Resonansi di Balik Dinding

Bab 4: Bab 4 - Adrian mencoba memproses apa yang ia lihat dan ...

Pengaturan Membaca

Bau kayu hangus dan sisa ozon dari korsleting listrik itu masih tertinggal di ujung hidungku, bahkan setelah aku menutup diri di dalam ruang kerja pribadiku. Aku menuangkan wiski ke dalam gelas rendah, membiarkan bunyi denting es batu menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan lant** dua ini. Biasanya, keheningan adalah teman baikku—sebuah benteng yang kubangun dengan susah payah dari hiruk-pikuk drama manusia yang melelahkan.

Namun malam ini, keheningan itu terasa berbeda. Ia terasa berat, seolah membawa sisa-sisa getaran dari dinding kayu yang baru saja retak di kamar nomor tujuh.

Sari.

Nama itu biasanya hanya muncul di buku catatan keuanganku sebagai penyewa yang paling teladan. Dia selalu membayar tepat waktu, tidak pernah membawa tamu pria, dan nyaris tidak terdengar suaranya. Dia adalah bayangan yang sempurna dalam ekosistem kos-kosan ini. Tapi gambaran yang baru saja kulihat di balik lubang dinding itu merusak persepsiku.

Aku menyesap minumanku, merasakan cairan hangat itu membakar tenggorokan. Pikiranku memutar ulang kejadian tadi seperti film rusak. Sari, dengan wajah pucat dan mata yang membelalak ketakutan, berdiri di samping perangkat teknologi yang... tidak lazim. Sebuah kontradiksi yang luar biasa. Akuntan yang kaku dan perfeksionis itu menyimpan dunia sensorik yang begitu liar di balik dinding kamarnya yang sempit.

"Kenapa kau tidak langsung mengusirnya, Adrian?" gumamku pada diri sendiri.

Aturan di sini jelas. Segala bentuk aktivitas yang membahayakan fasilitas atau melanggar norma kenyamanan bersama adalah alasan mutlak untuk pemutusan kontrak sepihak. Dan apa yang kulihat jelas melampaui batas keamanan listrik, belum lagi jika bicara soal moralitas konservatif yang dijunjung lingkungan sekitar ini.

Aku berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke halaman belakang. Cahaya lampu taman memantul di kaca, memperlihatkan bayangan pria dengan garis wajah keras dan mata yang dingin. Itu aku. Pria yang sudah lama berhenti percaya pada konsep keintiman emosional. Bagiku, hubungan antarmanusia hanyalah serangkaian negosiasi yang melelahkan dan berakhir dengan kekecewaan. Itulah sebabnya aku membangun tempat ini, memberi jarak, dan menjaga semuanya tetap dalam kendali profesional.

Tapi melihat Sari tadi—melihat kerapuhannya yang te*******, bukan secara fisik tapi secara eksistensial—sesuatu yang mati di dalam diriku terusik. Ada rasa ingin tahu yang gelap dan tidak semestinya. Dia tidak mencari kepuasan murahan; ada semacam keputusasaan yang terorganisir dalam caranya menggunakan teknologi itu. Dia berusaha mengisi kekosongan yang sangat aku kenal.

Aku meletakkan gelas wiski yang sudah kosong di atas meja jati. Tanganku meraba permukaan meja, merasakan serat kayu yang kasar. Aku teringat bagaimana dinding kayu di kamar Sari bergetar hebat sebelum akhirnya menyerah. Getaran itu bukan sekadar masalah teknis; itu adalah resonansi dari sesuatu yang ditekan terlalu lama.

Langkah kakiku membawaku kembali ke koridor lant** bawah. Suasana sudah sepi, namun lampu di kamar nomor tujuh masih menyala, membiarkan garis cahaya tipis meluncur dari bawah pintu. Aku berdiri di depannya, c**up lama hingga aku bisa mendengar napasnya yang tidak teratur dari balik pintu. Dia pasti sedang gemetar, menunggu vonis dariku. Menunggu kata-kata "angkat barang-barangmu besok pagi."

Aku mengetuk pintu itu. Pelan, namun tegas.

Tidak ada jawaban untuk beberapa detik, lalu bunyi geseran kunci terdengar. Pintu terbuka hanya beberapa senti. Sari berdiri di sana, masih mengenakan pakaian yang sama, rambutnya sedikit berantakan. Matanya sembap, dan dia menolak untuk menatap langsung ke mataku.

"Pak Adrian... saya... saya sedang berkemas," suaranya parau, hampir pecah. "Maaf soal dinding itu. Saya akan mengganti semua kerugiannya. Saya tahu saya harus pergi."

Aku menyandarkan bahuku di kosen pintu, melipat tangan di dada. Aku membiarkan keheningan menggantung di antara kami selama mungkin, membiarkan ketegangannya memuncak hingga dia akhirnya terpaksa mendongak.

"Siapa yang bilang kau harus pergi?" tanyaku datar.

Sari mengerutkan kening, bingung. "Tapi... apa yang Pak Adrian lihat... maksud saya, aturannya—"

"Aturannya adalah milikku, dan aku yang memutuskan kapan aturan itu berlaku," aku memotongnya. Aku melangkah ma**k ke kamarnya tanpa menunggu undangan. Ruangan itu rapi, kecuali bagian dinding yang rusak yang kini ditutupi selimut tipis. Perangkat itu sudah disembunyikan, tapi kehadirannya masih terasa memenuhi udara.

Aku berbalik menghadapnya. Dia tampak begitu kecil di sudut ruangan, seperti mangsa yang terpojok. "Kau sangat takut pada penilaian orang lain, bukan? Pada label 'perawan tua' yang mereka bisikkan di belakangmu. Tapi di sini, kau menciptakan duniamu sendiri dengan mesin-mesin dingin itu."

Wajah Sari memerah, campur aduk antara malu dan marah. "Itu bukan urusan Bapak."

"Benar. Itu bukan urusanku," aku setuju, suaraku merendah hingga ke nada yang hampir intim namun tetap menjaga jarak. "Tapi aku punya tawaran. Alih-alih mengusirmu dan membiarkanmu mencari lubang persembunyian baru untuk mesin-mesinmu, bagaimana kalau kita melakukan sesuatu yang lebih... nyata?"

Sari menatapku seolah aku baru saja menumbuhkan kepala kedua. "Maksud Bapak?"

Aku mendekat satu langkah, c**up dekat untuk mencium aroma lavender dari sabunnya yang bercampur dengan bau debu kayu. "Kau menggunakan teknologi itu karena kau takut pada risiko manusia. Kau ingin rasa tanpa luka. Kau ingin kontrol tanpa kompromi. Tapi itu bukan kehidupan, Sari. Itu hanya simulasi."

Aku berhenti sejenak, menatap langsung ke dalam manik matanya yang bergetar. "Mari kita lakukan eksperimen. Tetaplah di sini. Tidak akan ada pengusiran. Tapi sebagai gantinya, kau harus melepaskan perangkat-perangkat itu dan belajar menghadapi keintiman yang nyata. Tanpa label, tanpa tuntutan pernikahan, tanpa janji kosong. Hanya kejujuran antarmanusia yang sama-sama rusak."

"Bapak g***," bisiknya, suaranya bergetar.

"Mungkin," aku menyunggingkan senyum tipis yang tidak mencapai mataku. "Tapi kau punya pilihan. Keluar malam ini juga dengan rasa malu yang akan menghantuimu, atau terima tantanganku dan lihat seberapa jauh kau bisa bertahan tanpa bantuan kabel dan sirkuit listrik."

Aku berbalik dan berjalan menuju pintu, memberikan punggungku padanya—sebuah posisi yang menunjukkan aku tidak merasa terancam sedikit pun olehnya. Sebelum keluar, aku menoleh sedikit.

"Pikirkan baik-baik, Sari. Aku akan menunggumu di ruang kerjaku besok jam delapan pagi untuk jawabanmu. Jika kau tidak datang, aku akan menganggap kau memilih untuk pergi."

Aku menutup pintu kamarnya, meninggalkan dia dalam kesunyian yang mencekam. Saat aku berjalan kembali ke kamarku, aku bisa merasakan detak jantungku sendiri yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Aku tidak tahu apakah aku sedang berusaha membantunya, atau aku hanya sedang bosan dengan kehampaan hidupku sendiri dan memutuskan untuk bermain api dengan jiwa orang lain.

Yang jelas, getaran itu belum benar-benar berhenti. Ia baru saja berpindah dari dinding kayu itu ke dalam kepalaku.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca