Soul Stream: Kontrak Maut Penonton Gaib

Bab 1: Bab 1 - Memperkenalkan kejatuhan karir Radit dan keputu...

Pengaturan Membaca

Lampu ring light yang biasanya berpijar terang menyilaukan mata kini hanya berkedip redup, seolah-olah sedang sekarat. Aku menatap pantulan diriku di layar monitor yang retak. Kantung mata menghitam, rambut lepek yang belum dicuci tiga hari, dan seringai tipis yang kupaksakan agar terlihat 'estetik'. Namun, angka di pojok kanan bawah layar tidak bisa menipu.

*Viewers: 12.*

Hanya dua belas orang. Setahun yang lalu, aku bisa mengumpulkan dua puluh ribu orang hanya dengan memamerkan s****an sereal di balkon apartemen mewah. Sekarang? Bahkan bot-bot spam pun tampak enggan mampir di kolom komentarku.

"Ayo guys, kalau tembus seribu viewers malam ini, gue bakal lakuin sesuatu yang g***," ucapku ke arah mikrofon, berusaha menjaga intonasi suaraku tetap ceria dan penuh energi. Padahal, perutku melilit perih karena hanya terisi sisa mie instan dingin sejak tadi pagi.

Sebuah dentuman keras di pintu apartemen membuatku tersentak. Kamera sempat bergoyang saat tanganku menyenggol tripod.

"Raditya! Buka pintunya! Kamu pikir bisa kabur lagi, hah?!" Suara serak Pak Broto, pemilik apartemen, menggelegar menembus kayu pintu yang tipis. "Tiga bulan menunggak! Malam ini kamu keluar, atau semua barang sampahmu ini saya buang ke selokan!"

Aku segera mematikan mikrofon agar penonton tidak mendengar keributan memalukan itu. Tanganku gemetar saat merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel yang layarnya dipenuhi notifikasi merah dari aplikasi pinjaman online. Tagihan menumpuk, bunga berbunga, dan teror pesan singkat yang mengancam akan menyebarkan dataku ke seluruh daftar kontak.

"Ba******," desisiku pelan. Aku menatap tumpukan perlengkapan *live streaming* yang menjadi satu-satunya hartaku yang tersisa. Kamera mirrorless, gimbal, lampu, dan beberapa power bank cadangan.

Aku kembali menyalakan mikrofon, wajahku berubah seratus delapan puluh derajat menjadi penuh karisma palsu. "Guys, sori ada gangguan teknis dikit. Dengar, malam ini adalah penentuan. Gue bakal pindah lokasi. Lokasi yang belum pernah berani didatangi kreator mana pun di negeri ini. Tempat di mana kematian bukan sekadar cerita, tapi tetangga sebelah."

Aku melihat angka viewers melonjak sedikit. Delapan belas. Dua puluh lima.

"Rumah Sakit Medika. Gue bakal *live* di sana satu jam lagi. Jangan berkedip, karena ini bakal jadi konten sejarah."

Aku segera mematikan siaran sebelum mereka sempat bertanya lebih banyak. Dengan terburu-buru, aku mema**kkan semua alat ke dalam ransel. Pak Broto kembali menggedor pintu, kali ini lebih keras, seolah ingin meruntuhkan seluruh dunia kecilku. Aku tidak punya waktu untuk berdebat. Aku melompat menuju jendela balkon lant** dua, mendarat di atas tumpukan sampah plastik dengan bunyi *debuk* yang tumpul, lalu berlari menuju motor matic-ku yang sudah mulai karatan.

Angin malam Jakarta menusuk hingga ke tulang saat aku memacu motor menuju pinggiran kota. RS Medika sudah terbengkalai selama lima belas tahun sejak ka**s malpraktik massal dan kebakaran misterius yang menewaskan puluhan pasien di dalam bangsal yang terkunci. Tempat itu adalah lubang hitam di tengah kota; sebuah monumen beton yang membusuk dan dijauhi manusia.

Sesampainya di depan gerbang berkarat yang dililit tanaman merambat, aku berhenti sejenak. Bau amis tanah basah dan sesuatu yang manis namun memuakkanβ€”seperti daging busuk yang disiram antiseptikβ€”langsung menyerang penciumanku.

Aku mengeluarkan ponsel, membuka sebuah aplikasi *streaming* baru bernama 'Soul Stream'. Aku menemukannya di forum gelap kemarin malam. Katanya, aplikasi ini memberikan komisi seribu kali lipat lebih besar dari platform biasa, asalkan kau berani menyajikan konten yang 'nyata'.

Logonya berbentuk mata yang menangis darah.

"Oke, Radit. Ini tiketmu kembali ke puncak," bisikku pada diri sendiri. Tanganku dingin saat menekan tombol *Go Live*.

Layar ponselku berkedip hijau sejenak sebelum menampilkan wajahku yang diterangi cahaya redup lampu jalan. Namun, ada yang aneh. Biasanya, saat memulai siaran, penonton akan ma**k satu per satu dari nol. Kali ini, angka viewers di pojok layar langsung melonjak dengan kecepatan yang tidak ma**k akal.

*1.000... 5.000... 12.000...*

"Halo, teman-teman semua! Selamat datang di Soul Stream bersama Raditya," ucapku, sedikit terkesima dengan angka yang terus meroket. "Gue sudah berada di depan gerbang neraka, RS Medika. Kalian siap melihat apa yang ada di dalam?"

Kolom komentar mulai bergulir, tapi aku tidak bisa membaca satu pun nama akun mereka. Semuanya hanya berupa rangkaian angka acak dan simbol aneh. Isinya pun seragam:

*Ma**k ke dalam.*

*Kami ingin melihat bagian dalamnya.*

*Tunjukkan luka itu.*

Tiba-tiba, sebuah notifikasi donasi muncul di tengah layar. Bentuknya bukan ikon koin atau bunga seperti di aplikasi sebelah. Ikonnya adalah sebuah kantong mayat yang terbuka.

*Seseorang memberikan donasi: Rp50.000.000*

Jantungku hampir melompat keluar dari dada. Lima puluh juta? Hanya untuk berdiri di depan gerbang? Ini g***. Ini pasti *prank* dari sultan yang sedang bosan.

"W-wow! Terima kasih buat anonim atas donasi fantastisnya!" teriakku histeris. Adrenalin dan keserakahan mulai membakar rasa takutku. "Oke, janji adalah janji. Kita ma**k sekarang!"

Aku memanjat gerbang besi yang dingin, merasakan karatnya menggores telapak tanganku. Begitu kakiku menapak di halaman rumah sakit yang dipenuhi ilalang setinggi pinggang, suasana mendadak sunyi. Suara bising kendaraan di kejauhan hilang seketika, digantikan oleh kesunyian yang menekan gendang telinga.

Aku mengarahkan kamera ke gedung utama yang menjulang seperti raksasa hitam dengan jendela-jendela pecah yang menyerupai mata-mata kosong.

*Ting!*

Notifikasi lain muncul. Kali ini pesannya berwarna merah darah.

*Tantangan Baru: Ma**k ke Ruang IGD dan temukan satu botol sisa darah. Hadiah: Rp500.000.000.*

Setengah miliar rupiah. Kepalaku berputar. Dengan uang itu, aku bisa melunasi semua hutang, membeli apartemen baru, dan kembali menjadi raja di media sosial. Aku tidak peduli lagi jika ini settingan atau bukan.

Aku melangkah maju, mendorong pintu kaca besar yang sudah retak. Suara decitan engselnya bergema panjang di koridor yang gelap gulita. Saat aku melintasi ambang pintu, sebuah hawa dingin yang tidak alami menyapu tengkukku, membuat bulu kudukku berdiri kaku.

Aku menoleh ke belakang, berniat memastikan pintu tetap terbuka agar aku bisa lari jika terjadi sesuatu. Namun, napas menyangkut di tenggorokan.

Pintu kaca itu tidak hanya tertutup. Pintu itu kini tertutup oleh dinding beton yang solid, seolah-olah pintu ma**k itu tidak pernah ada. Di layar ponselku, angka viewers menyentuh angka satu juta, dan komentar-komentar itu berhenti bergerak, menyisakan satu kalimat yang berulang-ulang memenuhi layar:

*Selamat datang di meja operasi, Raditya. Kami sudah lama menunggumu.*

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca