuatnya tersentak. Sari membuka mata, napasnya memburu. Ia mencoba menekan tombol *off*, tetapi layar kendali digitalnya berkedip merah dengan liar.

*Zzap!*

Percikan api biru meloncat dari stopkontak di dekat tempat tidur. Sari m****ik, mencoba melepaskan kabel-kabel yang melilitnya, namun seolah-olah seluruh ruangan itu kini memiliki nyawanya sendiri. Dinding kayu yang memisahkan kamarnya dengan koridor mulai bergetar hebat. Resonansi dari mesin yang mengalami malfungsi itu merambat melalui struktur bangunan tua tersebut, menciptakan suara gemuruh yang m****akkan telinga.

"Tidak, tidak, tidak... kumohon, berhenti," isak Sari, menarik paksa kabel dari soketnya.

Bau ozon dan plastik terbakar mulai memenuhi udara. Asap tipis mengepul dari balik lemari. Sari jatuh terduduk di lant**, tangannya gemetar hebat saat ia mencoba menyembunyikan perangkat itu di bawah selimut. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada getaran dinding di sekelilingnya. Ia tahu, di gedung kos yang setenang ini, keributan sekecil apa pun akan mengundang perhatian.

Benar saja. Tiga ketukan keras menghantam pintunya.

"Sari? Anda di dalam?"

Suara itu rendah, tenang, namun penuh otoritas. Sari membeku. Itu Adrian. Pemilik kos yang jarang menampakkan diri kecuali untuk urusan mendesak, pria yang selalu menjaga jarak dengan tatapan mata sedingin es.

"Sari! Buka pintunya. Saya mencium bau hangus dan seluruh gedung ini bergetar karena korsleting di sirkuit kamar Anda!" suara Adrian meninggi, kini terdengar ada nada urgensi.

"Tunggu, Pak! Sebentar! Saya sedang... saya sedang ganti baju!" teriak Sari panik. Ia berusaha menyeret selimut untuk menutupi tumpukan kabel dan perangkat aneh yang masih mengeluarkan asap kecil di lant**.

"Saya tidak bisa menunggu! Apinya bisa merambat ke plafon kayu!"

Tanpa peringatan lebih lanjut, kunci cadangan berputar. Pintu kayu itu terbuka lebar, menab**k dinding dengan bunyi *b**k* yang keras.

Adrian berdiri di ambang pintu. Kemeja hitamnya digulung hingga siku, dan ekspresinya yang biasanya datar kini tampak tegang. Matanya dengan cepat memindai ruangan, mencari sumber api. Namun, tatapannya terhenti tepat di titik di mana Sari bersimpuh di lant**, memeluk selimut yang menutupi sesuatu yang jelas-jelas bukan bantal atau guling biasa.

Suasana mendadak hening, hanya menyisakan suara sisa percikan listrik dari stopkontak yang menghitam.

Adrian melangkah ma**k, mengabaikan protes lemah Sari. Ia melihat kabel-kabel hitam yang menjunt** keluar dari balik selimut, lampu indikator merah yang masih berkedip di balik kain, dan bau sintetis yang sangat spesifikβ€”bukan sekadar bau alat elektronik biasa, melainkan sesuatu yang jauh lebih intim dan personal.

Adrian menatap Sari. Matanya yang tajam seolah menembus pertahanan Sari, melihat langsung ke dalam rasa malu yang paling dalam dari wanita itu. Ia melihat bulir keringat di dahi Sari, bibirnya yang gemetar, dan ketakutan yang begitu murni di matanya.

Pandangan Adrian beralih ke perangkat yang kini tersingkap sebagian karena Sari tak sengaja melonggarkan pelukannya. Ia terdiam c**up lama, c**up lama hingga Sari merasa ingin hilang saja dari muka bumi saat itu juga.

"Alat haptik generasi terbaru?" gumam Adrian, suaranya kini kembali dingin, namun ada secercah rasa ingin tahu yang aneh di sana. Ia menatap Sari kembali, kali ini dengan sudut bibir yang sedikit terangkatβ€”bukan senyum mengejek, melainkan sesuatu yang lebih berbahaya.

Sari menunduk dalam, air mata malu mulai menggenang. "Saya bisa jelaskan... ini bukan... saya hanya..."

"Ternyata, di balik tembok kayu ini," potong Adrian, suaranya tenang namun bergema di ruangan yang sempit itu, "ada seorang perfeksionis yang sangat kesepian hingga harus mencari kehangatan dari sebuah algoritma."

Sari mendongak, wajahnya merah padam. Ia bersiap untuk diusir, dipandang rendah, atau bahkan ditertawakan. Namun, Adrian justru melipat tangan di depan dada, menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu yang rusak, menatapnya dengan intensitas yang belum pernah Sari rasakan sebelumnya.

"Bangun, Sari. Rapikan semua ini. Kita perlu bicara soal bagaimana kamu akan membayar kerusakan dinding iniβ€”dan mungkin, soal caramu membuang-buang waktu dengan mainan mati itu."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca