Aroma kayu cedar yang baru saja dipernis menguar dari arah dinding yang baru ia perbaiki. Adrian menyesap wiski tanpa es di tangannya, membiarkan cairan hangat itu membakar tenggorokannya. Dari balik meja kerjanya yang antik, ia bisa mendengar sayup-sayup aktivitas di kamar sebelah—gesekan kain, langkah kaki ringan, dan keheningan yang terasa berat.
Sari. Nama itu kini bukan lagi sekadar nama di buku catatan penyewa kosnya. Sari telah menjadi subjek, sebuah anomali yang ia undang ma**k ke dalam laboratorium emosionalnya.
Adrian menyandarkan punggung, memejamkan mata. Seketika, bayangan dari tujuh tahun lalu menyeruak tanpa izin. Ia melihat gaun pengantin putih yang tergantung di pintu lemari, undangan dengan cetakan timbul emas yang memenuhi meja makan, dan suara histeris Widya yang menuntut kepastian di atas segalanya.
"Kita harus punya status, Adrian! Aku butuh jaminan bahwa kamu milikku selamanya!"
Kalimat itu masih terngiang seperti dering telinga yang tak kunjung hilang. Baginya, kata 'selamanya' dan 'pernikahan' saat itu terasa seperti tali gantung diri yang dihias bunga melati. Widya tidak menginginkannya; Widya menginginkan label "istri" untuk dipamerkan di depan perkumpulan sosialnya. Dan ketika Adrian menolak untuk tunduk pada narasi usang itu, semuanya hancur. Widya pergi, meninggalkan lubang hitam di dadanya yang kemudian ia tambal dengan sinisme dan logika dingin.
Ia membuka mata, menatap retakan halus pada gelas kristalnya. Itulah sebabnya ia menawarkan eksperimen ini pada Sari. Ia ingin membuktikan bahwa keintiman bisa berdiri sendiri tanpa beban ekspektasi sosial. Ia ingin melihat apakah manusia bisa saling menyentuh jiwa tanpa harus saling membelenggu dengan janji-janji kosong di atas kertas bermaterai.
Ketukan ragu di pintu membuyarkan lamunannya.
"Mas Adrian? Boleh saya ma**k?"
Suara itu lembut, sedikit bergetar. Adrian menarik napas panjang, memasang kembali topeng ketenangannya. "Ma**k, Sari."
Sari melangkah ma**k. Ia mengenakan kardigan longgar, namun matanya memancarkan keberanian yang kontradiktif dengan gestur tubuhnya yang menutup. Ia membawa sebuah buku kecil, mungkin jurnal atau sketsa.
"Dindingnya... sudah benar-benar kokoh sekarang," Sari memulai percakapan, matanya menghindari tatapan Adrian dan malah terpaku pada rak buku di sudut ruangan.
"Aku memastikannya sendiri. Tidak akan ada getaran yang tidak diinginkan lagi," jawab Adrian datar, meski ada nada sarkasme halus di sana. Ia bangkit dari kursi, melangkah mendekat. "Atau mungkin, kau justru merindukan getaran itu?"
Wajah Sari merona merah padam. Ia merapatkan kardigannya. "Eksperimen ini... Mas Adrian benar-benar serius? Tanpa ikatan? Tanpa... masa depan?"
Adrian berhenti tepat di depan Sari. Ia bisa mencium aroma sabun mandi melati dan sesuatu yang lebih organik—aroma kulit manusia yang hangat. "Masa depan adalah fiksi yang kita ciptakan untuk menenangkan rasa takut akan kematian, Sari. Yang kita punya hanyalah presensi. Di sini. Sekarang."
Adrian mengangkat tangan, jarinya ragu sejenak sebelum menyentuh dagu Sari, memaksanya untuk mendongak. Di mata wanita itu, ia tidak melihat kemarahan. Ia melihat dahaga yang sama dengan yang ia rasakan—keinginan untuk diakui melampaui sekadar 'wanita lajang usia tiga puluh'.
"Kau takut, Sari?" bisik Adrian. Suaranya kini lebih rendah, lebih serak.
"Saya takut pada apa yang bisa Mas lakukan pada pikiran saya," jawab Sari jujur.
Adrian merasakan denyut di ujung jarinya saat menyentuh kulit halus Sari. Secara metodologis, ini seharusnya hanya menjadi observasi. Ia seharusnya tetap menjadi kurator, pengamat yang berdiri di balik kaca pelindung. Namun, saat ibu jarinya mengusap bibir bawah Sari yang sedikit terbuka, sebuah tarikan magnetis yang tidak logis mulai mengacaukan kalkulasinya.
Tangannya bergerak ke tengkuk Sari, menariknya sedikit lebih dekat. Ia bisa merasakan napas Sari yang memburu di permukaan kulit lehernya. Logika Adrian meneriakkan peringatan—bahwa ia sedang melanggar protokolnya sendiri, bahwa ia mulai menginginkan lebih dari sekadar data emosional.
"Ini hanya eksperimen," gumam Adrian, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri lebih daripada meyakinkan Sari.
"Lalu kenapa tanganmu gemetar, Mas?" bisik Sari balik, sebuah tantangan kecil yang tak terduga.
Adrian tertegun. Ia melepaskan sentuhannya dengan cepat, seolah baru saja menyentuh kawat bermuatan listrik. Ia berbalik membelakangi Sari, tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Si****. Getaran itu bukan berasal dari dinding kayu yang rusak. Getaran itu berasal dari dalam dirinya sendiri, sebuah resonansi purba yang sudah lama ia kubur dalam-dalam.
"Keluar, Sari," perintah Adrian dingin, tanpa menoleh.
"Tapi, Mas—"
"Keluar sekarang. Kita lanjutkan besok."
Sari terdiam sejenak, suara langkah kakinya yang menjauh dan pintu yang tertutup pelan terasa seperti sebuah kekalahan bagi Adrian. Ia kembali ke mejanya, menenggak sisa wiskinya dalam satu tegukan kasar.
Ia telah membangun dinding beton di sekeliling hatinya selama bertahun-tahun agar tidak lagi menjadi tawanan emosi. Namun hanya dengan satu tatapan dari wanita yang ia anggap 'subjek' itu, dinding betonnya terasa sama rapuhnya dengan dinding kayu yang retak karena korsleting listrik. Adrian menyadari satu hal yang mengerikan: eksperimen ini mungkin tidak akan menghancurkan Sari, melainkan justru menghancurkan dirinya sendiri.
Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan ma**k dari nomor yang sudah lama ia blokir, namun entah bagaimana berhasil menembus.
*“Adrian, aku dengar kamu kembali ke kota ini. Kita perlu bicara soal apa yang tersisa di antara kita.”*
Adrian menatap layar ponselnya dengan tatapan nanar, sementara di balik dinding, ia bisa mendengar isak tangis tertahan Sari yang mulai merambat melalui celah kayu, menciptakan resonansi yang membuat seluruh ruangan itu terasa mencekam. Tentakel masa lalu dan tarikan masa kini mulai mencekiknya secara bersamaan.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!