Debu putih dari gipsum yang hancur masih melayang-layang di udara, menari-nari di bawah temaram lampu bohlam yang berkedip sisa korsleting tadi. Sari merasakan jemarinya bergetar hebat saat ia mencoba menarik selimut tipis untuk menutupi tumpukan perangkat elektronik di sudut lant**βbenda-benda ramping berbahan silikon medis dengan indikator lampu LED yang kini padam, namun seolah masih berdenyut membawa aibnya.
Di hadapannya, dipisahkan oleh lubang menganga di dinding kayu yang biasanya menjadi benteng privasinya, Adrian berdiri. Pria itu tidak tampak marah. Wajahnya yang biasanya kaku dan sedingin es kini memperlihatkan ekspresi yang sulit dibacaβsetengah penasaran, setengah skeptis. Matanya menyapu kekacauan di kamar Sari, beralih dari kabel-kabel yang hangus ke wajah Sari yang kini sewarna kertas kalkir.
"Jadi, ini caramu mengisi malam-malam sepi itu?" suara Adrian memecah keheningan, berat dan rendah. Tidak ada nada menghina, tapi justru kejujuran dalam suaranya itulah yang membuat Sari ingin tenggelam ke dasar bumi.
Sari menelan ludah, tenggorokannya terasa kering seperti menelan pasir. "S-saya bisa jelaskan, Pak Adrian. Saya akan mengganti semua kerusakannya. Saya akan pindah besok pagi, saya tidak bermaksudβ"
"Siapa yang memintamu pindah?" Adrian melangkah melewati ambang lubang di dinding, ma**k ke wilayah pribadi Sari tanpa izin. Sepatu kulitnya mengeluarkan bunyi ketukan yang ritmis di atas lant** kayu. Ia berhenti tepat di depan rak buku Sari yang berantakan, lalu berbalik. "Kau takut padaku? Atau kau takut pada kenyataan bahwa aku baru saja melihat sisi dirimu yang selama ini kau sembunyikan dari ibu-ibu penggosip di depan gang?"
Sari meremas ujung bajunya hingga buku-buku jarinya memutih. "Anda punya hak untuk mengusir saya. Saya melanggar... norma. Saya tahu apa yang orang katakan tentang perempuan seumur saya yang masih sendiri."
Adrian terkekeh, sebuah suara parau yang tidak mencapai matanya. Ia menyandarkan bahu di bingkai dinding yang rusak. "Norma adalah penghibur bagi orang-orang yang tidak punya keberanian untuk menjadi diri sendiri. Aku tidak peduli dengan mainanmu itu, Sari. Yang menarik perhatianku adalah... resonansinya."
Sari mendongak, bingung. "Resonansi?"
"Getaran dari mesin itu sampai ke dinding kamarku setiap malam. Aku merasakannya," Adrian menatap Sari dengan intensitas yang membuat napas Sari tertahan. "Tapi itu getaran yang hampa. Sebuah simulasi yang malang. Kau mencoba membohongi tubuhmu dengan teknologi karena kau terlalu takut untuk menyentuh manusia yang sesungguhnya, bukan?"
Penghinaan terselubung itu menyengat harga diri Sari. "Setidaknya teknologi tidak pernah mengkhianati saya. Teknologi tidak memberikan janji palsu atau meninggalkan saya karena saya tidak c**up menarik untuk dinikahi."
Adrian terdiam sejenak, bayangan masa lalu seolah melintas di matanya yang gelap. Ia melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Sari bisa mencium aroma kayu cendana dan sisa asap rokok dari kemeja pria itu.
"Bagaimana jika aku menawarkan sesuatu yang lebih baik daripada pengusiran?" ucap Adrian pelan.
Sari mundur selangkah, punggungnya menab**k lemari pakaian. "Apa maksud Anda?"
"Sebuah eksperimen," Adrian menyipitkan mata. "Kau haus akan keintiman, tapi kau membenci komitmen dan label sosial yang mencekik. Aku pun sama. Aku tidak percaya pada pernikahan, aku tidak percaya pada 'selamanya'. Bagiku, hubungan antarmanusia hanyalah serangkaian transaksi emosional yang sering kali gagal karena ekspektasi yang terlalu tinggi."
Jantung Sari berdegup kencang, memberikan sensasi nyeri di dadanya. "Eksperimen apa?"
"Eksplorasi. Keintiman manusia yang nyata, tanpa ikatan, tanpa tuntutan status, tanpa masa depan yang muluk-muluk. Hanya di sini, di balik dinding-dinding ini," Adrian mengisyaratkan pada ruangan mereka yang kini menyatu. "Kau bisa terus menggunakan alat-alatmu itu, atau kau bisa mencoba sesuatu yang memiliki detak jantung. Tanpa perlu takut aku akan menilaimu sebagai 'perawan tua' atau apa pun sebutan sampah itu."
Sari menatap Adrian dengan ngeri sekaligus takjub. Pria ini menawarkan sesuatu yang berbahaya. Sebuah hubungan tanpa bentuk yang justru terasa lebih intim daripada apa pun yang pernah ia bayangkan. Namun, di balik itu, ada suara di kepalanya yang memperingatkan: *dia hanya ingin memanfaatkan kerentananmu.*
"Kenapa saya?" tanya Sari, suaranya nyaris berbisik. "Anda bisa mendapatkan wanita mana pun yang Anda mau. Kenapa harus penyewa kos yang menyedihkan seperti saya?"
Adrian tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak menyentuh emosi, namun terasa sangat jujur. "Karena kau jujur dalam kesepianmu. Dan karena aku ingin tahu, apakah getaran yang kau hasilkan saat bersamaku akan sama kuatnya dengan mesin-mesin di lant** itu."
Adrian mengulurkan tangan, namun tidak menyentuh Sari. Ia hanya membiarkan tangannya menggantung di udara, sebuah undangan sekaligus tantangan.
"Pikirkanlah. Kamar ini akan diperbaiki besok. Kau bisa memilih untuk menutup lubang ini selamanya dan kembali ke hidupmu yang aman... atau kita biarkan celah ini terbuka sedikit lebih lama."
Setelah mengatakan itu, Adrian berbalik dan melangkah kembali ke kamarnya, meninggalkan Sari yang berdiri mematung di tengah reruntuhan dindingnya. Sari menunduk melihat perangkat teknologinya yang tergeletak tak berdaya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, benda-benda itu tampak seperti potongan plastik mati yang dingin.
Ia menyentuh dadanya sendiri, merasakan degup jantung yang liar. Itu adalah jenis getaran yang tidak bisa dihasilkan oleh baterai mana pun, dan itu membuatnya takut setengah mati. Jika ia menerima tawaran Adrian, ia tidak hanya mempertaruhkan reputasinya, tapi juga satu-satunya hal yang selama ini ia jaga dengan sangat ketat: kendali atas dirinya sendiri.
Sari menatap lubang di dinding yang memisahkan dunianya dengan dunia Adrian. Di seberang sana, lampu kamar Adrian masih menyala, membiarkan seberkas cahaya ma**k ke kamar Sari, seolah-olah sedang mengawasinya dalam gelap. Apakah ini sebuah pintu menuju kebebasan, atau justru lubang menuju kehancuran yang lebih dalam?
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!