Lampu temaram dari lampu meja di sudut ruangan melemparkan bayangan panjang yang gemetar di atas dinding kayu yang kini tampak "c****". Papan tripleks baru yang dipasang Adrian sebagai penutup sementara lubang bekas korsleting itu terlihat kontras dengan kayu tua di sekelilingnya—seperti perban kasar di atas luka yang belum kering. Sari duduk di tepi ranjang, jemarinya meremas pinggiran sprei hingga buku-buku jarinya memutih.
Sunyi di kamar kos ini biasanya terasa seperti pelukan pelindung, namun malam ini, kesunyian itu terasa menuntut. Ia merasa seolah-olah mata Adrian masih mengintip dari balik sela-sela kayu, meskipun ia tahu pria itu berada di lant** bawah, mungkin sedang menyesap kopi hitamnya dengan tatapan dingin yang sulit diartikan.
"Ini hanya rutinitas, Sari. Kembali ke awal," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya terdengar asing di telinganya, serak dan tidak meyakinkan.
Dengan gerakan yang mekanis, ia membuka laci nakas yang terkunci rapat. Di sana, tergeletak perangkat ramping berwarna mawar metalik dengan aksen lampu LED biru yang berkedip lembut—teknologi mutakhir yang selama setahun terakhir menjadi 'sahabat' paling setianya. Alat itu adalah pelarian, pemberontakan kecilnya terhadap dunia yang menganggapnya layu sebelum berkembang.
Sari mematikan lampu utama. Dalam kegelapan yang hanya menyisakan pendar biru kecil, ia merebahkan diri. Jemarinya gemetar saat menekan tombol *power*. Getaran halus mulai merambat ke telapak tangannya, frekuensi yang biasanya mampu menghanyutkan segala beban pekerjaannya sebagai akuntan, segala komentar nyinyir tetangga tentang status lajangnya, dan segala kekosongan yang menggerogoti dadanya.
Ia memejamkan mata, mencoba memanggil fantasi yang biasa ia susun dengan rapi. Biasanya, ia membayangkan sebuah taman berkabut, atau pelukan tanpa wajah yang hanya menawarkan kehangatan tanpa tuntutan. Namun, malam ini, imajinasinya macet.
Setiap kali getaran itu menyentuh kulitnya, yang muncul justru bayangan wajah Adrian. Ia teringat bagaimana helai rambut pria itu jatuh di dahi saat ia memeriksa kabel yang terbakar. Ia teringat aroma maskulin yang samar—campuran antara kayu cendana dan bau tembakau tipis—yang tertinggal di kamarnya setelah Adrian pergi. Dan yang paling mengganggu, ia teringat suara bariton Adrian saat menawarkan 'eksperimen emosional' itu.
*“Kau menggunakan benda-benda ini karena kau takut terluka oleh manusia, Sari. Tapi benda mati tidak bisa memberikan resonansi. Ia hanya memantulkan apa yang kau miliki, bukan memberi sesuatu yang baru.”*
Sari mengerang pelan, mencoba menepis suara itu. Ia meningkatkan intensitas getaran alat tersebut. Stimulasi fisik itu seharusnya c**up. Secara biologis, saraf-sarafnya merespons. Napasnya mulai pendek, dan keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Namun, ada sesuatu yang salah. Ada jurang yang menganga di antara sensasi fisik yang memuncak dan hatinya yang terasa sedingin es.
Alat itu terasa... plastik. Dingin. Mati.
Biasanya, ia bisa menipu dirinya sendiri bahwa getaran ini adalah bentuk perhatian. Malam ini, ia hanya merasakan mesin yang bekerja di atas daging. Tidak ada detak jantung yang beradu, tidak ada napas hangat yang menyapu ceruk lehernya, tidak ada tatapan mata yang membuat jiwanya merasa 'dilihat'.
Sari membuka matanya dengan sentakan tiba-tiba. Ia menatap langit-langit kamar yang gelap. Alat di tangannya masih bergetar hebat, namun ia merasa sangat kosong, seolah-olah ia sedang mencoba mengisi sumur tanpa dasar dengan setetes air.
"Sial," umpatnya lirih. Air mata yang tidak diundang merembes dari sudut matanya.
Ia mematikan alat itu dengan kasar. Keheningan yang menyusul terasa lebih m****akkan telinga daripada sebelumnya. Getaran di tangannya masih tersisa sebagai sisa saraf yang terkejut, namun di dalam dadanya, ada kerinduan yang menyakitkan untuk sesuatu yang lebih nyata, sesuatu yang berisiko.
Ia menyadari dengan ngeri bahwa Adrian benar. Teknologi ini adalah benteng yang ia bangun untuk memenjarakan dirinya sendiri agar tidak perlu menghadapi ketidakpastian cinta. Tapi sekarang, benteng itu telah retak, persis seperti dinding kayunya.
Sari duduk tegak, mengatur napasnya yang masih berantakan. Ia melirik ke arah lubang di dinding yang ditutup tripleks itu. Di baliknya, ada dunia yang ditawarkan Adrian—dunia yang penuh dengan kemungkinan luka, namun juga kemungkinan untuk benar-benar merasa hidup.
Tiba-tiba, sebuah ketukan pelan terdengar dari balik dinding kayu itu. Bukan dari pintu depan, melainkan tepat dari arah papan tripleks yang baru dipasang. Ketukan itu berpola, tenang, namun penuh penekanan.
Sari menahan napas. Jantungnya berdegup jauh lebih kencang daripada saat ia menggunakan alat teknologinya tadi. Itu bukan getaran mesin. Itu adalah seseorang di sisi lain, menunggu sebuah jawaban.
"Sari?" suara Adrian terdengar rendah, hampir seperti bisikan yang merambat melalui serat kayu. "Kau masih terjaga? Aku tahu kau belum tidur."
Sari terpaku, tangannya masih memegang perangkat dingin itu, sementara seluruh tubuhnya mendambakan kehangatan yang baru saja memanggil namanya dari balik dinding. Ia menyadari, pilihan itu tidak bisa lagi ia tunda.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!