Gelas kristal di hadapanku memantulkan cahaya redup lampu gantung, menciptakan pola-pola cahaya yang menari di atas meja kayu m***ni yang dipelitur sempurna. Aku meremas serbet kain di pangkuanku sampai jemariku memutih. Rasanya aneh. Biasanya, pada jam seperti ini, aku akan meringkuk di balik selimut, membiarkan jemariku menelusuri layar sentuh atau merasakan getaran ritmis dari perangkat perunggu kecilku yang setia. Namun malam ini, tanganku kosong.
"Ponselmu, Sari."
Suara berat Adrian memecah keheningan yang menyesakkan. Ia menyodorkan sebuah kotak kayu kecil berukir di tengah meja. Aku menatap benda itu seolah-olah itu adalah peti mati bagi kewarasanku. Dengan ragu, aku merogoh saku kardiganku, mengeluarkan benda pipih yang menjadi perisai duniaku, dan meletakkannya di sana. Adrian melakukan hal yang sama. Bunyi klik saat kotak itu ditutup terasa seperti gembok sel penjara yang dikunci.
"Eksperimen pertama," ucap Adrian tenang sembari menuangkan anggur merah ke gelasku. "Keintiman tanpa distraksi. Hanya ada aku, kau, dan makanan ini. Tidak ada algoritma yang mengatur perasaanmu malam ini."
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering meski aku baru saja meminum seteguk air. Tanpa cahaya biru dari layar, ruangan ini terasa terlalu nyata. Aku bisa melihat pori-pori kulit Adrian, kerutan halus di sudut matanya yang menunjukkan kelelahan yang disembunyikan, dan bagaimana kemeja hitamnya sedikit mengetat di bagian bahu saat ia bergerak. Aku merasa te*******. Bukan secara fisik, tapi secara emosional. Selama bertahun-tahun, aku telah membangun dinding dari angka-angka akuntansi dan simulasi digital. Sekarang, dinding itu telah runtuh, dan Adrian berdiri di sana, mengamati puing-puingnya.
"Kau tampak ingin melarikan diri," observasinya tajam. Ia memotong steak wagyu-nya dengan presisi seorang ahli bedah.
"Aku hanya tidak terbiasa... makan malam dengan orang lain dalam kesunyian seperti ini," jawabku, suaraku sedikit bergetar. Aku mencoba memotong daging di piringku, tapi tanganku gemetar sehingga garpuku berdenting keras menab**k piring. Suaranya seperti ledakan di ruangan yang sunyi itu.
"Kesunyian adalah kejujuran yang paling murni, Sari. Di dalam sana, kau tidak bisa berbohong pada dirimu sendiri," Adrian meletakkan pisaunya dan menatapku lurus. Matanya yang kelabu seolah bisa menembus tengkorak kepalaku. "Katakan padaku, apa yang sebenarnya kau cari dari alat-alat itu? Dari getaran-getaran yang merusak instalasi listrik kosku itu?"
Pertanyaan itu menghantamku tepat di ulu hati. Wajahku memanas, rasa malu yang membakar menjalar dari leher hingga ke telinga. Aku ingin marah, ingin menyebutnya tidak sopan, tapi ini adalah bagian dari perjanjian kami. Sebuah eksperimen.
"Keamanan," bisikku akhirnya. Aku menunduk, mempelajari serat kayu di meja. "Alat itu... mereka tidak pernah menilaiku. Mereka tidak pernah bertanya kenapa aku masih sendiri di usia tiga puluh. Mereka tidak pernah kecewa padaku. Mereka memberikan apa yang aku butuhkan tanpa aku harus merasa... kurang."
"Dan apa yang kau butuhkan?" kejar Adrian. Suaranya melembut, tapi intensitasnya tidak berkurang.
Aku memberanikan diri menatapnya. "Sentuhan. Pengakuan bahwa aku masih memiliki fungsi sebagai wanita, meskipun dunia di luar sana menganggapku sudah kedaluwarsa karena tidak memiliki pasangan."
Adrian terdiam sejenak. Ia menyesap anggurnya, matanya tidak pernah lepas dariku. "Kau menggunakan teknologi untuk mematikan rasa kesepian, tapi secara tidak langsung kau justru mengawetkan kesepian itu di dalam toples kaca. Kau merasa aman karena kau memegang kendali penuh atas 'hasrat' itu."
Ia menggeser kursinya sedikit lebih dekat. "Sekarang, coba bayangkan jika kendali itu tidak ada padamu. Bayangkan jika hasrat itu bukan berasal dari tombol 'on' atau 'off', melainkan dari napas manusia yang tidak bisa kau prediksi."
Tanganku yang berada di atas meja mendadak terasa sangat berat. Adrian mengulurkan tangannya, tapi ia tidak menyentuhku. Ia hanya meletakkan telapak tangannya beberapa sentimeter dari tanganku, membiarkan panas tubuhnya memancar dan menyentuh kulitku tanpa kontak fisik langsung.
Rasanya jauh lebih menggetarkan daripada perangkat tercanggih yang pernah kubeli. Ada listrik yang berbeda di siniβsesuatu yang liar dan tidak teratur. Jantungku berdegup kencang, sebuah ritme yang tidak bisa diatur oleh aplikasi mana pun.
"Kau takut padaku, Sari?" tanya Adrian lirih.
"Aku takut pada kenyataan bahwa kau nyata," jawabku jujur. Air mata mulai menggenang di sudut mataku. "Mesin bisa rusak dan aku bisa membeli yang baru. Tapi manusia... manusia bisa pergi dan meninggalkan lubang yang tidak bisa ditutup oleh apa pun."
Adrian menarik tangannya, tapi tatapannya tetap mengunci keberadaanku. "Itu risiko dari menjadi hidup. Kau telah memilih untuk menjadi hantu di kamarmu sendiri selama bertahun-tahun. Malam ini, aku ingin kau berhenti menjadi hantu."
Ia berdiri, berjalan memutari meja, dan berhenti tepat di belakang kursiku. Aku bisa merasakan kehadirannya yang dominan, aroma parfumnya yang maskulin bercampur dengan aroma samar tembakau. Ia membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telingaku.
"Eksperimen ini baru dimulai," bisiknya, napasnya yang hangat menggelitik leherku, mengirimkan gelombang kejut yang membuat bulu kudukku berdiri. "Besok, aku ingin kau membuang salah satu perangkatmu. Yang paling kau sukai. Jika kau ingin merasakan keintiman manusia yang sesungguhnya denganku, kau harus mengosongkan ruang yang selama ini diisi oleh plastik dan kabel itu."
Aku membeku. Membuangnya? Itu adalah zona nyamanku, satu-satunya hal yang membuatku merasa berkuasa atas tubuhku sendiri.
"Jika aku tidak bisa?" tanyaku dengan suara tercekik.
Adrian menegakkan tubuhnya, kembali menjadi sosok yang dingin dan berjarak. "Maka kau hanya akan tetap menjadi wanita yang bercinta dengan bayangan di balik dinding kayu yang rapuh. Pilihan ada di tanganmu, Sari. Kamarmu sudah diperbaiki, tapi apakah kau mau tetap tinggal di dalamnya, atau keluar?"
Ia melangkah pergi meninggalkanku di meja makan yang luas itu, menyisakan kotak kayu berisi ponselku yang membisu. Saat aku meraih ponselku kembali, layarnya tetap gelap, tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa benda itu terasa sangat dingin dan mati di telapak tanganku. Namun, perintahnya untuk membuang 'temanku' yang paling setia terasa seperti hukuman mati yang belum siap kuterima.
Aku berdiri dengan kaki lemas, berjalan menuju kamarku. Saat aku melewati dinding kayu yang baru saja diperbaiki itu, aku berhenti. Aku menempelkan telapak tanganku di sana. Di baliknya, aku tahu ada perangkat yang menungguku untuk memberikan kenyamanan instan. Namun, di dalam dadaku, detak jantung yang dipicu oleh napas Adrian tadi masih menolak untuk tenang.
Aku membuka laci nakas, menatap alat perunggu itu. Jemariku gemetar saat hendak menyentuhnya. Apakah aku sanggup menghancurkan satu-satunya duniaku demi sebuah kemungkinan yang mungkin akan menghancurkan hatiku?
Tiba-tiba, suara ketukan di dinding kayu itu terdengar. Bukan dari korsleting listrik, tapi ketukan tangan manusia yang terukur dari sebelahβdari kamar Adrian.
"Tidurlah, Sari. Jangan gunakan alat itu malam ini," suaranya terdengar samar namun jelas menembus sekat kayu.
Aku menarik tanganku dari laci seolah tersulut api. Dia tahu. Dia sedang mengawasiku dari balik dinding ini, dan tiba-tiba, dinding kayu yang dulu terasa seperti pelindung, kini terasa seperti tirai tipis yang siap robek kapan saja.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!